Showing posts with label Jakarta Selatan (South Jakarta). Show all posts
Showing posts with label Jakarta Selatan (South Jakarta). Show all posts

Guru Sinin dan Cerita Pembangunan Masjid Bersejarah al Barkah di Bangka, Kemang , Jakarta Selatan


Masjid Al Barkah di daerah Kemang, Bangka, Jakarta Selatan adalah salah satu dari masjid yang berusia lebih dari 200 tahun. Masjid bersejarah lainnya banyak terletak di Jakarta Utara seperti Masjid Angke Al – Anwar (1671M) , Masjid “Si Pitung” Al AnAm (1600M), Masjid Jami Al Nawir (1700M). 


Hanya terdapat satu masjid tua yang terdapat di Jakarta Selatan, dimana baru berkembang setelah dibukanya lahan Kebayoran Baru dan Blok M untuk perumahan elit golongan Belanda.



Guru Sinin dari Banten datang ke lokasi masjid Al Barkah yang saat itu pun bukan merupakan tanah matang. Dahulunya daerah tersebut berawa-rawa dengan kedalaman antara satu – dua meter.

 

Ada hal dan kejadian yang cukup menarik pada saat pendirian masjid ini akan dilakukan oleh Guru Sinin, yaitu ada seseorang yang disebut sebut bernama Guru Peyang, Beliau yang tidak mengizinkan Guru Sinin untuk mendirikan masjid, dengan tidak diketahui apa alasannya yang juga serta merta menantang kepada Guru Sinin.

 


Singkat cerita, akhirnya sampailah persoalan ini dan diajukanlah perkara ini kepada Tuan Demang sehingga masalah ini masuk ke Pengadilan Belanda pada saat itu.
Ketika persidangan berlangsung, saat itu Guru Peyang sang penantang Guru Sinin dengan sikapnya yang congkak berujar,

 

“Kalo Si Sinin menang ngadepin gue dalem perkare ini, gue minta biar supaye bute mate gue”. Mendengar ucapan tersebut, Almarhum Al Maghfurlah Guru Sinin berkata, “Peyang, Lu jangan ngomong begitu, Tuhan itu Bijaksana, liat nti dalam sidang”.



Tatkala dalam persidangan ternyata Guru Sinin-lah yang memenangkan persoalan di Pengadilan Belanda serta mendapatkan izin untuk mendirikan masjid. Sedangkan Guru Peyang memakan sumpah serapahnya, yaitu menjadi buta matanya; tidak hanya itu, lembah kuburannya pun tidak ada yang mengetahui keberadaannya sampai sekarang.

 

Setelah demikian, Sang Guru Mulia Guru Sinin bin Kyai Sudur, dibantu oleh rekan-rekan seperjuangannya dalam membangun Masjid yang nanti pada akhirnya diberinama dengan nama Masjid Al Barkah. Pada masa perjuangan melawan Belanda Masjid Al Barkah ini juga menjadi pusat berkumpul para pejuang, terlebih saat itu, wilayah ini merupakan daerah hutan yang sulit diterobos oleh tentara Belanda.

 

Makam Guru Sinin di Masjid Al Barkah , Jakarta Selatan

Makam tokoh Islam yang sangat berpengaruh di abad 18 yaitu Guru Sinin atau Husaini atau Muchsinin dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di tahun 1818, yang kini menjadi situs peninggalan yang sangat penting untuk dikunjungi guna mempelajari Islam.

 


Tokoh besar yang juga dimakamkan di samping Masjid Al Barkah adalah cucu dan cicit Guru Sinin, yaitu Guru H. Raidi yang wafat pada Sabtu, 4 Syawal 1943 pada usia 110 tahun dan Guru K.H Naisin pada 27 tsani 1988 M pada usia 137 tahun. Guru Sinin  sendiri meninggal pada usia 146 tahun wafat pada 16 Jumadil Akhir 1929M.

