Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts
Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts

Legenda Candi Prambanan dan Kisah Balong Keramat Darma Loka, Kuningan(Edisi Ziarah Wali Allah Kuningan, Jawa Barat)


Situs peninggalan leluhur Nusantara banyak dikaitkan dengan kisah legenda bagaimana pembuatan bangunan tersebut. Salah satunya legenda yang berkaitan dengan Candi Prambanan. Kisah pembangunan Candi Prambanan di Yogyakarta yang dibuat hanya semalam oleh Bandung Bondowoso demi memenuhi sayembara Rara Jongrang. Sang pujaan hati yang cantik jelita, Rara Jongrang mensyaratkan kepada Bandung Bondowoso untuk membuat 1000 candi dalam semalam. 

Legenda tentang asal muasal terbuatnya Candi Prambanan yang berkaitan dengan Rara Jongrang dan Bandung Bondowoso tetap kita dengar hingga kini. Pada sejarahnya Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar dan termegah yang pernah dibangun di Jawa kuno, pembangunan candi Hindu kerajaan ini dimulai oleh Rakai Pikatan untuk menandai kembali berkuasanya keluarga Sanjaya atas Jawa. Bangunan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dan secara berkelanjutan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu.  


Di Kuningan, Jawa Barat terdapat legenda yang menceritakan tentang pembuatan sebuah kolam yang dibuat dalam waktu semalam yaitu kolam Darmaloka. Situs peninggalan leluhur, Balong keramat Darma Loka tersebut didibangun oleh seorang utusan Sunan Gunung Jati bernama Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan sekitar tahun 1670 Masehi.

Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan adalah waliyuallah yang dimakamkan di situs kolam Darmaloka, Kuningan, Jawa Barat. Dikisahkan Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan membuat lima balong di kawasan Darma Loka dalam kurun waktu satu malam saja. Ke lima Balong tersebut adalah Balong ageung, Balong Bangsal, Balong Beunteur Balong Bale Kambang dan Sumber Air Cibinuang. 


Selain dibangun hanya dalam waktu satu malam, situs peninggalan Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan memiliki tata letak taman air yang indah dan penuh unsur filosifis yang tinggi. Hal ini karena Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan selain dikenal sebagai seorang ulama besar, beliau adalah seorang ahli arsitektur yang handal. Hal ini terbukti dengan keberhasilannya membangun kolam Darmaloka yang indah yang apabila dilihat dari atas susunan lima kolam tersebut jika dihubungkan membentuk lafadz “Muhammad”. 

Balong keramat Darma Loka bukanlah sebuah legenda semata tetapi adalah bukti karamah dari wali Allah Kuningan, Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan. 

Makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan di Balong Keramat,Darma Loka (Edisi Wisata Ziarah Wali Allah Kuningan, Jawa Barat)

Pintu Gerbang Masuk Makam Syech Rama Haji Irengan
atau Mama Haji Irengan di Balong Keramat, Darma Loka, Kuningan

Perjalanan ke Kuningan hanya 30 menit bila dari Cirebon. Tujuan kami satu yaitu mengunjungi makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan. Letak makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan terletak di Darma loka, Kuningan. Sudah lama kami ingin mengunjungi Beliau. Niat itu muncul ketika awal tahun 2014 kami naik ke salah satu puncak Gunung Ceremai, Kuningan. Kami melihat adanya kolam disitu ketika kami bertanya kepada guide yang menyertai kami naik ke Gunung Ceremai, ia mengatakan itu adalah Balong Keramat, Darma loka dimana dimakamkan wali Allah Kuningan, Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan.

Kami mengunjungi makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan pada minggu 22 November 2014. Ketika itu pagi hari pukul 11 kami tiba dan keadaan masih sepi, turun hujan rintik perlahan. Ketika turun, kita akan segera dikerubung penjual roti pandan hijau. Ibu - ibu penjual roti pandan hijau menawarkan dagangan dengan mengatakan ini untuk makan ikan. Memang di Darma loka tempat Mama Haji Irengan dimakamkan terdapat kolam ikan yang memiliki sejarah tersendiri.

