Showing posts with label Bali. Show all posts
Showing posts with label Bali. Show all posts

Bagaimana berziarah ke Walipitu di Bali tanpa menggunakan guide?

Bagaimana berziarah ke Walipitu tanpa menggunakan guide? Itulah yang menjadikan kami memberanikan diri untuk menelusuri Bali dari Selatan menuju ke Barat lalu ke Utara lalu ke Timur. 

Alhamdulillah kondisi jalan dan lalu lintas di Bali memungkinkan kami untuk berziarah dengan tepat waktu. Dibantu dengan kondisi sinyal 3G yang selalu "on" mempermudah pencarian lokasi ke tujuh makam Walipitu. 

Tetapi tidak semua lokasi Walipitu kami temukan dengan mudah dengan bantuan googlemaps atau waze. Bantuan informasi dari masyarakat sekitar lokasi makam keramat Walipitu pun diperlukan.

Berikut adalah daftar alamat makam Walipitu di Bali 

1.  Pangeran Mas Sepuh
 (Raden Amangkuningrat)
     Keramat Pantai Seseh

Berada di pinggir Pantai Seseh, Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.


Makam Syeh Ahmad Hamdun Khoirussoleh
(Pangeran Mas Sepuh) 

Walipitu Keramat Pantai Seseh, Bali

Apabila dari Bandara Ngurah Rai, Bali jaraknya adalah 21,8 km memakan waktu perjalan 45 menit tanpa macet dengan melalui jalan tol Mandara lalu keluar ke Denpasar.

Setelah itu ambil ke arah jalan Raya Kerobokan. Jalan yang ditemui kanan kiri adalah sawah. lalu pada perempatanbelok kanan yaitu jalan raya Canggu, ada pertigaan sebelum by pass Canggu. 

Pelan pelan maka di kiri jalan kita akan melihat warung makan Adit dan pohon beringin besar lalu belok kiri menuju Pantai Seseh (Munggu). Siap- siap untuk belok kanan menuju tepi Pantai Seseh. Mentok ke Pantai Seseh cari Banjar Seseh. 

Lokasi makam berada di sebelah kanan Banjar Seseh (Tepi Pantai Seseh). Pintu masuk terdapat gapura besar. Untuk dapat berziarah ke Makam Pangeran Mas Sepuh (Raden Amangkuningrat) harus menghubungi Bapak Mangku yang memegang kunci.

2. Syekh Maulana Yusuf Al-Baghdi Al-Maghribi

Berada di Makam Karang Sokong, Jalan Nenas Bungaya Kangin. Desa Subagan Amlapura Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali.


Makam Keramat Kembar, Syech Maulana Yusuf
Walipitu Karangasem, Bali

Apabila dari arah Denpasar ambil ke arah Pelabuhan Padang Bay. Lurus terus menuju Pantai Candidasa. Sampai lampu merah (ada patung arjuna) maka ambil arah ke kiri Jalan Kuncaragiri arah Bebandem dan Karangasem. Setelah pemakaman keluarga Telagamas, Karangasem, Makam keramat Habib Ali bin Zainal Abidin Al Idrus. 100 meter di kanan jalan adalah Makam Syech Maulana Yusuf.

Apabila sudah menemui perempatan (kiri ke perumahan Islam, Kecicang.. kanan ke PemandianTirta gangga ..lurus ke Jalan Veteran) maka itu tanda sudah terlewat makam keramat Karang sokong , Syech Maulana Yusuf

3. Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih

Berada di Jalan Semangka, Loloan Barat,  Negara, Kabupaten Jembrana, Bali.

Makam Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafagih
Makam Waliyuallah Bali, Wali Keramat Jembrana, Bali

Dari Jalan Denpasar Gilimanuk ambil kiri ke arah Jalan Ngurah Rai lalu ambil Jalan Gunung Agung , Jalan Katulampu. Lalu kita harus memarkir kendaraan kita di Jalan Semangka dan berjalan kaki menuju lokasi Makam Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih.

Makam Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih di area Yayasan Syamsul Huda Jl. Kedondong 1 nomor 34 Loloan Barat, Negara, Kabupaten Jembrana, Bali

4.Habib Ali bin Zainal Abidin Al Idrus 

Berada di Jalan Nenas, Bungaya Kangin. Desa Subagan Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali.


