Showing posts with label Surabaya. Show all posts
Showing posts with label Surabaya. Show all posts

Kisah Sunan Ampel dan Babak Akhir Kerajaan Majapahit (Edisi Mencari Jejak Sejarah Surabaya, Ziarah Makam Mbah Karimah atau Mbah Wiroseroyo)

Makam Ki Wiroseroyo atau Mbah Karimah, mertua Sunan Ampel

Surabaya adalah kota metropolitan terbesar ke dua setelah Jakarta. Surabaya terletak di tepi pantai utara pulau Jawa ini merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia bagian timur.Kota ini adalah tempat bersejarah karena Surabaya dulunya merupakan gerbang Kerajaan Majapahit, yakni di muara Kali Mas. Pada abad ke-15, Islam mulai menyebar dengan pesat di daerah Surabaya. Salah satu anggota Wali Songo, Sunan Ampel, mendirikan masjid dan pesantren di daerah Ampel. Tahun 1530, Surabaya menjadi bagian dari Kerajaan Demak.

Sunan Ampel atau Ali Rahmatullah bagi Kerajaan Majapahit adalah sebagai penyelamat. Beliau datang ke Majapahit sesuai dengan permintaan Ratu Dwarawati, istri Prabu Brawijaya untuk memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mempunyai budi pekerti mulia. Ratu Dwarawati adalah adik dari Ibu dari Sunan Ampel atau Ali Rahmatullah Dewi Candrawulan. 

Gubah Makam Mbah Wiroseroyo ayah dari Dewi Karimah, Surabaya

Menurut Kitab Pengging Teracah, setelah selesai mendatangi undangan Raja Brawijaya, penguasa Mojopahit, Sunan Ampel mendapat ganjaran Ampilan tanah untuk menyebarkan agama Islam di sisi utara tanah Jawa Timur. Perjalanan Sunan Ampel yang bernama asli Raden Achmad Rahmatullah ini dibarengi beberapa pengikut, diantaranya Ki Wiroseroyo. Ki Wiroseroyo sebelumnya beragama Hindu. Setelah masuk Islam, ia menyatakan ingin ikut perjalanan Sunan Ampel ke Surabaya. 

Ki Wiroseroyo memiliki anak gadis bernama Dewi Karimah yang kemudian disunting Sunan Ampel atau Ali Rahmatullah. Sesuai tradisi Jawa, orang tua kadang dipanggil dengan nama anak pertamanya. Jadi Ki Wirosaroyo sering dipanggil dengan nama Pak Karimah, atau lebih populer lagi dengan sebutan Mbah Karimah. 

Makam wali Allah, Ki Kembang Kuning atau Mbah Karimah

Sesampai di Surabaya, Sunan Ampel lebih dulu membangun tempat ibadah di Kembang Kuning. Nama ini, konon berasal dari gebang kuning atau palem kuning yang waktu itu banyak ditemui di sini. Tempat ibadah yang didirikan Sunan Ampel bersama Ki Wirosaroyo ini, lanjutnya, berbentuk musholla kecil berukuran sekitar 12 x 12 meter dan sekilas mirip cungkup. Lantainya menyerupai siti inggil yang menurut kepercayaan sangat pas untuk munajat pada Allah. 

Setelah itu, Sunan Ampel melanjutkan perjalanan dan membangun masjid di Ampel Denta yang kini dikenal sebagai Masjid Ampel.

Dewi Karimah, Putri Ki Wiroseroyo, Ki Kembang Kuning dan Sunan Ampel (Edisi Wisata Sejarah Islam, Religi dan Ziarah Wali Allah Surabaya)


Perumahan di gang Kembang Kuning, Surabaya

Bercerita mengenai kisah Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) tak akan terlepas dari sosok Ki Wiroseroyo atau yang dikenal dengan Mbah Karimah. Ali Rahmatullah inilah yang kelak lebih dikenal sebagai Sunan Ampel adalah cucu Raja Campa, putra kedua pasangan Syekh Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan. Ayahnya, Syekh Ibrahim, adalah seorang ulama asal Samarkand, Asia Tengah. Kawasan ini melahirkan beberapa ulama besar, antara lain perawi hadis Imam Bukhari. 