Pintu Masuk Makam  Syech Rama Haji Irengan
atau Mama Haji Irengan di Balong Keramat, Darma Loka, Kuningan

Untuk dapat masuk ke lokasi Darma loka kita diharuskan membayar tiket masuk seharga Rp. 5.000 per orang. Kemudian kuncen makam sudah menunggu di pintu masuk. Beliau akan mengantarkan kita ke lokasi makam dan membukakan pintu makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan. Harap berhati - hati ketika naik tangga menuju makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan. Karena jalanan licin akibat ditumbuhi lumut. 

Makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan sangat berwibawa dengan susunan batu sederhana yang masih terjaga keasliannya. Agar terjaga, nisan makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan ditutup dengan kain putih. Terdapat dua makam di lokasi makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan, makam Beliau berada di sisi kiri sedangkan makam di sisi kanan adalah makam sahabat beliau.

Makam  Syech Rama Haji Irengan
atau Mama Haji Irengan di Balong Keramat, Darma Loka, Kuningan
Dalam satu tulisan yang diunggah oleh AnNiza tentang Situs Sejarah dan Wisata Situs Balong Keramat Darma loka terdapat lima makam keramat di Situs Darma Loka selain makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan yaitu :

1. Makam Syech Rama Haji Irengan atau 
    Mama Haji Irengan

2. Makam sahabat Syech Rama Haji Irengan atau 
    Mama Haji Irengan (terletak di samping kanan 
    makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama 
    Haji Irengan

3. Makam Rama Bukit

4. Makam Putri Sri Kuning

5. Makam Putri Sri Kembang

Peranan Wali Allah Depok, Lie Suntek atau Santri Bethot atau Ki Kuning dalam perjuangan Islam memerangi kolonialisme Belanda dan keturunannya dalam dakwah Islam (Edisi Mencari Jejak Wali Allah dan Tempat Bersejarah di Depok, Jawa Barat)

Pribahasa Tak Kenal Maka Tak Sayang memang benar adanya ketika kita melihat Kota Depok yang seakan melupakan para pejuang Islam, Waliyuallah yang dimakamkan di daerah Depok. Salah satunya adalah tokoh Lie Suntek atau Santri Bethot atau Ki Kuning yang dimakamkan di keramat Poncol Rt. 03 RW 05 Kelurahan Cilangkap Kecamatan Tapos Kota Depok, Jawa Barat di sekitar Mata Air Kali Sunter.

Kondisi makam yang sederhana dan ketidaktahuan masyarakat sekitar mengenai pejuang Islam yang dimakamkan, sangat disayangkan. Tokoh yang terlalu penting untuk dilupakan ini adalah Lie Suntek atau Santri Bethot atau Ki Kuning yang pernah dibuang bersama Syech Yusuf al Makassari oleh penindas Kolonial Belanda.

Kondisi Makam pejuang Islam, Santri Bethot atau Lie Suntek atau Ki Kuning

Raden Santri Bethot ( Lie Suntek ) adalah alah satu komandan pasukan Banten divisi Syech Yusuf Makassar. Beliau adalah putra Panji Wanayasa Jatijajar dari ibu seorang keturunan China. Lie Suntek adalah cicit Panembahan Senopati dari Putri Pembayun yang dimakamkan di Kebayunan Tapos Depok, Ki Panji Wanayasa yang juga ayah dari Mbah Arif Maulana di Leles, Garut dan Syech Abdul Muhyi di Pamijahan Tasikmalaya, Jawa Barat.

Pasukan khusus Lie Suntek atau Santri Bethot berjuang menyelamatkan harta kerajaan Banten di tahun 1682, salah satu penyebab digalinya setu setu di Depok dan Bogor oleh pasukan VOC dalam rangka mencari harta karun kerajaan Banten berdasarkan laporan sandi bahwa Santri Bethot telah menyembunyikan berpeti peti harta karun milik Banten di Wilayah Tapos Depok dan sekitarnya.

Makam  Lie Suntek atau Ki Kuning atau Santri Benthot

Lokasi makam dari Lie Suntek adalah di sekitar sumber mata air Kali Sunter yang kemudian mengalir hingga wilayah Jakarta Timur dan Utara (terkenal dengan Sunter Podomoro atau Danau Sunter di wilayah Ancol). Abu Ammar di blog beralamatkan sahabat prabowo berpendapat terdapat kemungkinan yang sangat besar bahwa nama kali Sunter sangat besar berasal dari nama Lie Suntek ini.