Makam Keramat Kembar, Habib Ali bin Zainal AbidinWalipitu Keramat Karangasem, Bali

Apabila dari arah Denpasar ambil ke arah Pelabuhan Padang Bay. Lurus terus menuju Pantai Candidasa. Sampai lampu merah (ada patung arjuna) maka ambil arah ke kiri Jalan Kuncaragiri arah Bebandem dan Karangasem. Setelah melihat alfamart di sebelah kanan maka perlahan melihat ke sebelah kanan terdapat pemakaman keluarga Telagamas, Karangasem. 

Terdapat dua pintu maka ambil pintu paling ujung untuk masuk. Mobil dapat diparkir di ruko seberang makam Habib Ali bin Zainal Abidin Al Idrus.

5. Habib Umar bin Maulana Yusuf Al-Maghribi
Berada di Puncak Gunung Keramat Agung di dalam Kompleks Kebun Raya Bedugul.
Daerah Candikuning, Baturiti,Kabupaten Tabanan,Bali


Makam Walipitu, Keramat Bedugul, Bali
Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Magribi

Berada di daerah Bedugul ( Danau Bratan atau Pura Ulundanu) selanjutnya mencari arah menuju Kebun Raya Eka Karya. Apabila dari Danau Bratan maka kita belok kanan di pertigaan (patokan patung jagung, indomaret).

Rumah pemegang kunci berada di samping Hotel Pelangi, Bedugul. Dengan Beliau kita akan didampingi naik Gunung Keramat Agung Bedugul. Untuk dapat ke Makam Keramat Habib Amar bin Maulana Yusuf Al Magribi kita harus mendaki gunung 2 jam (untuk yang belum berpengalaman naik gunung) dan turun lebih cepat yaitu 1 jam. 

6.  Syekh Abdul Qodir Muhammad
     (The Kwan Lie  / The Kwan Pao-Lie)
     Keramat Karang Rupit

Budakeling,Bebandem, Budakeling,Kecamatan Karangasem,Kabupaten Karangasem, Bali

Berada di pinggir kiri jalan menuju Pantai Lovina apabila dari arah Raya Gilimanuk. Disamping Restauran Mina Sari Murti.


Makam Syech Abdul Qadir Muhammad
The Kwan Lie , Makam Keramat Seririt

Dari Pelabuhan Gilimanuk maka kita akan belok ke kiri ke arah Taman Nasional Bali Barat. Harap berhati - hati menyetir karena masih terdapat banyak kawanan monyet/hewan yang menyeberang.

Ambil jalan menuju ke Singaraja (jalan Seririt - Singaraja) hingga terdapat per tigaan menuju Kota Seririt , kita ambil yang lurus menuju Pantai Lovina. Sebelum sampai ke Pantai Lovina terdapat daerah bernama Karang Rupit, di kiri jalan setelah Restaurat Mina Sari Murti terdapat makam keramat Walipitu, Syekh Abdul Qodir Muhammad, The Kwan Lie. 

Terdapat banyak orang berjualan buah - buahan. Parkir mobil yang luas berada di seberang jalan makam keramat Karang Rupit.  


7. Habib Ali bin Abu Bakar 
bin Umar bin Abu Bakar Al-Hamid

Berada di Perkampungan Muslim Kusamba Kusamba, Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali 


Makam Walipitu, Keramat Bedugul, Bali
Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid

Berjarak 1 jam dari Ubud, Gianyar. Makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid berada di pinggir pantai , perumahan Muslim Kusamba. 

Dari Denpasar : bypass Klungkung (Jalan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra) terus hingga perempatan ambil kanan Jalan Kusanegara. Hingga berjumpa Pasar Kusamba belok kiri menuju Kampung Islam Kusamba terus hingga melewati mesjid lalu carilah KUA Kusamba. lurus terus di kiri jalan adalah makam Makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid.

Dari Karangasem : Setelah melewati Pantai Candidasa - pertigaan pelabuhan Padangbay lurus terus hingga mencapai jalan Goa Lawah. Pada pertigaan bypass menuju ke Denpasar/Gianyar maka kita belok ke kiri ,Jalan Kusanegara. 