Syekh Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Campa. Ia kemudian diangkat sebagai menantu. Sejumlah sumber sejarah mencatat silsilah Syech Ibrahim dan Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) tersambung kepada Nabi Muhammad SAW dari Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib. Tarikh auliya karya KH Bisri Mustofa mencantumkan nama Rahmatullah sebagai keturunan Nabi ke-23. Sunan Ampel dikenal sebagai orang yang berilmu tinggi dan alim, sangat terpelajar dan mendapat pendidikan yang mendalam tentang agama Islam. 

Gapura di depan makam  Mbah Karimah atau Mbah Wiroseroyo atau Ki Kembang Kuning
Sunan Ampel juga dikenal mempunyai akhlak yang mulia, suka menolong dan mempunyai keprihatinan sosial yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial. atas dasar itulah Ki Wiroseroyo menikahkan Sunan Ampel dengan anak gadisnya, Dewi Karimah. Beberapa sumber menyatakan Dewi Karimah sebagai istri pertama Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) tetapi terdapat sumber pula yang menyatakan bahwa Dewi Karimah adalah istri kedua setelah Sunan Ampel menikahi Dewi Candrawati atau Nyi Ageng Manila. 

Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning (Ki Wiroseroyo), berputera: 

1. Dewi Murtasiyah/ Istri Sunan Giri 

2. Dewi Murtasimah/ Asyiqah/ Istri Raden Fattah 

3. Raden Husamuddin (Sunan Lamongan) 

4. Raden Zainal Abidin (Sunan Demak) 

5. Pangeran Tumapel 

6. Raden Faqih (Sunan Ampel 2)

Makam Mbah Karimah atau Mbah Wiroseroyo atau Ki Kembang Kuning
Ki Wiroseroyo atau yang dikenal dengan Mbah Karimah wafat pada tahun 1377 masehi. Beliau turut serta menyebarkan agama Islam di Surabaya. 

Pertemuan Sunan Ampel, Ali Rahmatullah dan Ki Wiroseroyo di daerah Kembang Kuning (Wisata Religi dan Ziarah Wali Allah Surabaya, Mbah Karimah atau Mbah Wiroseroyo)

Lukisan yang menggambarkan musala Sunan Ampel pertama berdiri
Di antara perumahan penduduk di Gang Kembang kuning, Surabaya terdapat pusara wali Allah, Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah yang wafat pada tahun 1377 Masehi. Beliau adalah mertua dari Sunan Ampel, Ali Rahmatullah yang turut berdakwah menyebarkan agama Islam di Surabaya. Makam Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah sangat teduh sehingga peziarah betah berlama - lama berdoa memanjatkan pujian kepada Allah SWT dan membaca ayat - ayat suci Al Quran.

Dalam beberapa sumber dipercaya bahwa musala di samping pendopo bercungkup tempat dimakamkannya Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah adalah musala pertama yang dibangun oleh Sunan Ampel. Pada Blog Menara Madina dituliskan kisah, bertemunya Mbah Karimah dengan Ali Rahmatullah (Sunan Ampel). 


Musala Sunan Ampel setelah di renovasi
Pada awal abad 15, Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) mendirikan musala di daerah Kembang kuning ini sebagai tempat ibadah. Pembangunan musala ini juga merupakan wujud ucapan terimakasihnya kepada Wiroseroyo (pemeluk Hindu dari Majapahit) yang dikenal dengan sapaan Mbah Karimah. 

Pada sat itu, Surabaya bagian Selatan masih berupa hutan belantara, seperti Wonokromo, wonosari, Wonokititri (wono=Hutan). Disana ada seseorang yang bernama Wiroseroyo, Dialah yang membabat alas di daerah kembang kuning. Tiap pagi bekerja, berjalan keluar masuk hutan. Setiap kali melewati daerah kembang kuning, selalu terdengar suara orang yang berbicara. Namun setelah dicari selalu saja tidak pernah ketemu. Karena merasa penasaran dengan suara yang selalu didengarnya, Wiroseroyo pun mengajak serta anak gadisnya yang bernama Dewi Karimah untuk turut serta mencari asal suara tersebut. 

