Ario Dillah atau Aryo Damar waliyuallah Palembang penghubung sejarah Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Galuh (Jelajah Sejarah wali Allah Palembang, Sumatra Selatan

Makam waliyuallah Palembang, Aryo Dillah atau Ario Damar

Makam Aryo Dillah atau Ario Damar di Jalan Ario dillah palembang tampak terbengkalai. Banyak sampah disekitarnya dan nampak tak pantas bagi seorang waliyuallah sholeh dan seseorang yang ayah yang melahirkan keturunan yang menjadi penguasa penting di negeri ini. 

Untuk memahami siapakah wali Allah yang dimakamkan di Palembang ini ,Agus Sunyoto, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya Malang menuliskan Aryo Dillah atau Aryo Damar sangat penting dalam mempelajari peristiwa setelah perang bubat. 

Agus Sunyoto yang dikutip dalam blog serbasejarah.wordpress dalam memahami keturunan sunda yang juga menjadi raja di Majapahit kita harus melihat silsilah genealogi keturunan Aria Damar atau Aryo Dillah, Adipati Palembang. Dalam semua historiografi Jawa, disebutkan bahwa Aria Damar adalah putra Sri Prabu Kertawijaya dengan seorang perempuan bernama Endang Sasmitapura.

Makam Ario Damar atau Aryo Dillah di Jalan Aria Damar 3 Palembang

Aria Damar atau Aryo Dillah dibesarkan oleh ibu dan uwaknya, Ki Kumbarawa di pertapaan Wanasalam (nama hutan di selatan Majapahit). Selama menjalankan tugas sebagai panglima perang Majapahit, Aria Damar dikisahkan memiliki empat istri yaitu :

1. Sagung Ayu Tabanan.
Dari istri Sagung Ayu Tabanan, Aria Damar atau Aryo Dillah memiliki putra bernama Arya Jasan yang menurunkan raja-raja Tabanan di Bali. 

2. Wahita
Dari istri bernama Wahita, Aria Damar atau Aryo Dillah memiliki putra bernama Arya Menak Sunaya yang menurunkan raja-raja Madura. 

3. Nyi Sahilan
Dari istri bernama Nyi Sahilan, Aria Damar atau Aryo Dillah memiliki putra bernama Raden Sahun atau Pangeran Pandanarang yang menurunkan bupati-bupati Semarang dan Sunan Tembayat. Nyi Sahilan adalah putri Syarif Husin Hidayatullah. 

Melalui ikatan pernikahan inilah ria Damar atau Aryo Dillah menyiarkan Islam sampai kr daerah Siguntang, Prabumulih dan Meranjat. Syarif Husin Hidayatullah diangkat menjadi menak (bangsawan) Palembang.

4. Retno Subanci
Dari istri Cina bernama Retno Subanci, Retno Subanci lahir putra bernama Raden Kusen yang setelah dewasa menjadi Adipati Terung yang menurunkan bupati-bupati di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. 

Waliyuallah besar yang rendah hati, Ario Damar atau Aryo Dillah)

Dalam silsilah genealogi keturunan Aria Damar diperoleh penjelasan tentang kakek Aria Damar dari pihak ibu, yang bernama Kaki Palupa. Siapakah Kaki Palupa? Dalam cerita lisan dituturkan bahwa Kaki Palupa adalah seorang kepala prajurit Sunda yang selamat dari peristiwa pembunuhan Bubat karena memiliki ilmu bhairawa. 

Kaki Palupa dikisahkan tinggal di hutan Wanasalam dan mendirikan pertapaan di sana. Dari pernikahan Kaki Palupa dengan Nyi Palupuy, lahir Ki Kumbarawa dan Endang Sasmitapura. 

Ariodillah, Waliyuallah Palembang yang berjasa tetapi terlupa (Ziarah Wali Allah Palembang, Sumatera Selatan)


Kota Palembang terkenal dengan makanan khasnya Pempek, jembatan yang menghubungkan sungai Musi yaitu Jembata Ampera bahkan designer dan blogger fashion hijab, Dian Pelangi berasal dari kota ini. Palembang saat ini merupakan salah satu kota pusat perdagangan di Sumatra.

Dalam sejarah kota Palembang merupakan ibu kota kerajaan bahari Buddha terbesar di Asia Tenggara pada saat itu, Kerajaan Sriwijaya, yang mendominasi Nusantara dan Semenanjung Malaya pada abad ke-9. Oleh sebab itu Palembang mendapat julukan "Bumi Sriwijaya". Di dunia Barat, kota Palembang juga dijuluki Venice of the East ("Venesia dari Timur").


Makam Wali Allah besar asal Palembang, Ario Damar atau Aryo Dillah

Kesultanan Palembang Darusalam mulai berdiri sejak kedatangan Ariodamar, ke Palembang setelah hijrah dari Jawa. Di Palembang, ia mengetahui ternyata Palembang tidak tunduk kepada Majapahit, di Palembang kala itu terdapat 4 penguasa antara lain Sultan Mughni. Ario Damar kemudian masuk Islam dan mengawini anak Sultan Mughni. Ariodamar berganti nama menjadi Ariodillah atau Ario Abdillah, dan kemudian menjadi penguasa Palembang. Ariodillah memerintah dari tahun 1455-1486.

Ariodillah adalah waliyuallah dari Palembang yang menyebarkan agama Islam di Sumatra. Beliau hidup satu era dengan Syech Qura (Kerawang) dan Jumadil Kubra (Mojokerto). Ariodillah merupakan sosok yang berpengaruh terhadap hubungan Palembang dan Jawa. Makam beliau yang terletak di Jalan Ario Damar III berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Melihat bagaimana seorang wali Allah soleh yang sangat berjasa bagi Palembang ini diperlakukan sungguh menyedihkan.