Hingga berjumpa Pasar Kusamba belok kiri menuju Kampung Islam Kusamba terus hingga melewati mesjid lalu carilah KUA Kusamba. lurus terus di kiri jalan adalah makam Makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid.

Perjalanan KH Toyib Zaen Arifin Assegaf dalam Menemukan Walipitu di Pulau Bali

Bali tidak hanya terkenal dengan pemandangan alam yang eksotis, kuliner yang lezat, masyarakatnya yang berbudaya luhur tetapi juga dengan ziarah Sab'atul Auliya (Walipitu). Nampak sejarah Walipitu yang berkaitan dengan peran penyebaran Islam di Pulau Bali sampai saat ini belum diteliti secara mendalam. Istilah Walipitu ini ditemukan oleh seorang Sufi pada 1992 (Muharram 1413H), KH Toyib Zaen Arifin di Waru Sidoarjo yang memperoleh informasi melalui ilham atau hatif dalam riyadhohnya.

Hatif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suara yang terdengar tanpa terlihat orangnya; suara dari langit atau suara gaib. Sehingga dapat disimpulkan bahwa istilah Walipitu di Bali bukan berdasarkan rujukan kitab tertulis seperti istilah Walisongo di Tanah Jawa.


Banyak situs yang menjelaskan mengenai Walipitu dari mulai ulasan mengenai sosok wali yang dimakamkan, lokasi tempat , kaitan dengan sejarah penyebaran Islam di Pulau Bali tetapi mengenai perjalanan penemuan Walipitu oleh KH. Toyib Zaen Arifin sendiri belum banyak yang mengulasnya. 


Situs lengkap mengenai Walipitu adalah al-jamali.blogspot.co.id . Melalui situs ini didapatkan peta penyebaran Walipitu di Bali, foto - foto lengkap dan buku berjudul "Sejarah Wujudnya Makam Wali Pitu di Bali “ yang ditulis oleh KH. Toyib Zaen Arifin. 

Buku ini telah memasuki cetakan yang ke empat, berisi himpunan catatan dari hasil penelitian dan perkembangan dan pengembangan Islam di Bali oleh satu tim dari Pondok putri Al Khoiriyah secara ilmiah pada akhir tahun 1996 M, setelah kurang lebih selama enam tahun mengadakan penyelidikan dan penelusuran makam – makam tua /kuno yaitu makam para perintis/Mubaligh terdahulu yang tersebar atau berada di pelosok – pelosok daerah Bali yang jumlahnya tidak sedikit 

Jean Couteau dalam artikel yang berjudul The Moslem Saints of Bali menceritakan mengenai perjalanan KH. Toyib Zaen Arifin pada awal 1991 lalu bagaimana Beliau menemukan Walipitu pada 1992 hingga 1998. 

Jean Couteau merasakan bagaimana peranan Walipitu yang membuat Islam di Bali berbeda dengan Islam berdogma Salafi dan Wahabi. 

Daftar Makam - Makam Islam Bersejarah di Pulau Bali

Belajar sejarah Islam di Pulau Bali dapat dilakukan dengan menyelusuri artefak peninggalan Islam baik itu berupa masjid, al Quran tulisan tangan, bangunan , peninggalan kerajaan Islam Bali bahkan termasuk makam auliya yang telah meninggal ratusan tahun yang lalu.

Makam auliya di Pulau Bali yang sering di ziarahi umat Islam dari seluruh penjuru Indonesia banyak jumlahnya. Ada tujuh makam yang termasuk dalam Sab'atul Auliya (Walipitu) , ada makam tokoh - tokoh kerajaan yang berkaitan dengan penyebaran Islam di Pulau Bali.

Berikut daftar Makam - Makam Islam Bersejarah di Pulau Bali :

1.   Pangeran Mas Sepuh (Raden Amangkuningrat) 
2.   Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar 
      Al-Hamid
3.   Habib Ali bin Zainal Abidin Al-Idrus 
4.   Syekh Maulana Yusuf Al-Baghdi Al-Maghribi
5.   Habib Umar bin Maulana Yusuf Al-Maghribi 
6.   The Kwan Lie, Syekh Abdul Qodir Muhammad
7.   Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih

Merupakan Walipitu berdasarkan Buku Sejarah Wujudnya Makam Sab’atul Auliya’, Wali Pitu oleh KH. Toyib Zaen Arifin.