Makam Mbah Sholeh, murid dari Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah
Tidak disangka, rupanya yang sering terdengar berbicara sendiri adalah sosok pemuda tampan yang menghadap ke arah Barat dengan menengadahkan kedua tangannya ke atas. Berkali-kali disapa oleh Wiroseroyo, namun tidak dihiraukan. Melihat pemuda ganteng yang sedang tafakhur tersebut, Wiroseroyo punya niatan untuk membuatkan sebuah pondok secara diam-diam. Namun setelah menggali tanah untuk dijadikan pondasi, pemuda yang lama tidak bergerak nampak menoleh kepada Wiroseroyo. 

Dari sinilah kemudian keduanya saling berkenalan. Tingkah laku Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) benar-benar simpatik serta menarik. Sehingga Wiroseroyo merasa senang dengannya. Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) pun kemudian memberitahukan jika Agama yang dianutnya adalah Islam. Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) pun kemudian menjelaskan panjang lebar mengenai Islam. Melihat kekusukan Pemuda tampan tersebut, Wiroseroyo beserta anaknya, Dewi Karimah memutuskan untuk masuk dan memeluk agama yang dianut oleh Sunan Ampel (Ali Rahmatullah).

Makam Waliyuallah Surabaya, Mertua Sunan Ampel
Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah
Wiroseroyo lalu menjodohkan Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) dengan putrinya, Dewi Karimah. Setelah mempersunting Dewi Karimah, Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) pamit meninggalkan hutan untuk melanjutkan dakwah. Sebelum ditinggalkan, di hutan tersebut telah berdiri musala kecil dari bilik. Kemudian, Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) dan istrinya, Dewi Karimah berjalan ke arah utara dan akhirnya menetap dan meninggal di kawasan Ampel, Surabaya Utara. 

Setelah ditinggal Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) Wiroseroyo hidup sendiri. Melanjutkan dakwah ajaran Islam hingga kemudian lokasi itu ramai didatangi banyak orang dari berbagai penjuru negeri. Mereka ingin belajar bersama Wiroseroyo dan menjadi orang terkenal setelah kembali ke daerahnya. Wiroseroyo lambat laun dikenal sebagai Mbah Karimah.

Makam Mertua dari Sunan Ampel, Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah (Wisata ziarah Wali Allah Surabaya)

Gapura Makam Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah, Wali Allah Surabaya

Memasuki kawasan Makam Mbah Karimah, mertua dari Sunan Ampel, seakan membuat kami terlupa bahwa kami sedang berada di Surabaya kota yag terkenal dengan hawanya yang panas dan sumuk. Siang itu, terik panas matahari tidak terasa karena rindangnya pepohonan di sekitar makam Mbah Karimah. Semilir angin bertiup disekitar pohon asem dan pepohonan yang lain.

Mbah Karimah adalah nama pangilan dari mertua Sunan Ampel. Ki Wiroseroyo adalah nama Mbah Karimah yang sebenarnya. Makam Mbah Karimah atau Ki Wiroseroyo berada di antara perkampungan penduduk di kawasan Kembang Kuning, Surabaya. Untuk dapat berziarah ke makam Beliau, kami harus berjalan kaki karena akses jalan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, naik sepeda motor atau naik becak. 


Pusara Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah yang tak pernah sepi diziarahi

Tidak ada papan informasi atau petunjuk jalan menuju makam  Mbah Karimah atau Ki Wirosaroyo. Kami mendapat informasi dari pengurus Masjid Rahmat mengenai lokasi makam wali Allah Surabaya, yang merupakan mertua Sunan Ampel ini. Kami harus menyeberang jalan depan masjid Rahmat, lalu menyeberang jembatan Kali Banyurip. Kemudian menelusuri jalan Kembang Kuning Kulon gang besar A hingga ujung lalu belok kiri hingga menemukan gapura hijau bertuliskan Makam Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah.