Sejarah Masjid Al Barkah yang dibangun oleh Guru Sinin, Ulama dari Banten : Edisi Jelajah Bangunan Sejarah Islam di Jakart

Satu - satunya sejarah yang tersisa dari Masjid Al Barkah di Kemang, Jakarta Selatan

Masjid Al Barkah adalah salah satu situs peninggalan Islam yang terdapat di Kemang, Jakarta Selatan. Masjid yang dibangun pada tahun 1818 oleh Guru Sinin kini telah direnovasi total sehingga tidak lagi nampak seperti masjid berdesain abad 18an.


Berdasar foto yang terdapat pada website al-Shia, nampak terlihat dahulu design masjid Al Barkah kental akan pengaruh Banten dan Demak. Pengaruh Banten terlihat pada menara yang persis seperti di Masjid Agung Banten. Pengaruh Demak terlihat pada atap bersusun seperti di Masjid Agung Demak.

Pengaruh design Banten dikarenakan Guru Sinin atau Husaini atau Muchsinin berasal dari Banten. Guru Sinin melakukan perjalanan menuju tempat yang baru ini atas saran dari sang ayahandanya yang seorang penasihat di kerajaan Banten yaitu Syaikh Abdurrahman atau  Kyai Sudur berasal dari daerah kulon, kawasan Banten Girang.

Masjid Al Barkah sebelum dibongkar total dengan pengaruh gaya Banten dan Demak

Saat terjadi perang melawan Belanda ayahanda Guru Sini berkata “ Hai anakku Sinin berangkatlah engkau beserta istrimu kearah timur, dan menetaplah engkau bersama istrimu, sebarkan islam secara baik dan benar” . 

Kemudian atas izin dari sang ayahanda, Guru Sinin mengadakan perjalanan kearah timur meninggalkan kampung halamannya, sehingga sampailah sang guru pada satu tempat yang terkenal dengan kampung Barkah, Kebun Kelapa dua pada usia sekitar 20 tahunan yaitu pada tahun 1795. 

Masjid Al Barkah hasil renovasi di tahun 2015

Guru Sinin atau Husaini atau Muchsini tiba di daerah yang saat belum memiliki nama. Pada akhirnya menjadi sebuah daerah tersebut kemudian bernama kampung Bangka. Baru pada tahun 1808, dibangunlah sebuah bangunan untuk tempat beribadah yang masih dalam bentuk tajug, atau langgar yang atapnya terbuat dari daun kelapa, temboknya terbuat dari kirai.

Di sini Guru sinin membuka pengajian dan pada akhirnya banyak masyarakat yang belajar agama kepada Beliau. Pada tahun 1818 barulah bangunan tajug/langgar tadi di ubah menjadi sebuah bangunan permanen yang terbuat dari bahan-bahan material yang nantinya akan menjadi masjid seperti yang sekarang ada ini.

Makam Guru Sinin, tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam di Jakarta dan pembangunan masjid Al Barkah ini berada di sisi masjid. Beliau waaft pada usia 146 tahun pada 16 Jumadil Akhir 1925. 

Masjid Al Barkah yang dibangun tahun 1818 oleh Guru Sinin : Jelajah Situs Bersejarah di Kemang, Jakarta Selatan

Menara Masjid Bersejarah Al Barkah, Kemang

Daerah Kemang , Jakarta Selatan terkenal dengan daerah yang dipenuhi dengan restoran, hotel bahkan kehidupan malamnya. Bahkan Kemang terkenal menjadi daerah yang banyak dihuni orang asing mereka tinggal, berbelanja bahkan anak - anak merekapun bersekolah di sekolah internasional yang banyak berdiri di seputaran daerah Kemang.