Begitu pentingnya Lie Suntek ini sehingga Kota Depok harus menghargai juga karena cucu Beliau dari putrinya Fatimah Hwu yang bersuamikan Chan Tsin Hwa mendirikan masjid pertama yang didirikan bagi masyarakat peranakan China Muslim di Glodok. Tuan Tschoa (Kapten Tamien Dosol Seeng ) adalah cucu Lie Suntek yang mendirikan Masjid Jami Kebon Jeruk, Glodok, Jakarta Barat.

Wajah Masjid Jami Kebon Jeruk, Grogol, Jakarta Barat
yang dibangun oleh Cucu dari Lie Suntek sebelum dipugar

Kota Depok sangat berpotensi sebagai Destinasi Wisata Religi (Edisi Jejak Waliyuallah Lie Suntek atau Santri Bethot, Depok, Jawa Barat)


Daerah di sekitar Makam Lie Suntek, Tapos, Depok, Jawa Barat

Ketika kita hendak berpergian berwisata religi untuk berziarah dan mengenal sosok wali Allah di sebuah daerah yang dikenal dengan makam walinya seperti Kudus, Demak atau bahkan di Pulau Bali, kita dipermudah dengan banyaknya informasi yang lengkap mengenai lokasi makam dan sejarah perjuangan wali tersebut. Tidak jarang banyak jasa tour travel yang mengatur perjalanan wisata ziarah wali tersebut.

Bila kemudian ketika kita memutuskan sendiri untuk mencari makam wali Allah di daerah yang terkenal akan makam wali tersebut, kita bertanya pada penduduk sekitar dengan mudah mereka akan mengerti dan menunjukkannya kepada kita. Tetapi sangat berbeda dengan Kota Depok. Kota yang dikenal dengan kota pelajar karena banyak terdapat perguruan tinggi (Universitas Indonesia salah satunya), sangat sedikit sekali memiliki informasi mengenai tokoh pejuang Islam yang dimakamkan di Kota Depok. Padahal Kota Depok sangat berpotensi sebagai destinasi wisata religi.


Pusara Suci wali Allah yang dimakamkan di sekitar mata air kali Sunter
Lie Suntek atau Ki Kuning atau Santri Bethot

Salah satunya adalah sosok Lie Suntek, pejuang Islam yang dimakamkan di keramat Poncol Rt. 03 RW 05 Kelurahan Cilangkap Kecamatan Tapos Kota Depok di sekitar Mata Air Kali Sunter. Beliau dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Ki Kuning. Mbah Dalem Kuning Lie Suntek adalah Putra Panji Wanayasa yang beristrikan seorang Cina Batavia. 

Lie Suntek alias Santri Bethot yang menjadi salah satu penasehat khusus dan bendaharawan Kerajaan Banten pada tahun 1682. Menurut blog historischen berpeti peti harta kerajaan Banten diduga disembunyikan oleh pasukan santri Bethot disepanjang aliran kali Sunter. 


Pepaya Spesial dengan dahan yang lebih dari satu batang
di sekitar mata air Kali Sunter

Lie Suntek adalah Ki Kuning, wali Allah pejuang Islam yang Dimakamkan di Depok (Edisi Mencari Jejak Wali Allah dan Tempat Bersejarah di Depok, Jawa Barat)

Dalam menelusuri jejak peninggalan sejarah di Kota Depok, Jawa Barat nama Lie Suntek adalah salah satu nama yang memegang peranan penting dalam sejarah yang dimakamkan di Depok. Berbekal informasi yang didapat dari tiga blog yang terlebih dahulu telah memberikan informasi yang sangat berharga mengenai wali Allah, Lie Suntek yaitu blog pahlawan kali sunter, padepokan depok dan historischen.

Jalan menuju ke Makam Lie Suntek, wali Allah Depok, Jawa Barat

Berbekal dari alamat yang diberikan di tiga blog tersebut kamipun menelusuri Rt. 03 RW 05 Kelurahan Cilangkap Kecamatan Tapos Kota Depok di sekitar Mata Air Kali Sunter. Sangat sulit ketika kami bertanya kepada penduduk sekitar mengenai petunjuk lokasi makam Lie Suntek. 