Nama panggilan Mbah Wiroseroyo adalah Mbah Karimah karena beliau memiliki anak bernama Karimah, sehingga beliau kerap disapa Mbah Karimah. Putri Mbah Wiroseroyo yaitu Dewi Karimah menikah dengan Sunan Ampel atau Raden Rahmat dan ,dikaruniai dua orang anak yaitu: Dewi Murtasih dan Dewi Murtasimah. Dewi Murtasih menjadi istri Raden Fatah (sultan pertama kerajaan Islam Demak Bintoro) dan Dewi Murtasimah menjadi permaisuri Raden Paku atau Sunan Giri.

Pendopo bercungkup tempat dimakamkannya Mbah Karimah dan Mbah Sholeh

Di area makam Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah terdapat dua bangunan utama yaitu, musala dan pendopo bercungkup tempat dimakamkannya Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah dan Makam Mbah Sholeh. cungkup dua makam. Makam pertama milik Mbah Karimah atau Mbah Wiroseroyo yang terdapat tulisan wafat pada tahun 1377. Di sebelahnya, makam Sholeh, salah satu murid setia dari Mbah Karimah. 

Musala yang terletak di sebelah pendopo bercungkup tempat dimakamkannya Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah dan Makam Mbah Sholeh dipercaya merupakan mushala pertama yang dibangun Sunan Ampel, penyebar Islam di Surabaya dan sekitarnya. Saat ini musala tersebut telah dirombak sehingga terlihat seperti masjid yang megah. 

Jejak - Jejak Kesultanan Banten di Surabaya, Makam Sultan Mohammad Shafiuddin (Edisi Ziarah Wali Allah Surabaya)

Makam Sultan Mohammad Shafiuddin di Pemakaman Sentono Boto Putih

Sultan Safiudin, Raja Banten XVII diturunkan dari jabatannya sebagai sultan Banten oleh Belanda. Sultan yang lahir dari garis keturunan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sultan Safiudin pada tahun 1832 kemudian dibuang ke Surabaya. Keluarga Sultan Safiudin yang memiliki uang ikut dengan Sultan ke Surabaya, sedangkan yang tidak punya uang menyingkir ke Menes, Pandeglang. 

Dalam pembuangan itu, keluarga sultan tidak membawa apa-apa. Sepanjang 1832-1945 Sultan Safiudin beserta keturunannya tidak diizinkan untuk datang ke Banten. Semua kekayaan Sultan Safiudin, termasuk mahkota dan permainan congklak yang terbuat dari mas dan zamrud, diambil Belanda. Sementara itu Sultan Safiudin juga masih harus membayar pajak atas perkebunan kelapa miliknya yang ada di Banten.

Sejarah Raja Banten XVII, Sultan Terakhir Banten, Sultan Maulana Mohammad Shafiuddin (Edisi Ziarah Waliyuallah Surabaya)

Komplek Makam Sentono Boto Putih Dimana Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin dimakamkan 

Ketika membahas mengenai Sultan Banten ke XVII (Sultan Banten terakhir) yang dimakamkan di Pasarean Sentono Boto Putih (di kawasan Ampel) maka pasti akan mengulas tentang sejarah 2 orang. Karena menurut sejarah dan banyak silsilah yang dipegang mengenai raja-raja Banten mengatakan bahwa Rafiudin adalah raja Banten terakhir. Sedangkan ketika berziarah ke Pasarean Sentono Boto Putih maka akan tercatat bahwa Safiudin adalah sultan terakhir Banten.

Kebenarannya adalah Safiudin dan Rafiudin adalah dua orang yang berbeda. Muhammad Shafiuddin dinobatkan menjadi Sultan Banten pada tahun 1808, bergelar Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin. Kedudukannya menggantikan Sultan Muh. ‘Agiluddin (‘Ali juddin II) yang diasingkan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Batavia kemudian ke Surabaya. Jabatan ini diterima dari Sultan Wakil (Mangkubumi) Pangeran Suramenggala, yang memangku jabatan sementara setelah Sultan Muh Agiluddin diasingkan. 

