Showing posts with label Cirebon. Show all posts
Showing posts with label Cirebon. Show all posts
Travelling sambil Belajar Sejarah Islam di Cirebon sambil Wisata Kuliner..Seru!


Cirebon adalah kota di pesisir utara Jawa yang merupakan daerah transit apabila kita berkendaraan dari Jawa barat atau Jakarta menuju Jawa Tengah , Jawa Timur dan Pulau Bali. Cirebon memiliki segala eksotikanya sehingga merupakan salah satu destinasi wisata karena memiliki banyak sekali peninggalan sejarah yang bernuansa Islam. Dari mulai keraton, makam wali Allah, Sunan Gunung Jati, ritual, prosesi dan benda - benda bersejarah yang sampai saat ini terjaga.

Sejarah Islam Cirebon dimulai dari ketiga putra dari Prabu Siliwangi sebagai cikal bakal dan purwanya sebagian besar rakyat Pajajaran memeluk Agama Islam. Dan akhirnya Pajajaran agama Sang Hiang/Hindu-Budha lenyap dari muka bumi sebagai negara dan diteruskan oleh Caruban/Cirebon sebagai negara yang beragama Islam. Dengan perkataan lain Pajajaran adalah awal Cirebon, Cirebon adalah akhir Pajajaran. Pula Cirebon jadi kerajaan Islam yang pertama di pulau Jawa dan Demak adalah kerajaan Islam keduanya. 

Tahun 1479, Dewan Wali Sanga yang diketuai semula oleh Sunan Ampel dan setelah Sunan Ampel wafat Dewan Wali diketuai oleh Sunan Gunung Jati Syekh Syarif Hidayatullah. Kemudian pada tahun itu juga Dewan Wali Sanga memproklamirkan Cirebon sebagai Negara Islam Merdeka untuk basis penyebaran agama Islamnya.

Jangan lupa selain melakukan penelusuran sejarah, sempatkan untuk mencicipi masakan lokal yang sangat lezat seperti :


1. Serabi



Serabi cirebon berbeda dengan serabi di daerah lain dimakan dengan menggunakan kuah. Serabi Cirebon hanya ada di pagi hari , bahkan Serabi Cirebon di Pasar Kanoman Cirebon buka pada pukul 5 pagi.

Serabi Cirebon dimakan dengan gorengan, terdapat tempe goreng, tahu, bala - bala, bahkan pisang goreng.

Serabi Pasar Kanoman
Pasar Kanoman, Jalan Lemahwungkuk, Cirebon
Jam buka : subuh hingga pagi hari


2. Empal Gentong



Tak lengkap apabila pergi ke cirebon tanpa makan empal gentong. Empal gentong ada yang menggunakan santan ada yang tidak menggunakan santan yang disebut empal asem.Empal gentong pun ada yang menggunakan daging atau jeroan. 

Empal gentong dapat ditemani dengan sepiring nasi atau lontong. Tergantung selera. Jangan lupa menikmati kerupuk kulit yang renyah dan cabe bubuknya yang khas.

Empal Gentong Krucuk 
Jalan Slamet Riyadi No. 5 Cirebon
Jam Buka : 07.00 - 21.00

Empal Gentong Asem Amarta
Jl. Ir. H Juanda No. 37, Plered, Cirebon
Jam Buka : 09.30 - 21.00

3. Mie Koclok



Mie koclok cirebon memiliki rasa tersendiri dengan merica yang terasa. Mi koclok Cirebon adalah mie rebus yang disajikan dengan siraman kuah kental, irisan daun bawang, kol, taoge, telur rebus, suwiran daging ayam, teburan bawang goreng serta merica dan sambal merah di salah satu sisinya. Ditambah lagi dengan kerupuk putih kecil hangat dan nikmat.

Mie Koclok Panjunan
Jalan Panjunan, Cirebon dekat Masjid Merah Panjunan
Jam Buka : 17.00 - 23.00

4. Bubur Sop Ayam



Yang membedakan bubur ayam dengan bubur sop ayam cirebon ini adalah siraman kuah sop ayam. Pada bubur sop ayam  berisi suwiran daging ayam, kentang, bihun, sayuran, dan kacang ini disiram dengan kuah sop ayam. 

Bubur Sop Ayam M. Kapi
Jalan Tentara Pelajar, Cirebon. Tepatnya di samping jembatan Tentara 
Jam BUka : 17.00 hingga habis


5. Tahu Gejrot



Tahu gejrot cirebon terkenal karena tahunya yang gurih dan renyah ditambah dengan kuah kecap manis bersambal pedas bercampur bawang putih dan bawang merah. Memakan Tahu gejrot cirebon harus siap dengan kepedasannya. Di Cirebon, tahu gejrot banyak dijumpai. Salah satunya adalah di pasar Kanoman Cirebon atau di Pusat Oleh - Oleh Toko Daud.