Pusara Lie Suntek atau Mbah Dalem Kuning, Keramat Poncol Depok Jawa Barat


Bersyukur ketika bertanya kepada seseorang Beliau mau menjelaskan arah bahkan mengantarkan kami ke sebuah makam. Ia tidak tahu bahwa makam tersebut adalah makam Lie Suntek yang diketahui adalah makam Ki Kuning yang keramat. Tanpa papan nama dan nisan, makam wali Allah, pejuang Islam ini tampak bersahaja.

Penduduk sekitar mengatakan banyak sekali ketika malam jumat orang yang datang. Tetapi ketika ditanya kepada mereka siapakah tokoh yang dimakamkan di sini mereka hanya mengetahui bahwa beliau adalah Ki Kuning. Dari blog pahlawan kali sunterlah disebutkan nama lengkap dari wali Allah Depok yaitu Mbah Dalem Kuning Lie Suntek yang dimakamkan di tepi mata air Kali Sunter, Cilangkap Tapos Depok. Yang hingga kini masyarakat lebih mengenalnya dengan Ki Kuning. 

Makam kuno di sekitar Makam Lie Suntek atau Ki Kuning, Depok Jawa Barat

Menurut sejarah bahwa waliyuallah Depok Lie Suntek adalah pemimpin pasukan khusus Banten diwilayah Cilangkap Tapos Depok melawan VOC pada 1682. Mbah Dalem Kuning Lie Suntek merupakan pengawal Ambo Mayangsari , istri Pangeran Mahkota Banten, Pangeran Purbaya (putra Sultan Ageng Tirtayasa Banten). Nyai Ambo Mayangsari masih keturunan dari Ki Kartaran atau Purwagalih keturunan Prabu Siliwangi. Peranan Ambo Mayangsari dalam peperangan Banten dengan VOC sangat vital, sebab beliaulah yang mengatur logistik dan pengadaan dana pelarian.

Aria Wangsa Goparana dalam Perannya Melakukan Proses Islamisasi di Jawa Barat (Edisi Ziarah Wali Subang)

Jalan Menuju Makam Aria Wangsa Goparana
yang sangat asri dan hijau

Wali Allah yang dimakamkan di Subang, Aria Wangsa Goparana dikenal karena jasa beliau memperkenalkan Islam di tanah Sunda.

Edi S Ekajati dalam blog sundaislam.wordpress.com mengatakan seiring dengan ekspedisi militer dari Demak dan Cirebon, penduduk pelabuhan Banten, Kelapa, dan sekitarnya mulai berkenalan dengan agama Islam secara intensif dan menyeluruh pada tahun 1526 dan 1527 (Djajadiningrat, 1983:81-82).

Pada tahun 1546 di Banten dan Cirebon telah berdiri kekuasaan Islam dan sepanjang sejarah pesisir utara Jawa Barat agaknya telah didominasi oleh kekuasaan dan suadagar Islam (Djajadiningrat, 1983:84-86). Arsitek dan pendiri kekuasaan Islam di Cirebon dan Banten adalah Susuhunan Djati, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Djati.

Nisan Aria Wangsa Goparana

Menurut Pangeran Arya Cirebon, sejak 1528 Susuhunan Djati berupaya pula memperkenalkan agama Islam terhadap Masyarakat pedalaman tanah Sunda (Jawa Barat). Ia mendatangi daerah pedalaman, seperti Kuningan, Sindangkasih, Talaga, Luragung, Ukur, Cibalagung, Pagadingan, Indralaya, Batulayang, dan Timbanganten. Upaya ini dilanjutkan oleh tokoh lain, menurut tradisi setempat, seperti Pangeran Makhdum di daerah Pasir Luhur (Ciamis Timur), Syeikh Abdul Muhyi di daerah Pamijahan (Tasikmalaya Selatan), Pangeran Santri di daerah Sumedang, Aria Wangsa Goparana di daerah Subang dan kemudian Cianjur oleh putranya (Aria Wiratanudatar).