8.   Dewi Siti Khotijah 
9.   Pangeran Sosrodiningrat  

Makam Dewi Siti Khotijah dan Pangeran Sosrodiningrat berada di Ibukota Propinsi Bali yaitu Denpasar.

10. Raden Datu Mas Pakel atau Sunan Mumbul
11.Bunda Siti Syarifah di Suwung 
12.Tn.Guru Haji Abdullah Baharuddin di Serangan

Kisah Penemuan Makam Wali Pitu (Sab'atul Aulia) di Pulau Bali

Pulau Bali adalah pulau yang disetiap jengkalnya berisi keindahan alam. Manusia dari seluruh dunia datang ke Bali untuk melihat keindahan alam yang disebut "paradise" atau surga ini.

Bagi umat Islam di Indonesia, Pulau Bali memiliki sejarah Islam tersendiri. Walaupun penduduk Bali mayoritas beragama Hindu tetapi Islam di Bali memiliki sejarah Islam, penduduk dan wilayah tersendiri. 

Artefak  sejarah Islam yang masih dapat kita telusuri adalah makam wali pitu (Sab'atul Aulia) di Pulau Bali . Letak dari wali pitu di Bali menyebar dari mulai Timur, Selatan, Utara , Barat Pulau Bali.


Penemuan wali pitu ini berawal dari isyarat sirri KH Toyib Zaen Arifin pada bulan Muharram 1412 H/1992. Penemuan ini berdasarkan hasil Riyadhoh yang dilakukan pada beberapa malam (sehabis shalatul lail)  di rumah Beliau di Sidoarjo. Petunjuk - petunjuk tersebut diperoleh KH Toyib Zaen Arifin secara berangsur - angsur melalui hembusan suara sayup dalam bahasa Jawa diantaranya berbunyi:



“Wus kaporo nyoto ing telata Bali iku kawengku dining pitu piro-piro wali. Cubo wujudno.” 

Artinya :

Di daerah Bali nyata dihuni oleh tujuh orang Wali. Coba wujudkan.


"Ono sawijining pepunden ono ing telatah susunaning siti sesandingan pamujaan agung kang manggon saduwuring tirto kang kaderbeni dening suwitaning Pandito. Ojo sumelang ."

Artinya:

Ada suatu tempat yang dipuja- puja berada di atas tanah susun berdampingan Pura Agung terletak di atas air yang memelihara seorang Pendeta jangan ragu - ragu.

"Waspadakno pitu iku kaperang dadi papat."


Artinya:

Waspadalah tujuh itu terbagi menjadi empat.

"Pitu kaperang dadi papat iku pangertene, Kapisan wis kaparo nyoto, kapindo istijrot wujude kembar, kaping telu wis lahir ning durung wujud, kaping papat, liyo bongso."


Artinya:

Tujuh dibagi empat itu pengertiannya. Pertama telah nyata, kedua Istijrot wujudnya kembar, ketiga sudah lahir tetapi belum wujud, yang keempat lain bangsa.


Setelah mendapatkan petunjuk tersebut KH Toyib Zaen Arifin bersama timnya dari Jama’ah Akhlaqul Hasanah - Jam’iyyah Manaqiban Al-Jamali Kota Denpasar kemudian mengadakan penelitian dan penelusuran untuk mewujudkan adanya tujuh orang auliya’ (Sab’atul Auliya’) di pulau Bali. 

Proses pencarian dan penemuan Walipitu di Bali adalah sejak  1992 hingga 1998, dari pentafsiran hatif tersebut maka didapat makam yang termasuk walipitu di Bali yaitu : 

Kapisan wis kaporo nyoto 

(yang pertama telah nyata tidak diragukan lagi ke Waliannya) 

1.  Makam Keramat Pantai Seseh yaitu Makam 
     Pangeran mas Sepuh. 
2.  Makam Habib Umar Bin Maulana Yusuf di Bukit 
     Bedugul. 
3.  Makam Habib Ali Bin Abu Bakar Bin Umar Bin 
     Abu Bakar Al Khamid di Klungkung. 

