Showing posts with label Sunan Bungkul (Ki Ageng Supo). Show all posts
Showing posts with label Sunan Bungkul (Ki Ageng Supo). Show all posts

Kisah Persahabatan Sunan Bungkul dan Sunan Ampel (edisi Ziarah Waliyuallah Surabaya)

Boengkoel Park (Nama Taman Bungkul versi Majalah Soerabaja)
Kisah Sunan Bungkul, Surabaya berkaitan erat dengan Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Konon, Raden Rahmat atau Ali Rahmatullah (kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel) diyakini pernah singgah di tempat ini setelah berbulan-bulan melakukan perjalanan dengan naik perahu dari Trowulan, Majapahit (sekarang Mojokerto, Jawa Timur). Raden Rahmat atau Sunan Ampel singgah di tempat Bungkul saat tengah menyusuri Kalimas sebelum menuju ke kawasan Ampel Denta (kawasan Surabaya Utara). Dari cerita beberapa sumber, Sunan Ampel kemudian lama ikut ngawulo atau menetap di kawasan Bungkul yang saat itu masih hutan belantara.

Jejak Sejarah Sunan Bungkul (edisi Ziarah Wali Allah Surabaya)

Kios Jajanan di Sekitar Makam Sunan Bungkul
Mencari mana yang lebih dulu nama tempat diberi nama seorang penyebar agama Islam atau tokoh penyebar agama Islam diberi gelar nama tempat pengabdiannya, sama seperti bermain teka teki mana yang lebih dulu telur atau ayam. Begitu pula ketika mencari tahu asal mula nama Bungkul, banyak sekali versi mengenai nama Sunan Bungkul. 

Ketidak jelasan sejarah mengenai nama Bungkul dibenarkan sejarahwan GH Von Faber di bukunya Oud Soerabaia, terbitan 1931. Faber mencatat kesan nama Bungkul dalam bahasa Belanda yang kira-kira terjemahannya demikian: Orang-orang tua melarang menceritakan apa pun tentang Bungkul ini. Pelanggaran terhadap larangan itu pasti diganjar hukuman. Demikian pula ibu, istri, dan anak-anaknya akan mendapatkan celaka.

Kisah Delima Sunan Bungkul dan Raden Paku (Sunan Giri) edisi Ziarah Wali Surabaya

Taman Bungkul di Jalan Raya Darmo
Sunan Bungkul adalah tokoh perjuangan Islam tingkat lokal seperti Syeh Abdul Muhyi di Tasikmalaya, Jawa Barat, Raden Papak di Gagut, Jawa Barat, Ki Ageng Gribig di Malang, Jawa Timur dan Sunan Prapen di Gresik, Jawa Timur serta wali-wali lokal lainnya di Nusantara. Beliau adalah ayah mertua dari Raden Paku (Sunan Giri). 

Kisah Sunan Bungkul ketika hendak mencari menantu untuk anaknya Dewi Wardah menggunakan buah spesial yang tertulis di al Quran yaitu buah delima. Pada al Quran, buah delima tertulis indah di kalam Allah di Surah Ar Rahman ayat 68, Surah Al An’am ayat 99 dan ayat 141. Allah menyebut buah delima (rumman) sebanyak 3 kali di dalam ayatNya untuk menunjukkan betapa hebatnya penciptaan Allah itu dan Buah delima juga disebut sebagai buahan daripada surga.

Sejarah Kawasan Makam Sunan Bungkul (Edisi Wisata Ziarah Surabaya)

Peziarah Menuju Makam Sunan Bungkul

Mendengar kisah Sunan Bungkul dari Bapak Didik, supir perjalanan ziarah kali ini membuat kami memasukkan makam Sunan Bungkul langsung ke agenda ziarah. Bagi Bapak Didik, makam Sunan Bungkul ini adalah makam yang wajib dikunjungi dalam rangkaian ziarah di kawasan Surabaya. 

Bahkan bagi sebagian peziarah, berziarah ke Makam Sunan Bungkul dilakukan sebelum berziarah ke Sunan Ampel. 

“Kawasan makam ini lebih tua dari kawasan makam Sunan Ampel”, ujar penjaga makam (kuncen) Sunan Bungkul. Terdapat catatan mengisahkan, tempat ini 700 tahun silam sebelum bernama Surabaya, dikenal dengan sebutan “Pertapaan Mbah Bungkul”. 

Kawasan Makam Sunan Bungkul terletak di pusat kota Surabaya, yaitu di Jalan Darmo Raya. Berada di balik taman Bungkul, tertutup kios makanan dan perumahan, Kawasan Makam Sunan Bungkul tetap bersih dan terpelihara.