Kata mutiara dari Buya Hamka (1908 - 1981)



Menceritakan kembali mengenai kisah hidup Buya Hamka tak akan pernah ada habisnya. Ulama yang serba bisa ini berbeda dari ulama "modern" sekarang ini karena Beliau tidak hanya aktif muncul berdakwah tetapi juga membuahkan karya berupa buku. Tercatat 115 karya Buya Hamka yang dipublikasikan dalam 73 tahun hidupnya ( 17 Februari 1908 - 24 Juli 1981). Karya Buya Hamka meliputi berbagai bidang keilmuan, seperti pendidikan, tasawuf, filsafat, tafsir, akhlak, sejarah dan roman. 

Buya Hamka menjadi wartawan, penulis, editor, dan penerbit dimulai tahun 1920-an. Awalnya Buya Hamka menjadi wartawan di beberapa surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Buya Hamka kemudian menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat di tahun 1928. 

Pada 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Buya Hamkapun pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam. Tanpa koneksi internet dan gadget canggih di kondisi perang dan prihatin, seorang Buya Hamka mampu berkarya tanpa henti. 

Roman karya Buya Hamka berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura. 

Kata mutiara dari Buya Hamka:

"Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, Kera juga bekerja" 

"Janganlah takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah mencoba melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita mendapat pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah kedua." 

ikhtisar dan semangat Buya Hamka melakukan semuanya sehingga Beliau menjadi ulama serba bisa. 

Ooh, Malu aku padamu, yaa Buya Hamka. 

Istana Kaibon, Peninggalan Waliyuallah Banten

Menelusuri sejarah waliyuallah di Banten membuatku sungguh kagum. Mereka tidak hanya membangun sebuah padepokan tetapi juga mereka membangun sebuah sistem pemerintahan Islam yang lengkap dengan hukum syariah Islam, sistem perekonomian Islam yang didalamnya menciptakan mata uang dan sistem perdagangan Islam.

Istana Kaibon yang terletak di kawasan Banten Lama, Serang, Jawa Barat merupakan salah satu peninggalan kejayaan wali Islam di Indonesia. Mencari lokasi Istana Kaibon sangatlah mudah. Pertama - tama carilah lokasi wisata Banten Lama yaitu 10 km dari Kota Serang. Untuk masuk ke lokasi Istana Kaibon terdapat sebuah plang kecil di sebelah kiri Jalan Karangantu. Letak Istana Kaibon terletak di seberang makam Maulana Yusuf.
 




Masuk 500m dari Jalan Raya Karangantu terdapat dua jalan yang bercabang. Kita mengambil jalan yang ke kiri bukan lurus (bila lurus maka menuju pintu tol Serang Timur). Di sebelah kiri langsung terlihat hamparan puing - puing peninggalan Istana Kaibon. Ketika berada di Istana Kaibon, keindahan dan kemegahan masih dapat dirasakan di istana yang dihancurkan Belanda pada tahun 1832 ini. 


Istana Kaibon dibangun untuk Ibu Asyiah, Ibu dari Sultan Banten terakhir yaitu Sultan Saefuddin yang makamnya berada di komplek pemakaman Boto Putih, Surabaya, Jawa Timur.

Istana Kaibon berasal dari kata 'keibuan' dibangun pada tahun 1815.