Siapa sangka, terdapat situs Islam bersejarah di Kemang, Jakarta Selatan. Situs Islam bersejarah itu berbentuk bangunan masjid yang dibangun tahun 1818. Letaknya adalah di persimpangan antara jalan Kemang Utara dan Kemang Timur. Penuhnya kendaraan dan lalu lintas yang tak pernah sepi membuat kita tak sadar akan keberadaan mesjid bersejarah ini.
Masjid Bersejarah Al Barkah, Kemang yang telah direnovasi

Masjid Al Barkah sekilas nampak seperti  masjid yang baru berdiri bahkan masjid yang belum rampung pembangunannya. Hal ini disebabkan karena sejak tahun 1932 hingga kini dengan jumlah total 11 kali renovasi. Pada tahun 1932 misalnya, bahan-bahan dari papan sudah mulai digunakan. Bahan-bahan itu diperoleh dari seluruh jamaah masjid. 

Berturut-turut kemudian, tahun 1935,1950,1960, dan 1970 sebagian masjid sudah berubah, terutama bagian dalam masjid. Baru pada tahun 1985 pembangunan tersebut mulai sempura. Kini, Masjid al Barkah sudah mengunakan ubin keramik dan atapnya dari bahan eternit seperti masjid lainnya. 

Makam Guru Sinin, pendiri Masjid Bersejarah Al Barkah, Kemang

Sosok yang berjasa mendirikan masjid bersejarah di Kemang, Jakarta Selatan adalah Guru Sinin. Guru Sinin yang bernama asli Husaini/ Muchsinin adalah seorang putera dari ‘ulama kharismatik yang bernama Syaikh Abdurrahman yang biasa orang sebut Kyai Sudur berasal dari daerah kulon, kawasan Banten Girang.

Ayah dari Guru Sinin yaitu Syaikh Abdurrahman atau Kyai Sudur masih punya hubungan saudara dengan Syaikh Mansyur Ci Kaduen, yang terlahir sekitar tahun 1774.  Guru Sinin datang ke daerah Kemang ini tidak sendiri akan tetapi bersama isterinya yang bernama Ni’ Made Ibah seorang puteri dari salah satu kerajaan di Bali, tepatnya di daerah Klungkung, Bali.

referensi : 
website syabaabul muslimin 
website al-shia

Sosok Ulama Modern Serba Bisa, Buya Hamka (Edisi Ziarah Wali)

Bersama para pejuang, di TPU Tanah Kusir
Buya Hamka dimakamkan

Bagi Buya Hamka, seorang ulama nampaknya harus menjadi seseorang yang serba bisa. Tidak hanya pandai berdakwah dan berorasi, Buya Hamka aktif menulis dan berpolitik. Buya Hamka memiliki guru yang berpengaruh yaitu ayahnya sendiri, Syech Abdul Karim bin Amrullah atau Haji Rasul seorang tokoh ulama Sumatera. 

Dikenal sebagai pelopor “golongan muda”, murid Syekh Ahmad Khatib yang bermukim di Makkah. Pada ayahnya, Buya Hamka belajar langsung tentang Ushul Fiqh dan Mantiq (logika semantik). Alasan sang ayah mengajarkan dua ilmu tersebut ialah karena kegemaran Buya Hamka berfilsafat dan membawa sejarah ketika berceramah, sehingga dengan menguasai ilmu Ushul Fiqh dan Mantiq maka tidak akan tersesat.

Perjalanan Buya Hamka dari Minang ke Jakarta (Edisi Wisata Ziarah)

Potret Diri Buya Hamka
Nama Buya Hamka adalah nama yang lebih lekat dengan Haji Abdul Malik Karim Amrullah, seorang ulama, sastrawan, ulama, ahli filsafat, politikus dan seorang ahli tafsir. Nama Buya disandingkan di depan namanya, merupakan panggilan untuk orang minangkabau yang berasal dari kata abi atau abuya dalam bahasa arab yang berarti ayahku sebagai penghormatan atas karya -karya beliau. Sehingga nama Buya Hamka menjadi nama yang lebih dikenal dari nama asli beliau, Abdul Malik Karim. 