Sedangkan sejarah mengenai Sultan Bupati Rafiuddin adalah Beliau menikah dengan adik Ratu Asyiah - Ibunda Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin. Dengan pernikahan itu maka terbentuklah hubungan saudara yang dengan sendirinya menempatkan Sultan Bupati Rafiuddin sebagai paman Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin. Jadi hubungan yang terbentuk adalah hubungan pernikahan bukan hubungan darah.

Sultan Mohammad Safiudin Raja Banten XVII - terakhir - di Makam Sentono Boto Putih, Surabaya (Edisi Wisata Ziarah Wali Surabaya)



Surabaya, kota pahlawan dikenal kini sebagai pusat dari pemerintahan provinsi Jawa Timur, kota perdagangan, kota tujuan wisata dan disebut pula kota destinasi kuliner yang lezat. Sejarah yang dipahami oleh masyarakat luas mengenai asal nama kota Surabaya adalah berdasarkan cerita rakyat pertempuran antara ikan sura dan buaya. 

Ikan sura banyak disebut sebagai hiu karena bentuk biologis badan dengan paruh mulutnya mirip dengan ikan hiu karena tinggal di air tawar (sungai), orang mengatakan ikan hiu tawar, dan menurut legenda ikan sura itu pertama kali terlihat pada malam 1 suro jadi orang meyebutnya ikan sura).

Kota Surabaya sebagai Kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta merupakan kota yang ramai sejak dahulu kala. Pada 1612 Surabaya sudah merupakan bandar perdagangan yang ramai menurut catatan dari orang Belanda yang pertama kali datang ke Jawa Timur di bawah pimpinan Cornelis Houtman (tahun 1596). Banyak pedagang Portugis membeli rempah-rempah dari pedagang pribumi.

Kisah Setelah Ziarah ke Masjid Agung Sunan Ampel, Surabaya oleh Almarhum H. Rosihan Anwar

Kata Pengantar yang ditulis oleh H. Rosihan Anwar
Pada Buku Haul Agung Sunan Ampel ke 544

Sahabat saya, Mbah Guntur senang sekali mendengar saya telah ziarah ke Mesjid Agung "Sunan Ampel" bersama pengusaha nasional H. Probosutejo dan ketua umum Dekopin Prof.Dr.Sri Edi Swasono tahun lalu. Mengapa dia senang? karena berziarah ke makam Sunan Ampel, pada hemat Mbah Guntur, akan membuat saya lebih terbuka dan dapat memahami hal yang ghaib. Dengan demikian perkembangan spiritual saya akan lebih mantab

Syukurlah kalau Mbah Guntur senang, sebab memang tugas saya di dunia ini diantara lain ialah berusaha menyenangkan hati orang, menimbulkan harapan di kalbu orang yang sedang kesulitan, membina keyakinan orang, supaya berjuang terus untuk kesejahteraan dan keadilan umat manusia.

Tetapi untuk selanjutnya, ziarah saya ke "Masjid Agung" SUNAN AMPEL" tidak ada yang ghaib bagi saya. Biasa saja rasanya. Saya tidak punya bakat untuk berhubungan dengan yang ghaib, menerima pesan dari roh orang yang sudah berada di alam barzah, bergerak dalam alam mistik dan sebagainya. 

Teringat saya tahun 1962 waktu bercakap-cakap dengan Alm. Buya Hamka dirumahnya, saya tanyakan padanya apakah beliau seorang ulama Sufi karena Hamka telah menulis buku tentang Tasawuf. Buya Hamka menjawab : sama sekali tidak. "Saya tidak punya bakat untuk itu" ujarnya. Cocok, jika begitu. Saya tidak punya bakat untuk bergerak dalam alam mistik, tidak mungkin mengerti Tasawuf, apalagi mempraktekkannya.