Kapindo Istijrot 
(kedua istijrot tersanjung atau tak dihitung, tidak termasuk bilangan Wali Pitu) 
*   Makam Dewi Khodijah di Pamecutan, Denpasar 
*   Makam Keramat Ubung Pangeran Sastrodiningrat 
     di Ubung Denpasar. 

 Wujude kembar 
(wujudnya kembar) 
4.   Makam Chabib Ali Bin Zaen Al Idrus di 
      Karangasem. 
5.   Makam Syeh Maulana Yusuf Al Maghribi di 
     Karangasem. 

Wis lahir ning durung wujud 
(sudah ada tapi belum wujud makam) 
6.   Makam Habib Ali Bin Umar Bafaqih di Jembrana.
Pada saat penelusuran Makam wali Pitu beliau masih hidup, namun pada tanggal 29 Maret 1999 M, Beliau telah wafat.

Lio bongso 
(lain bangsa) 
7.   Makam The Kwan Lie atau Keramat Karang Rupit.

Masjid Al Barkah yang dibangun tahun 1818 oleh Guru Sinin : Jelajah Situs Bersejarah di Kemang, Jakarta Selatan

Menara Masjid Bersejarah Al Barkah, Kemang

Daerah Kemang , Jakarta Selatan terkenal dengan daerah yang dipenuhi dengan restoran, hotel bahkan kehidupan malamnya. Bahkan Kemang terkenal menjadi daerah yang banyak dihuni orang asing mereka tinggal, berbelanja bahkan anak - anak merekapun bersekolah di sekolah internasional yang banyak berdiri di seputaran daerah Kemang.

Siapa sangka, terdapat situs Islam bersejarah di Kemang, Jakarta Selatan. Situs Islam bersejarah itu berbentuk bangunan masjid yang dibangun tahun 1818. Letaknya adalah di persimpangan antara jalan Kemang Utara dan Kemang Timur. Penuhnya kendaraan dan lalu lintas yang tak pernah sepi membuat kita tak sadar akan keberadaan mesjid bersejarah ini.
Masjid Bersejarah Al Barkah, Kemang yang telah direnovasi

Masjid Al Barkah sekilas nampak seperti  masjid yang baru berdiri bahkan masjid yang belum rampung pembangunannya. Hal ini disebabkan karena sejak tahun 1932 hingga kini dengan jumlah total 11 kali renovasi. Pada tahun 1932 misalnya, bahan-bahan dari papan sudah mulai digunakan. Bahan-bahan itu diperoleh dari seluruh jamaah masjid. 

Berturut-turut kemudian, tahun 1935,1950,1960, dan 1970 sebagian masjid sudah berubah, terutama bagian dalam masjid. Baru pada tahun 1985 pembangunan tersebut mulai sempura. Kini, Masjid al Barkah sudah mengunakan ubin keramik dan atapnya dari bahan eternit seperti masjid lainnya. 

Makam Guru Sinin, pendiri Masjid Bersejarah Al Barkah, Kemang

Sosok yang berjasa mendirikan masjid bersejarah di Kemang, Jakarta Selatan adalah Guru Sinin. Guru Sinin yang bernama asli Husaini/ Muchsinin adalah seorang putera dari ‘ulama kharismatik yang bernama Syaikh Abdurrahman yang biasa orang sebut Kyai Sudur berasal dari daerah kulon, kawasan Banten Girang.

Ayah dari Guru Sinin yaitu Syaikh Abdurrahman atau Kyai Sudur masih punya hubungan saudara dengan Syaikh Mansyur Ci Kaduen, yang terlahir sekitar tahun 1774.  Guru Sinin datang ke daerah Kemang ini tidak sendiri akan tetapi bersama isterinya yang bernama Ni’ Made Ibah seorang puteri dari salah satu kerajaan di Bali, tepatnya di daerah Klungkung, Bali.

referensi : 
website syabaabul muslimin 
website al-shia

Sejarah Keramat Agung Pamecutan Edisi Ziarah Wali Pitu Bali Makam Raden Ayu Pamecutan (3)

Makam Wali Allah di Tengah Setra Badung
di Daerah Monang - Maning Denpasar

Kisah Raden Ayu Siti Khotijah memeluk agama Islam adalah karena perkenalan beliau kepada Islam melalui suaminya Pangeran Cakraningrat IV dari Bangkalan Madura. Pangeran Cakraningrat IV adalah suami dan juga penyembuh sakit kuning yang diderita Raden Ayu Siti Khotijah berkat izin Allah SWT.