Model lembaga pengajaran yang didirikan oleh Susuhunan Djati Cirebon, ditempuh pula oleh Aria Wangsa Goparana di Subang. Yaitu dengan mendirikan pusat kegiatan pendidikan Islam di bukit Sagalaherang. Ia menjadi guru agama Islam.

Di situlah Aria Wangsa Goparana mengajarkan seluk beluk ajaran Islam kepada kaum muslimin yang bermukim di daerah itu. Kegiatan tersebut melahirkan ulama-ulama Islam yang kemudian membuka kegiatan serupa di berbagai tempat di tanah Sunda untuk membimbing umat Islam generasi pertama di daerahnya masing-masing.

Bangunan Makam Aria Wangsa Goparana

Makam waliyuallah Subang, Aria Wangsa Goparana terletak di Komplek makam keramat Nangka Beurit di Sagalaherang kaler, kecamatan Sagalaherang, Subang, Jawa Barat. Setiap hari peziarah dapat berziarah ke Makam Aria Wangsa Goparana kecuali Jumat setelah pukul 14.00 hingga Sabtu pukul 18.00.

Rute yang dapat ditempuh untuk berziarah ke Aria Wangsa Goparana adalah dengan mengambil arah lembang - jalan Tangkuban Perahu lurus saja, kemudian pada perempatan Sari Ater belok ke kiri (kebun Teh).

Ketika tiba di perempatan ( disebelah kiri terdapat masjid, dikanan lapangan) lurus saja hingga terdapat papan bertuliskan komplek makam Nangka Beurit.

Komplek Makam Aria Wangsa Goparana di Sagalaherang, Subang, Jawa Barat (Edisi Ziarah Makam Wali Subang)

Mushola Al Ikhlash yang terdapat
di Komplek Makam Aria Wangsa Goparana

Berziarah ke makam wali Allah Subang, Aria Wangsa Goparana pada sabtu 18.00 Februari 2014 memberikan kesan yang sangat luar biasa.

Sebelum berziarah, kami melaksanakan sholat Magrib dimushola al Ikhlas di kawasan makam waliyuallah Subang, Aria Wangsa Goparana. Air wudhu diambil dari sumur tak bernama, yang kata juru kunci makam tersebut telah ada sejak dulu dan tak pernah kering.

Pak Ami, juru kunci makam Aria Wangsa Goparana mengatakan sumur itu disebut sumur nangka beurit karena nama komplek makam tersebut.

Sumur Nangka Beurit

Memasuki makam Aria Wangsa Goparana, angin sejuk dan kekhusyukan tercipta. Makam berada pada bangunan cungkup permanen dengan atap tumpang dari bahan genting. Pintu masuk cungkup berada di sisi timur. Pada dinding sisi utara, barat, dan selatan terdapat jendela kaca.

Nisan makam dibungkus kain putih sehingga bentuknya sulit diketahui. Seluruh bangunan di kompleks makam ini merupakan bangunan baru yang pemugarannya dilaksanakan pada 25 Maret 1984 dan peresmiannya pada 27 Mei 1984.

Bangunan Cungkup Makam Aria Wangsa Goparana

Makam waliyuallah Subang, Aria Wangsa Goparana terletak di Komplek makam keramat Nangka Beurit di Sagalaherang kaler, kecamatan Sagalaherang, Subang, Jawa Barat. Setiap hari peziarah dapat berziarah ke Makam Aria Wangsa Goparana kecuali Jumat setelah pukul 14.00 hingga Sabtu pukul 18.00.

Rute yang dapat ditempuh untuk berziarah ke Aria Wangsa Goparana adalah dengan mengambil arah lembang - jalan Tangkuban Perahu lurus saja, kemudian pada perempatan Sari Ater belok ke kiri (kebun Teh).

Ketika tiba di perempatan ( disebelah kiri terdapat masjid, dikanan lapangan) lurus saja hingga terdapat papan bertuliskan komplek makam Nangka Beurit.

Ayahanda Wali Allah Cianjur, Aria Wiratanudatar Dalem Cikundul, AriaWangsa Goparana (Edisi Ziarah Wali Allah Subang)

Makam Aria Wangsa Goparana

Sejarah mengenai wali Allah di Subang, Aria Wangsa Goparana dikenal melalui anak beliau yang juga waliyuallah di Cianjur, Aria Wiratanudatar dalem cikundul. Begitu yang ditulis pada majeliscintarasul.blogspot.com.


