Showing posts with label Mojokerto. Show all posts
Showing posts with label Mojokerto. Show all posts

Ziarah Makam Wali Mojokerto : Makam Dua Bangsawan Majapahit di arel Makam Troloyo

Kanan - atas : Makam Tumenggung Satim Singomoyo
Kanan dan kiri bawah : Makam Tumenggung Patas Angin
Tumenggung Satim Singomoyo dan Tumenggung Patas Angin adalah bangsawan Majapahit yang di makamkan di Komplek Makam Troloyo, Mojokerto, Jawa Timur. Menurut sejarah, Tumenggung Satim Singomoyo turut membantu Syech Jumadil Qubro dalam menyebarkan agama Islam di bumi Majapahit. Syech Jumadil Kubro dan Tumenggung Satim Singomoyo selalu bemusyawarah untuk melakukan dakwah Islam di daerah Majapahit. 

Tumenggung Satim Singomoyo dimakamkan di bagian depan dari makam Syech Jumadil Kubro. Terdapat pohon jati sebagai tanda makam Tumenggung Satim Singomoyo. Hingga saat ini pohon jati tersebut masih berdiri tinggi dan besar. Disekeliling pohon jati tersebut tumbuh pula pohon apak dan beringin sehingga saat ini hanya terlihat hanya pohon apak dan beringin.

Wisata Ziarah Mojokerto : Jejak Sejarah Islam di Masa Kerajaan Majapahit dari Makam Troloyo

Plang Berisi Informasi Makam di areal Troloyo
Areal Makam Troloyo adalah areal pemakam Islam tua yang berasal dari zaman Majapahit. Teletak di situs Trowulan, di tengah – tengah kota Jombang dan Mojokerto, luas areal makam Troloyo diperkirakan seluas 2 ha. Makam Syech Jumadil Qubro merupakan makam utama di makam Troloyo. 

Di bagian depan kiri makam Syech Jumadil Qubro (apabila dilihat dari gapura kedatangan) terdapat komplek yang terdiri dari makam Tumenggung Satim Singomoyo, Imamuddin Sofari dan Sayyid Chusen. Di sebelah kanan depan terdapat petilasan Wali Songo yang merupakan komplek dari sembilan makam (kubur songo) dan makam Tumenggung Patas Angin.

Makam Troloyo Sebagai Tonggak Sejarah (Edisi Wisata Wali Mojokerto)

Komplek makam Troloyo, Mojokerto, Jawa Timur adalah salah satu peninggalan sejarah yang terletak di kawasan Trowulan. Makam Troloyo merupakan bukti sejarah yang masih berdiri tegak dan banyak dikunjungi. Pengunjung makam Troloyo datang untuk berziarah ke wali Allah yang dimakamkan disana. 

Makam Troloyo adalah bukti keberadaan Islam di Kerajaan Majapahit. Nisan di makam Troloyo menjadi tonggak sejarah Islam di pulau Jawa. Pada nisan di makam Troloyo tertulis tahun 1366M, 1370M, 1407M,1418M, 1427M, 1467M, dan 1475M. 

Ditulis dengan aksara Kawi dengan penanggalan Saka. Terdapat pula nisan dengan tahun 1469M dan 1533M yang ditulis dengan Aksara Arab dengan penanggalan Hijriah. Hal ini membuktikan bahwa makam tersebut milik orang Muslim Jawa bukannya orang asing.

Makam Sunan Ngudung (Sayyid Utsman Haji) di Komplek Makam Troloyo (Edisi Wisata Ziarah Wali Allah Mojokerto)

Lokasi makam Sunan Ngudung di makam Troloyo, Mojokerto adalah disamping Masjid Baitul Muttaqin, dibelakang makam Sayyid Jumadil Kubro. 

Nama asli Sunan Ngudung adalah Sayyid Utsman Haji. Beliau adalah ayah dari Sunan Kudus, Sayyid Ja'far Shadiq. 

Di Kompleks makam Troloyo, Makam Sunan Ngudung terletak terpisah dengan makam Syech Jumadil Kubro. Walaupun letaknya terpisah, makam Sunan Ngudung (Sayyid Utsman Haji) memiliki ruang  yang khusus sama seperti makam makam Syech Jumadil Kubro.

Wisata Mojokerto Ziarah Waliyuallah: Biografi dan siapakah Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) berdasarkan Naskah Mertasinga

Makam Syekh Jumadil Qubro yang agung

Berbicara mengenai Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) kita berbicara mengenai penghulu para wali Allah dan penghulu para habaib di Nusantara Indonesia ini. Tokoh penting dalam penyebaran Islam di Indonesia ini bahkan memiliki 4 empat tempat yang dipercaya sebagai peristirahatan terakhir Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) yaitu di makam Troloyo berada satu lokasi dengan situs Trowulan Majapahit, Mojokerto, Semarang, Desa Turgo, Merapi, Yogyakarta dan Parang Tritis, Gunung Kidul, Yogjakarta. 

Saya kemudian mencari - cari mengenai empat tempat, yang saya dapatkan adalah banyak sekali peziarah yang datang ke makam Troloyo atau makam Tralaya untuk berziarah ke Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro). Sehingga makam Syeh Jumadil Kubro menjadi salah satu obyek wisata religi di Mojokerto. Di  Desa Turgo, Merapi,Yogjakarta dekat Plawangan dan Parang Tritis, Yogja hanyalah petilasan (daerah yang pernah disinggahi beliau).