Saat ini telah 31 tahun sejak meninggalnya seorang Buya Hamka (wafat 24 Juli 1981 dimakamkan di blok AA I Tanah Kusir, Jakarta) tetapi segala tentang beliau masih terus dibicarakan, karya Buya Hamka seakan tak lekang oleh waktu masih terus digunakan dan dikaji serta perjalananan hidup beliau menjadi pelajaran yang diateladani. Buya Hamka merupakan tokoh yang besar karena mencintai ilmu pengetahuan bukan hanya dari mengikuti jenjang akademis. Karena Setelah Buya Hamka meninggalkan tanah kelahirannya, Minangkabau seakan beliau berguru pada kehidupan. Akhir 1924 di usia Buya Hamka yang ke 16 tahun Hamka berangkat ke tanah jawa, langsung ke Yogyakarta.

Peristirahatan terakhir Buya Hamka (Prof.KH. Abdul Malik Karim Amrullah) Edisi Ziarah Wali

Suasana di sekitar makam Buya Hamka

Siang terik di Pemakaman umum Tanah Kusir tidak membuat panas matahari terasa menyengat ketika berada di samping makam seorang ulama, waliallah, panutan masyarakat dikala hidup dan sesudahnya, Prof. KH. Abdul Malik Karim Amrullah atau seseorang yang kita kenal dengan nama Buya Hamka. Letak makam Buya Hamka disamping pohon palem rindang dan taman yang asri membuat semilir angin berhembus mendinginkan suasana berziarah siang itu. Letak persis makam Buya Hamka tidak terdapat di artikel internet, kamipun datang hanya berbekal foto mantan wakil presiden, Jusuf Kalla ketika berziarah ke makam beliau.

Karomah Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri (Edisi Wisata Religi Bogor)

Potret Muda Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri

Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dimakamkan di TPU Lolongok, di Jalan Lolongok, Bogor, Jawa Barat. Berjarak 200 Meter dari makam guru Beliau, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas (Habib Empang Bogor). Makam beliau sangat asri dan nyaman untuk membaca doa karena terdapat alas karpet. "Banyak peziarah yang datang kesini", ujar seorang Ibu tua yang menjadi penjaga makam. 

Wali Allah yang mengajar tanpa kenal lelah, sederhana, ikhlas, selalu mementingkan kesederhanaan dan disiplin. Kedisiplinan Beliau tidak hanya dalam hal mengajar, tapi juga dalam soal makan. “Walid tidak akan pernah makan sebelum waktunya. Dimanapun ia selalu makan tepat waktu.” tutur Habib Ali bin Abdurrahman, putra Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Mengenai keikhlasan dan kedermawanannya, beliau selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya.

Karya Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri (Edisi Ziarah Wali Allah Bogor)

Pintu Masuk Makam Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf
Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dikenal dengan sebutan Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Seorang wali Allah yang yang berpulang ke Rahmatullah Selasa, 26 Maret 2007 di usia ke 99. Wali Allah, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dimakamkan di TPU Lolongok, yang berjarak 200 meter, atau perkiraan 5 menit berjalan kaki dari Mesjid Empang, Bogor. 

Berkisah tentang Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri ketika menjadi pelajar, beliau adalah pelajar yang mau bekerja keras, berprestasi cemerlang dan berakhlak yang menjadi teladan teman - temannya. Lahir di Cimanggu, Bogor, tahun 1908, putra dari Habib Ahmad bin Abdul Qadir Assegaf telah menjadi yatim sejak kecil. Dengan semangat Beliau untuk menuntut ilmu kepada seorang ulama, beliau tak segan-segan melakukannya dengan bersusah payah menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk belajar ke Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas (Habib Empang Bogor) dari sekolahnya di Jamiat Al-Khair, Jakarta.