Catatan sejarah dan cerita yang berkembang ditengah-tengah masyarakat, tahun 1529 kerajaan Talaga direbut oleh Cirebon dari Negara Pajajaran dalam rangka penyebaran agama Islam, yang sejak itu, sebagian besar rakyatnya memeluk agama Islam.

Sunan Ciburang yang merupakan Raja Talaga memiliki putra bernama Aria Wangsa Goparana. Beliau merupakan orang pertama yang memeluk agama Islam. Atas perintah guru beliau, Sunan Gunung Jati, Aria Wangsa Goparana meninggalkan keraton Talaga dan pergi menuju Sagalaherang untuk berdakwah.

Persawahan di Sagalaherang, lokasi makam Nangka beurit

Di Sagalaherang, mendirikan Negara dan pondok pesantren untuk menyebarkan agama Islam ke daerah sekitarnya. Pada akhir abad 17. ia meninggal dunia di Kampung Nangkabeurit, Sagalaherang dengan meninggalkan dua orang putra-putri, yaitu. DJayasasana, Candramang-gala, Santaan Kumbang. Yu-danagara. Nawing Candradi-rana, Santaan Yudanagara, dan Nyai Mas Murti.Aria Wangsa Goparana, menurunkan para Bupati Cianjur yang bergelar Wira Tanu dan Wiratanu Datar serta para keturunannya.

Makam waliyuallah Subang, Aria Wangsa Goparana terletak di Komplek makam keramat Nangka Beurit di Sagalaherang kaler, kecamatan Sagalaherang, Subang, Jawa Barat. Setiap hari peziarah dapat berziarah ke Makam Aria Wangsa Goparana kecuali Jumat setelah pukul 14.00 hingga Sabtu pukul 18.00.

Makam Karomah Aria Wangsa Goparana
Tutup Jumat Jam 14.00 dan buka kembali Sabtu jam 18.00

Rute yang dapat ditempuh untuk berziarah ke Aria Wangsa Goparana adalah dengan mengambil arah lembang - jalan Tangkuban Perahu lurus saja, kemudian pada perempatan Sari Ater belok ke kiri (kebun Teh).

Ketika tiba di perempatan ( disebelah kiri terdapat masjid, dikanan lapangan) lurus saja hingga terdapat papan bertuliskan komplek makam Nangka Beurit.

Leluhur Orang Sunda yang Sholeh, Aria Wangsa Goparana (Edisi ZiarahWaliyuallah Subang)

Plang Makam di Gerbang Kedua menuju
Makam Aria Wangsa Goparana

Kota Subang tidak hanya terkenal dengan nanas Subang tetapi juga sebagai tempat destinasi ziarah wali Allah di Jawa Barat. Siapakah leluhur orang Sunda, wali Subang yang ramai diziarahi tersebut, ialah Arya Wangsa Goparana. Beliau merupakan tokoh penting dalam menyebarkan agama Islam di Jawa Barat.

Arya Wangsa Goparana adalah putera Sunan Wanaperi, raja kerajaan Talaga. Di Talaga, Arya Wangsa Goparana merupakan orang pertama yang memeluk Islam. Ketika itu ia mendapat pelajaran dari Sunan Gunungjati.

Ruangan Khusus yang dapat digunakan untuk ziarah rombongan
di Makam Aria Wangsa Goparana

Pada tahun 1530 ia mengadakan perjalanan ke arah barat dalam rangka menyebarkan agama Islam. Wilayah yang diislamkannya meliputi Subang, Pagaden, Purwakarta, Cianjur, Sukabumi, dan Limbangan. Ketika itu kawasan ini merupakan wilayah kerajaan Sumedang Larang.

Arya Wangsa Goparana menurunkan lima orang putera yaitu Entol Wangsa Goparana, Wiratanudatar, Yudanegara, Cakradiparana, dan Yudamanggala. Putera Arya Wangsa Goparana ini kemudian menyebar ke daerah Limbangan, Cijegang (Cikalongkulon), Cikundul dan tempat-tempat lain.