Keajaiban di Balik Nama Habib Neon pada Habib Muhammad bin Husein Alydrus (Edisi Wisata Hati dan Jiwa Surabaya Ziarah Makam Wali Habib Neon)

Pesarean Habib Muhammad bin Husein Alydrus

Salah satu penyebab sering tertukarnya informasi dimana Habib Muhammad bin Husein Alydrus dimakamkan adalah kesamaan nama depan dengan salah satu wali Allah yang juga dimakamkan di area Ampel, Surabaya yaitu Habib Muhammad Al Muhdhor. 

Apabila bertanya dengan masyarakat sekitar Ampel dan menyebutkan nama Habib Muhammad bin Husein Alydrus maka akan ditunjukkan ke makam Habib Muhammad Al Muhdhor.  

Lain cerita bila bertanya dengan menyebutkan nama Habib Neon, masyarakat sekitar Ampel akan memberitahu lokasi TPU Pegirian. Terdapat kisah dibalik predikat nama Habib Neon bagi Habib Muhammad bin Husein Alydrus sehingga masyarakat sekitar mengenal Beliau dengan sebutan Habib Neon. 

Kisah tersebut berkembang dari sekitar kampung Arab di Surabaya, seperti Nyamplungan, Pegirian, Ampel, dan Panggung hingga nusantara dan mancanegara. Di mancanegara dikenal dengan The Habib Who Glow in The Dark.

Keseharian dan Ibadah Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) edisi Ziarah Waliyuallah Surabaya Makam Habib Neon

Jalan TPU Janatul Arab, Pegirian

Bercerita mengenai Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) adalah sosok yang pendiam, sedikit makan dan tidur. Setiap orang yang bertemu Beliau pasti merasa nyaman dan senang karena memandang wajah beliau yang ceria dengan pancaran nur (cahaya). 

Setiap waktu Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) gunakan untuk selalu berdzikir dan bersholawat kepada datuk Beliau, Rasulullah SAW. Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) tidak pernah menolak undangan kaum fakir miskin. 

Segala hal yang Beliau bicarakan dan pikirkan selalu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran agama, dan tak pernah berbicara mengenai masalah yang tak berguna. Kebiasaan Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) selama menetap di Surabaya adalah berziarah, terutama ke kota Tuban dan Kudus selama 1-2 bulan.

Biografi Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) edisi Wisata Religi Surabaya Ziarah Makam Habib Neon

Komplek Makam Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon)

Mencari lokasi makam Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) tidaklah mudah. Hal ini disebabkan minimnya keterangan lokasi persis beliau dimakamkan dan keterangan dari penduduk sekitar yang sering tertukar dengan lokasi makam Habib Muhammad Al Muhdhor atau Habib Syech bin Ahmad bin Abdullah Bahafiq (Sunan Boto Putih). 

Sering tertukarnya lokasi makam Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) dikarenakan lokasi ketiga makam tersebut saling berdekatan yaitu di daerah Ampel, Surabaya. 

Lokasi makam Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) adalah di TPU Jannatul Arab (makam Pegirian) di Jalan Sidorame. Letak persisnya adalah di sebelah kiri jalan berseberangan dengan toko besi beton Karya bakti. 

Penjaga TPU Pegirian dapat menunjukan makam dari Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) dan meminjamkan alas tikar agar peziarah dapat berdoa dengan khusyuk. Berdasarkan keterangan penjaga makam banyak yang berziarah ke makam Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) berasal dari Kalimantan dan Madura.

Kisah Persahabatan Sunan Bungkul dan Sunan Ampel (edisi Ziarah Waliyuallah Surabaya)

Boengkoel Park (Nama Taman Bungkul versi Majalah Soerabaja)
Kisah Sunan Bungkul, Surabaya berkaitan erat dengan Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Konon, Raden Rahmat atau Ali Rahmatullah (kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel) diyakini pernah singgah di tempat ini setelah berbulan-bulan melakukan perjalanan dengan naik perahu dari Trowulan, Majapahit (sekarang Mojokerto, Jawa Timur). Raden Rahmat atau Sunan Ampel singgah di tempat Bungkul saat tengah menyusuri Kalimas sebelum menuju ke kawasan Ampel Denta (kawasan Surabaya Utara). Dari cerita beberapa sumber, Sunan Ampel kemudian lama ikut ngawulo atau menetap di kawasan Bungkul yang saat itu masih hutan belantara.