Wisata Jakarta Ziarah Waliyuallah: Air Karamah Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (HABIB KUNCUNG)

Plang Yayasan pengelola Makam Keramat Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung)

Ketika berkunjung ke makam Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung), saya dan suami menjumpai Bapak Hasan al Hadad cucu dari Habib Abdullah al Hadad. Bapak Hasan al Hadad adalah penjaga makam Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) dan makam keluarga Abdullah bin Jafar al Hadad. Letak makam Habib Abdullah al Hadad adalah di sebelah kiri makam Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung).

Wawancara dengan Bapak Hasan Al Hadad, penjaga makam Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung)

Melalui Bapak Hasan al Hadad diketahui bahwa makam Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) ini ramai dikunjungi sejak beliau wafat. Tidak ada yang memungkiri kewalian dari Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) dan dari mulut ke mulut karamah dari Habib Kuncung ini tersebar. Peziarahpun datang dari berbagai daerah dan datang siang dan malam silih berganti. 

Salah satu cerita mengenai karamah dan kehebatan dari Bapak Hasan al Hadad yang diceritakan adalah ketika Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) hendak naik kereta tetapi oleh petugas kereta yang kala itu adalah orang Belanda, beliau dilarang naik. Alasannya adalah Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) tidak menggunakan pakaian yang bagus selayaknya orang yang yang naik kereta. 

Ketika hendak diberangkatkan mesin kereta tidak mau dihidupkan. Petugas keretapun mengetahui perihal kehebatan Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung), lalu tanpa melihat pakaian yang ia pakai, Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) dipersilahkan naik kereta dan mesin keretapun dapat dihidupkan.

Foto Para Wali Allah di Indonesia terpajang di makam Habib Ahmad 
bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung)

Menurut Habib Hasan al Hadad Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) selalu hidup berpindah-pindah. Tak ada yang dapat memastikan Habib Kuncung menetap disatu tempat tertentu. Beliau hadir dan pergi sesukanya.  Habib Kuncung sering muncul di Majelis ulama kalangan Habaib di Jakarta yang dipusatkan di Kediaman Habib Ali Al-Habsyi Kwitang. 

Namun beliau dikenal masyarakat Bogor, karena banyak menghabiskan waktu disana di rumah gurunya yaitu Habib Abdullah bin Muhsin al Attas. Sebutan "kuncung" yang menjadi gelarnya juga berasal dari Bogor. Masyarakat disana menyebutnya seperti itu karena beliau selalu mengenakan topi kuncung.

Air Karamah di Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung)


Riwayat hidup Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) tidak banyak yang mengetahui karena hidupnya yang meggembara . Dahulunya Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) diketahui sebagai seorang pedagang kaya yang kemudian meninggalkan semua itu untuk mengenal Allah. Kepergian Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) sampai ke Indonesia, yaitu Makasar (Bugis) dan memperistri wanita disana. 

Tidak ada yang mengenal siapa istri Habib Kuncung itu. Dari perkawinan tersebut diketahui lahir seorang putra bernama Muhammad. Namun sayang Habib Muhammad kemudian meninggal dunia hingga terputuslah garis keturunan Habib Kuncung.
 
Gentong air yang berisi air karamah Habib Ahmad 
bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung)

Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) dikenal dengan sikap "aneh" menurut manusia awam. Tetapi menurut bahasa kewalian sikap tersebut adalah sikap "mujadab" dimana bertindak sesuai dengan adanya. Oleh sebab itu, masyarakat Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) sebagai pribadi terhormat yang saleh. 

Hal-hal yang dilakukannya merupakan satu bentuk ketawadukan atau sikap rendah hati.  Beliau tak pernah mau menerima hadiah, baik uang maupun pakaian. Beliau hanya ingin dapat tampil seperti biasa, apa adanya. Sekalipun begitu tak ada orang yang meragukan kapasitas Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) sebagai Wali Allah.

Meminum air karamah Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung)

Salah satu ritual yang dilakukan peziarah di makam Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) adalah meminum air karamah yang disediakan di gentong di depan makam Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung). Ketika saya meminum air tersebut, rasa airnya adalah tawar seperti air mineral pada umumnya. 