Areal Makam Syekh Jumadil Kubro dari depan
Mengenai makam Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) yang berada di Semarang belum saya dapatkan foto peziarah berkunjung kesana. Informasi mengenai Makam Syekh Jumadil Kubro di Semarang hanya seputar letak yaitu di jalan Yos Sudarso No. 1 Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk dan acara doa bersama. 

Di makam Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) secara regular diadakan acara manakib  setiap malam Jumat Paing jam 19.00 dan pada acara peringatan Maulid Nabi sedangkan setiap Jumat Legi diadakan acara Mujahadah Kubro dan pengajian. Untuk Khaul Akbar diadakan setiap tahun sekali pada bulan Dzulhijjah Jumat terakhir dengan membawa maulidurrosul dan tahlil.

Mengenai Biografi dan siapakah Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) juga memiliki banyak versi sejarah. Nama asli dari  Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) terdapat dua versi yaitu Syeikh Jamaluddin al Husain al Akbar dan Syekh Jamaluddin Akbar dari Gujarat (Martin van Bruinessen,1994). Semua pendapat mengenai Biografi dan siapakah Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) mengarah pada 2 pendapat sejarah mengenai beliau termasuk silsilah beliau dan sejarah penyebaran Islam yang beliau lakukan.

Bagian dalam Makam Syekh Jumadil Qubro

Dalam penulisan biografi dan sejarah Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) saya berpegang pada naskah Mertasinga. Silsilah yang terdapat dalam Naskah Mertasinga ini saya dapatkan di buku Sajarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Kuningan) karya H.R Amman N. Wahyu. 

Menurut Naskah Mertasinga, Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) merupakan kakek dari Raden Rakhmat (Sunan Ampel) dan uyut dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) melalui garis ayah. Nama Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) yang terdapat di buku inipun hanya mencantumkan nama Jumadil Kabir. 

Nama asli beliau diambil dari sumber lain, yang menyatakan nama asli Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) adalah Zainul Husein atau Jamaluddin Husein Akbar.


Pada Naskah Mertasinga, Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) adalah cucu ke 18 Rasulullah Muhammad SAW melalui garis Imam Husein putra, Sayyidah Fatimah Az Zahra dan Imam Ali bin Abi Thalib. 

Pada Naskah Mertasinga tersebut juga terdapat nama Syekh Jumad yang merupakan kakek dari sunan Giri. Tetapi menurut sumber lain, nama asli Syekh Jumad adalah Syekh Majagung atau R. Nyingkara, adik dari istri Syekh Mustakim. 

Perjalanan dakwah Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk).

Keberadaannya Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) di tanah Majapahit hingga ajal menjelang menunjukkan perjuangan Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) untuk menegakkan agama Islam di bumi Majapahit sangatlah besar. Bahkan saya berpendapat bahwa Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) menjadi saksi ketika Gaj Ahmad (Gajahmada) bersumpah amukti Palapa.

Melihat letak makam beliau di makam Troloyo, terlihat bahwa Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) memiliki dekat dengan pejabat kerajaan Majapahit. Beliau dimakamkan di tempat khusus, ditengah pejabat kerajaan antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunan Ngudung (ayah Sunan Kudus).

Informasi Peta di makam Syekh Jumadil Kubro

Berikut Silsilah Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) menurut Naskah Mertasinga :


Wisata Religi Ziarah Waliyuallah Mojokerto : Sejarah Makam Tralaya atau Troloyo Syekh Jumadil Kubro

Peta Lokasi Komplek Makam Troloyo


Sejarah Makam Islam tua, Troloyo atau makam kuno, Tralaya Mojokerto bukanlah sejarah yang diajarkan dibangku sekolah. Hal ini patut disayangkan, karena kurikulum sejarah kita hanya berpatokan pada perang kebesaran raja - raja, intrik perebutan kekuasaan dan melupakan situs Islam purbakala seperti makam Troloyo atau makam Tralaya di Mojokerto. 

Areal Makam Troloyo, Mojokerto
Lokasi Kompleks Makam Islam tua, Tralaya terletak di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. 

Daerah ini kurang lebih 15 km di sebelah barat kota Mojokerto. Makam Troloyo atau makam Tralaya merupakan situs pekuburan Islam kuno di areal kerajaan Majapahit. 

Tralaya berasal dari kata Sentra dan Pralaya. Sentra berarti Tegal (tanah lapang), sedangkan Pralaya/laya berarti rusak/mati. Kedua kata disingkat menjadi Tralaya yang berarti tanah lapang untuk orang mati (Pekuburan / Makam).

Dengan berkunjung ke makam Troloyo atau makam Tralaya, dapat dirasakan dan dibuktikan tentang adanya komunitas muslim di dalam kota kerajaan Majapahit. Bukti ini di dukung oleh sumber tertulis berupa Kidung Sunda yg menguraikan tentang Pasukan Kerajaan Sunda yg akan mengantarkan puteri Raja Sunda sebagai calon pengantin untuk Raja Hayam Muruk. 

Pasukan terdiri dari 4 orang utusan diiringi 300 orang punggawa. Utusan ini masuk ke ibukota Majapahit dan berjalan ke arah selatan sampai Masjid Agung yg terletak di Palawiyan, selanjutnya berjalan lagi ke arah Timur dan Selatan. Tanda adanya Mesjid agung itulah yang menguatkan adanya komunitas Islam di Majapahit.

Makam Syekh Jumadil Kubro dilihat dari pintu masuk Makam Islam Kuno, Troloyo