Jejak Sejarah Sunan Bungkul (edisi Ziarah Wali Allah Surabaya)

Kios Jajanan di Sekitar Makam Sunan Bungkul
Mencari mana yang lebih dulu nama tempat diberi nama seorang penyebar agama Islam atau tokoh penyebar agama Islam diberi gelar nama tempat pengabdiannya, sama seperti bermain teka teki mana yang lebih dulu telur atau ayam. Begitu pula ketika mencari tahu asal mula nama Bungkul, banyak sekali versi mengenai nama Sunan Bungkul. 

Ketidak jelasan sejarah mengenai nama Bungkul dibenarkan sejarahwan GH Von Faber di bukunya Oud Soerabaia, terbitan 1931. Faber mencatat kesan nama Bungkul dalam bahasa Belanda yang kira-kira terjemahannya demikian: Orang-orang tua melarang menceritakan apa pun tentang Bungkul ini. Pelanggaran terhadap larangan itu pasti diganjar hukuman. Demikian pula ibu, istri, dan anak-anaknya akan mendapatkan celaka.

Kisah Delima Sunan Bungkul dan Raden Paku (Sunan Giri) edisi Ziarah Wali Surabaya

Taman Bungkul di Jalan Raya Darmo
Sunan Bungkul adalah tokoh perjuangan Islam tingkat lokal seperti Syeh Abdul Muhyi di Tasikmalaya, Jawa Barat, Raden Papak di Gagut, Jawa Barat, Ki Ageng Gribig di Malang, Jawa Timur dan Sunan Prapen di Gresik, Jawa Timur serta wali-wali lokal lainnya di Nusantara. Beliau adalah ayah mertua dari Raden Paku (Sunan Giri). 

Kisah Sunan Bungkul ketika hendak mencari menantu untuk anaknya Dewi Wardah menggunakan buah spesial yang tertulis di al Quran yaitu buah delima. Pada al Quran, buah delima tertulis indah di kalam Allah di Surah Ar Rahman ayat 68, Surah Al An’am ayat 99 dan ayat 141. Allah menyebut buah delima (rumman) sebanyak 3 kali di dalam ayatNya untuk menunjukkan betapa hebatnya penciptaan Allah itu dan Buah delima juga disebut sebagai buahan daripada surga.

Sejarah Kawasan Makam Sunan Bungkul (Edisi Wisata Ziarah Surabaya)

Peziarah Menuju Makam Sunan Bungkul

Mendengar kisah Sunan Bungkul dari Bapak Didik, supir perjalanan ziarah kali ini membuat kami memasukkan makam Sunan Bungkul langsung ke agenda ziarah. Bagi Bapak Didik, makam Sunan Bungkul ini adalah makam yang wajib dikunjungi dalam rangkaian ziarah di kawasan Surabaya. 

Bahkan bagi sebagian peziarah, berziarah ke Makam Sunan Bungkul dilakukan sebelum berziarah ke Sunan Ampel. 

“Kawasan makam ini lebih tua dari kawasan makam Sunan Ampel”, ujar penjaga makam (kuncen) Sunan Bungkul. Terdapat catatan mengisahkan, tempat ini 700 tahun silam sebelum bernama Surabaya, dikenal dengan sebutan “Pertapaan Mbah Bungkul”. 

Kawasan Makam Sunan Bungkul terletak di pusat kota Surabaya, yaitu di Jalan Darmo Raya. Berada di balik taman Bungkul, tertutup kios makanan dan perumahan, Kawasan Makam Sunan Bungkul tetap bersih dan terpelihara.