Yang menyebabkan air tersebut sangat spesial adalah gentong tempat penyimpanan air keramat tersebut. Karena gentong tersebut telah ada sejak areal makam Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung) didirikan. Umur gentong tersebut lebih dari 85 tahun dan terus menerus diisi doa oleh peziarah yang mendatangi areal makam Habib Ahmad bin Alwi al Hadad (Habib Kuncung).  

Wisata Religi di Jakarta Selatan: Ziarah Waliyuallah Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (HABIB KUNCUNG) part Mesjid At Taubah


Menara Mesjid At Taubah (Masjid At Tawbah) menjulang tinggi

Wisata Ziarah Waliyuallah di Jakarta tak lengkap apabila tidak mengunjungi makam wali Allah Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (HABIB KUNCUNG) yang terletak di jalan Rawajati Timur II No. 70 RT. 03 RW. 08 Kelurahan Rawajati Kecamatan Pancoran, Kalibata, Jakarta Selatan. 

Wali Allah dengan segala karamah yang dimiliki selama beliau hidup hingga beliau berpulang ke rahmatullah. 85 Tahun sudah usia makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (HABIB KUNCUNG) dan tidak pernah sepi dikunjungi peziarah. Sejak beliau meninggal di tahun 1926 hingga sekarang tahun 2011 pesona dan rahmat Allah padanya tetap terpancar dan mengundang kedatangan peziarah untuk berziarah berkali - kali.

Papan renovasi At Taubah (Masjid At Tawbah) ditertulis tahun pelaksanaan 2008

Mengunjungi makam wali Allah Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung) kita akan disambut dengan sebuah mesjid agung yang memiliki pesona luar biasa yaitu Mesjid At Taubah (Masjid At Tawbah) Rawajati, Kalibata. Mesjid yang konon berdiri lebih tua daripada makam wali Allah Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung).

Bagian dalam Mesjid At Taubah (Masjid At Tawbah)

Saat ini Mesjid At Taubah (Masjid At Tawbah) Rawajati, Kalibata sedang direnovasi. Mesjid berukuran besar ini sering kali menjadi pusat kajian dan dakwah Islam. Majelis Rasulullah yaitu majelis ta'lim pimpinan  Habib Munzir bin Fuad Al Musawa merupakan salah satu Majelis yang menjadikan Mesjid At Taubah (Masjid At Tawbah), Rawajati, Kalibata. 

Peletakan batu pertama untuk memulai renovasi Mesjid At Taubah (Masjid At Tawbah), Rawajati, Kalibata ini dilakukan oleh Fadel Muhammad ketika menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Tempat wudhu Mesjid At Taubah (Masjid At Tawbah)

Mesjid At Taubah, Rawajati sebelum dipugar. Diambil dari koleksi pribadi @andhiniedewi

Wisata Ziarah Waliyuallah Jakarta Selatan : Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (HABIB KUNCUNG)


Gubah atau gerbang Menuju Makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung)

Makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad adalah makam wali Allah yang selalu ramai dikunjungi oleh peziarah. Tetapi Ahmad Bin Alwi Al-Haddad lebih dikenal dengan sebutan Habib Kuncung. Peziarahpun banyak datang dari berbagai daerah. Letak makam Habib Kuncung yang berada di dekat stasiun Kalibata mempermudah peziarah untuk datang. 

Bagi saya nama Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad atau Habib Kuncung sudah sering saya dengar melalui teman ayah yaitu Bapak Bambang Triyatna yang tinggal di daerah Rawajati, Kalibata, Jakarta dekat dengan makam. Ketika tahu saya, suami dan anak saya senang berziarah beliau mengundang saya untuk datang ke rumahnya setelah berziarah ke wali Allah, Habib Kuncung.
 