Setelah Pangeran Cakraningrat IV dapat menyembuhkan raden Ayu Siti Khotijah, Raja Pamecutan memanggil Beliau untuk menyampaikan ucapan terima kasih dan menanyakan apakah Pangeran Cakraningrat IV jatuh hati pada putri Beliau. Pangeran Cakraningrat IV menyatakan beliau sangat terpesona dan mencintai putri Gusti Ayu Made Rai. Dengan adanya pengakuan dari kedua belah pihak maka mereka dinikahkan di Istana Kerajaan Pamecutan yang disaksikan oleh 40 orang pengawal Pangeran Cakraningrat IV dan seluruh keluarga kerajaan Pamecutan.


Gusti Ayu Made Rai, Putri Raja Pamecutan Bali yang Memeluk Agama Islam Edisi Ziarah Wali Pitu Bali Makam Raden Ayu Pamecutan (2)

Bangunan Makam Wali Pitu di Denpasar
Keramat Agung Pamecutan

Masuknya Islam di Pulau Bali salah satunya berawal dari wilayah Pamecutan. Bukti sejarah mengenai masuknya Islam dari daerah Pamecutan adalah adaya makam Raden Ayu Siti Khotijah dikeramat agung Pamecutan yang termasuk pada tujuan ziarah Islam di Bali, Wali Pitu.

Sejarah mengenai kesyahidan Raden Ayu Siti Khotijah berkaitan dengan Islamnya Beliau yang diperkenalkan oleh suaminya Pangeran Cakraningrat IV dari Bangkalan, Madura (1718-1753). Raden Ayu Siti Khotijah adalah putri raja di Puri Pemecutan yang bergelar I Gusti Ngurah Gede Pemecutan yang namanya dahulu adalah Gusti Ayu Made Rai. 

Kecantikan sang Putri membuat ia menjadi kembang kerajaan sehingga tak sedikit para mahapatih Dan putra mahkota Raja-raja di Bali terkesima dan hendak melamarnya. Disaat semuanya nampak indah, Raden Ayu Siti Khotijah ditimpa penyakit keras dan menahun yakni sakit kuning.

Keramat Agung Pamecutan, Kedamaian Bernafas Islam di Pulau Bali Edisi Ziarah Wali Pitu Bali Makam Raden Ayu Pamecutan (1)

Pintu Kedua atau Candi Kurung
Menuju Makam Raden Ayu Siti Khotijah 

Bali akrab disebut pulau Dewata karena keindahan alam, kebudayaan dan keistimewaan hidup penduduknya. Dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, dengan tetap menghidupkan ritual peninggalan nenek moyang, Bali menjadi pusat keindahan sehingga banyak turis berkunjung ke Bali. 

Keindahan Bali tidak hanya terbatas pada objek wisata tetapi juga keterikatannya dengan kosmologi jagad raya sehingga banyak orang menemukan arti kehidupan seperti Elizabeth Gilbert dalam buku terkenal Eat, Pray and Love.

Eksotika Bali tidak hanya milik agama tertentu tetapi milik Tuhan Yang Maha Kuasa, Sesembahan Manusia. Daya magis bernafas Islampun terdapat di Bali, pulau yang terkenal juga dengan pulau dengan 1000 pura. Wisata ziarah Islam di Bali terkenal dengan rangkaian ziarah Wali Pitu atau Wali Tujuh. 

Salah satu dari destinasi ziarah Wali Pitu di Bali adalah Keramat Agung Pamecutan yaitu Makam Raden Ayu Pamecutan dengan nama Islam Beliau adalah Raden Ayu Siti Khotijah.