Di tempat yang baru, keturunan Arya Wangsa Goparana banyak yang menjadi orang penting seperti bupati dan ulama besar. Salah satunya adalah Raden Aria Wiratanudatar yang dikenal dengan Raden Aria Wiratanudatar Dalem Cikundul di Cianjur.

Raden Aria Wiratanudatar Dalem Cikundul adalah penyebar Islam sekaligus Bupati Cianjur pertama. Beliau dimakamkan di Kampung Cijagang, Desa Majalaya Kecamatan Cikalong Kulon Kabupaten Cianjur. Makam Raden Aria Wiratanudatar Dalem Cikundul sama seperti makam Ayahnya, Aria Wangsa Goparana selalu ramai diziarahi.

Nisan Leluhur Sunda yang sholeh, Aria Wangsa Goparana

Makam waliyuallah Subang, Aria Wangsa Goparana terletak di Komplek makam keramat Nangka Beurit di Sagalaherang kaler, kecamatan Sagalaherang, Subang, Jawa Barat. Setiap hari peziarah dapat berziarah ke Makam Aria Wangsa Goparana kecuali Jumat setelah pukul 14.00 hingga Sabtu pukul 18.00.

Rute yang dapat ditempuh untuk berziarah ke Aria Wangsa Goparana adalah dengan mengambil arah lembang - jalan Tangkuban Perahu lurus saja, kemudian pada perempatan Sari Ater belok ke kiri (kebun Teh).

Ketika tiba di perempatan ( disebelah kiri terdapat masjid, dikanan lapangan) lurus saja hingga terdapat papan bertuliskan komplek makam Nangka Beurit.

Siapakah wali Subang Arya Wangsa Goparana ? (Edisi Ziarah WaliyuallahSubang)

Gerbang Pertama Makam Wali
Raden Arya Wangsa Goparana

Sudah dua kali kami mengunjungi Komplek makam keramat Nangka Beurit di Sagalaherang kaler, kecamatan Sagalaherang, Subang, Jawa Barat untuk dapat berziarah ke Makam Aria Wangsa Goparana.

Tetapi dalam dua kali kunjungan tersebut tidak dapat berziarah karena adanya waktu larangan berziarah ke Makam Aria Wangsa Goparana. Sehingga komplek makam keramat nangka beurit ditutup pada Jumat siang hingga sabtu malam jam 18.00. Sehingga ziarah baru dapat dilakukan pada kali ketiga kedatangan kami.

Makam Aria Wangsa Goparana

Menurut penduduk sekitar makam waliyuallah Subang, Aria Wangsa Goparana selalu ramai diziarahi oleh peziarah dari dalam dan luar kota Subang. Waktu ziarah yang ramai adalah ketika malam jumat (kamis malam) dan malam minggu (sabtu malam).

Siapakah wali Subang yang ramai diziarahi tersebut, ialah Arya Wangsa Goparana. Beliau merupakan tokoh penting dalam menyebarkan agama Islam di Jawa Barat.

Arya Wangsa Goparana adalah putera Sunan Wanaperi, raja kerajaan Talaga. Di Talaga, Arya Wangsa Goparana merupakan orang pertama yang memeluk Islam. Ketika itu ia mendapat pelajaran dari Sunan Gunungjati.

Pada tahun 1530 ia mengadakan perjalanan ke arah barat dalam rangka menyebarkan agama Islam. Wilayah yang diislamkannya meliputi Subang, Pagaden, Purwakarta, Cianjur, Sukabumi, dan Limbangan. Ketika itu kawasan ini merupakan wilayah kerajaan Sumedang Larang.

Pak Ami, juru kunci Makam Aria Goparana

Rute yang dapat ditempuh untuk berziarah ke Aria Wangsa Goparana adalah dengan mengambil arah lembang - jalan Tangkuban Perahu lurus saja, kemudian pada perempatan Sari Ater belok ke kiri (kebun Teh).

Perjalanan menuju makam Aria Wangsa Goparana tidaklah jauh dari lembang,Bandung. Hanya 30 menit itupun karena kondisi jalanan sempit dan berlubang. Ketika tiba di perempatan ( disebelah kiri terdapat masjid, dikanan lapangan) lurus saja hingga terdapat papan bertuliskan komplek makam Nangka Beurit.