Gambar diri Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung) 
di terpasang di pintu masuk makam

Berita mengenai Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad atau Habib Kuncung saya dengar dari teman bahwa beliau adalah murid dari Habib Abdullah bin Muksin Al Athas, Empang, Bogor. Kecintaan Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad (habib Kuncung) bagai ayah dan anaknya sehingga dimanapun ada Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas pasti di situ ada habib Kuncung. 

Dikisahkan ketika Habib Kuncung datang ke Empang, Bogor bertemu guru beliau, Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas, waktu itu Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas sedang sarapan pagi tiba-tiba Habib yang berkharismatik tinggi yang bermaqam mulia ini tersenyum, lalu ditanya oleh murid beliau, Habib Alwi Al Haddad, "Ada apa dikau tersenyum wahai guruku yang mulia?" "Lihatlah ya Alwi, itu Ahmad sedang menari-nari," seru beliau. 

Habib Alwi pun melihatnya seraya beliaupun tersenyum, "Apakah kau lihat ya Alwi?" seru Habib Keramat Empang , "Apa wahai guruku?" tanya habib Alwi, beliau menjawab, "Ya Alwi, itu habib Ahmad menari-nari dengan bidadari."

Lokasi di depan Makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung) 
terdapat banyak makam lain

Karena saya sering berziarah ke makam Habib Abdullah bin Muksin Al Athas, Empang, Bogor sayapun berkunjung ke makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad atau Habib Kuncung yang letaknya di dekat IPMI Business School, Kalibata. Kompleks makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad atau Habib Kuncung terletak di pinggir jalan Rawajati, Kalibata dan terletak di pojok diseberang sungai Kalibata terjaga dengan baik dan sangat bersih. 

Memasuki komplek tersebut, berdiri sebuah Mesjid besar bernama Mesjid At Taubah yang sekarang sedang direnovasi dan makam Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad atau Habib Kuncung  berada di sisi kiri Mesjid At Taubah.

Banyak sekali peziarah datangberdoa di Makam Habib Ahmad 
Bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung)

Mengenai riwayat Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad adalah seorang wali Allah yang memiliki khoriqul a’dah yaitu diluar kebiasaan manusia umumnya. Menurut  bahasa kewalian disebut "Majdub" atau disebut dengan ahli Darkah maksudnya disaat orang dalam kesulitan dan sangat memerlukan bantuan maka beliau muncul dengan tiba-tiba. 

Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad atau Habib Kuncung lahir di Gurfha, Hadramaut, Tarim pada tanggal 26 syaban 1254 H dan beliau belajar kepada ayahanda beliau sendiri Al habib Alwi Al Haddad dan belajar pula kepada Al habib Ali Bin Husein Al Hadad, Hadramaut. 

Di Indonesia beliau belajar pada Habib Abdurrahman Bin Abdullah Al Habsyi (ayah Habib Ali Kwitang yang makamnya memancarkan air ketika hendak di gusur, Cikini) dan kepada Habib Abdullah bin Muksin Al Athas, Empang, Bogor. 

Nama panggilan yang terkenal bagi Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad adalah Habib Kuncung karena kebiasaan beliau mengenakan kopiah yang menjulang ke atas (muncung) dan perilaku beliau yang terlihat aneh dari kebiasaan orang pada umumnya terutama dalam hal berpakaian. Hal itu bisa dilihat di foto beliau yang dipajang di pintu masuk. Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad atau Habib Kuncung tutup usia pada tahun 1345 H tanggal 29 Syaban sekitar tahun 1926 M pada usia 93 tahun.  

Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad, kembali ke rahmatullah dan di makamkan  di pemakaman keluarga Al Haddad Kalibata, Jakarta Selatan. Setiap hari banyak peziarah dari berbagai daerah di Nusantara terutama pada perayaan Maulid yang diadakan setiap minggu pertama Bulan Robiul awal ba’da asyar.

Nisan Habib Ahmad Bin Alwi Al-Haddad (HABIB KUNCUNG)