Tahu Gejrot Pusat Oleh - Oleh Toko Daud 
Jalan Sukalila Utara No 4D, Cirebon
dekat dengan Pasar Pagi Cirebon
Jam Buka : 07.00 - 20.00 

6. Docang




Docang merupakan makanan para wali. Makanan yang terdiri dari daun singkong, tauge rebus, parutan kelapa disiram dengan kuah oncom dan disajikan dengan lontong. 

Terdapat kisah mengenai Docang ini sehingga disebut makanan para wali . Dahulu Pangeran Rengganis tidak menyukai kegiatan para wali songo menyiarkan agama islam di tanah Jawa termasuk di Cirebon. Bermaksud ingin menyudahi kegiatan tersebut, sang pangeran pun membuat masakan untuk wali songo yang sedang berkumpul di Masjid Sang Cipta Rasa yang dibumbui dengan racun. Tetapi malah para Wali tidak meninggal diracun malahan mereka sangat menyukai makanan ini. 

Docang Ibu Kapsa
Jalan Siliwangi, Cirebon 
(depan Jalan Stasiun Kejaksan)
Jam Buka : 06.00 - 09.00

7. Bubur Kacang Hijau dan Bubur Ketan Hitam



Ketika malam - malam tiba atau bahkan pagi dini hari bubur kacang hijau dicampur ketan hitam dapat menghangatkan perut. Ringan dan rasanyapun nikmat. Di restauran yang menjual bubur kacang hijau ini juga menjual bubur ayam yang lezat.

Bubur M.Toha
Jalan M. Toha Cirebon
(pertigaan Jl Siliwangi, Cirebon – seberang hotel Amaris)
Jam buka : 24 jam


8. Nasi Lengko


Nasi Lengko adalah nasi yang berisi berisi irisan timun kecil-kecil, taoge, daun bawang, irisan tempe, dan tahu, kemudian disiram dengan bumbu kacang pedas serta taburan bawang goreng. Rasanya sangat segar dan lebih nikmat lagi bila dimakan dengan  sate kambing bumbu kacang dan kerupuk putih. 

Nasi Lengko H. Barno
Jalan Pagongan 15b , Cirebon
Jam Buka: 06.00 – 21.00 

9. Nasi Kuning




Nasi kuning  merupakan kuliner malam khas Cirebon. Disajikan hangat dan dapat dipilih untuk hidangan lainnya adalah gorengan, suwiran dadar telur, lauk ayam, oreg tempe dan sambal.

Nasi Kuning "Ibu Mar" 
pinggir jalan Kesambi, sebelah kanan jalan dari arah RS Gunung Jati, tepat sebelum rel kereta api 
jam buka : malam hari


10. Nasi Jamblang





Kuliner yang identik dengan Cirebon adalah nasi jamblang. Nasi yang beralaskan daun jati dan sambal cabe merah yang khas membuat kita ketagihan untuk makan nasi jamblang. Pilihan lauk yang ditawarkan sangat banyak. Terkadang membuat kita kalap memilih.

Nasi Jamblang Mang Dul
Jl. Dr. Cipto Mangunkusomo No. 58, Cirebon
Jam Buka : 16.00 - 24.00

Nasi Jamblang Bu Nur
Jl. Cangkring II No. 34, Kejaksan, Cirebon
Jam Buka :07.00 - 22.00

Legenda Candi Prambanan dan Kisah Balong Keramat Darma Loka, Kuningan(Edisi Ziarah Wali Allah Kuningan, Jawa Barat)


Situs peninggalan leluhur Nusantara banyak dikaitkan dengan kisah legenda bagaimana pembuatan bangunan tersebut. Salah satunya legenda yang berkaitan dengan Candi Prambanan. Kisah pembangunan Candi Prambanan di Yogyakarta yang dibuat hanya semalam oleh Bandung Bondowoso demi memenuhi sayembara Rara Jongrang. Sang pujaan hati yang cantik jelita, Rara Jongrang mensyaratkan kepada Bandung Bondowoso untuk membuat 1000 candi dalam semalam. 

Legenda tentang asal muasal terbuatnya Candi Prambanan yang berkaitan dengan Rara Jongrang dan Bandung Bondowoso tetap kita dengar hingga kini. Pada sejarahnya Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar dan termegah yang pernah dibangun di Jawa kuno, pembangunan candi Hindu kerajaan ini dimulai oleh Rakai Pikatan untuk menandai kembali berkuasanya keluarga Sanjaya atas Jawa. Bangunan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dan secara berkelanjutan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu.  


Di Kuningan, Jawa Barat terdapat legenda yang menceritakan tentang pembuatan sebuah kolam yang dibuat dalam waktu semalam yaitu kolam Darmaloka. Situs peninggalan leluhur, Balong keramat Darma Loka tersebut didibangun oleh seorang utusan Sunan Gunung Jati bernama Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan sekitar tahun 1670 Masehi.

Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan adalah waliyuallah yang dimakamkan di situs kolam Darmaloka, Kuningan, Jawa Barat. Dikisahkan Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan membuat lima balong di kawasan Darma Loka dalam kurun waktu satu malam saja. Ke lima Balong tersebut adalah Balong ageung, Balong Bangsal, Balong Beunteur Balong Bale Kambang dan Sumber Air Cibinuang. 


Selain dibangun hanya dalam waktu satu malam, situs peninggalan Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan memiliki tata letak taman air yang indah dan penuh unsur filosifis yang tinggi. Hal ini karena Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan selain dikenal sebagai seorang ulama besar, beliau adalah seorang ahli arsitektur yang handal. Hal ini terbukti dengan keberhasilannya membangun kolam Darmaloka yang indah yang apabila dilihat dari atas susunan lima kolam tersebut jika dihubungkan membentuk lafadz “Muhammad”. 

Balong keramat Darma Loka bukanlah sebuah legenda semata tetapi adalah bukti karamah dari wali Allah Kuningan, Syeh Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan. 

Makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan di Balong Keramat,Darma Loka (Edisi Wisata Ziarah Wali Allah Kuningan, Jawa Barat)

Pintu Gerbang Masuk Makam Syech Rama Haji Irengan
atau Mama Haji Irengan di Balong Keramat, Darma Loka, Kuningan

Perjalanan ke Kuningan hanya 30 menit bila dari Cirebon. Tujuan kami satu yaitu mengunjungi makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan. Letak makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan terletak di Darma loka, Kuningan. Sudah lama kami ingin mengunjungi Beliau. Niat itu muncul ketika awal tahun 2014 kami naik ke salah satu puncak Gunung Ceremai, Kuningan. Kami melihat adanya kolam disitu ketika kami bertanya kepada guide yang menyertai kami naik ke Gunung Ceremai, ia mengatakan itu adalah Balong Keramat, Darma loka dimana dimakamkan wali Allah Kuningan, Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan.

Kami mengunjungi makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan pada minggu 22 November 2014. Ketika itu pagi hari pukul 11 kami tiba dan keadaan masih sepi, turun hujan rintik perlahan. Ketika turun, kita akan segera dikerubung penjual roti pandan hijau. Ibu - ibu penjual roti pandan hijau menawarkan dagangan dengan mengatakan ini untuk makan ikan. Memang di Darma loka tempat Mama Haji Irengan dimakamkan terdapat kolam ikan yang memiliki sejarah tersendiri.

Pintu Masuk Makam  Syech Rama Haji Irengan
atau Mama Haji Irengan di Balong Keramat, Darma Loka, Kuningan

Untuk dapat masuk ke lokasi Darma loka kita diharuskan membayar tiket masuk seharga Rp. 5.000 per orang. Kemudian kuncen makam sudah menunggu di pintu masuk. Beliau akan mengantarkan kita ke lokasi makam dan membukakan pintu makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan. Harap berhati - hati ketika naik tangga menuju makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan. Karena jalanan licin akibat ditumbuhi lumut. 

Makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan sangat berwibawa dengan susunan batu sederhana yang masih terjaga keasliannya. Agar terjaga, nisan makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan ditutup dengan kain putih. Terdapat dua makam di lokasi makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan, makam Beliau berada di sisi kiri sedangkan makam di sisi kanan adalah makam sahabat beliau.

Makam  Syech Rama Haji Irengan
atau Mama Haji Irengan di Balong Keramat, Darma Loka, Kuningan
Dalam satu tulisan yang diunggah oleh AnNiza tentang Situs Sejarah dan Wisata Situs Balong Keramat Darma loka terdapat lima makam keramat di Situs Darma Loka selain makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama Haji Irengan yaitu :

1. Makam Syech Rama Haji Irengan atau 
    Mama Haji Irengan

2. Makam sahabat Syech Rama Haji Irengan atau 
    Mama Haji Irengan (terletak di samping kanan 
    makam Syech Rama Haji Irengan atau Mama 
    Haji Irengan

3. Makam Rama Bukit

4. Makam Putri Sri Kuning

5. Makam Putri Sri Kembang


Di gang kecil inilah leluhur Trah Besari (Basari) dahulu tinggal, 

yaitu di daerah pekalipahan Kesultaan Kanoman Cirebon dekat dengan Mesjid Agung Kanoman. 

Keluarga Besari dahulu merupakan keluarga ulama yang mengabdi pada keturunan Kanjeng Sinuhun Sunan Gunung Jati sebelum diutus untuk membuka pesantren di Tegalsari yang di kemudian hari melahirkan sosok-sosok unggul seperti HOS Tjokroaminoto dan Ronggowarsito. 

Rumah pertama keluarga Besari adalah Keraton Kanoman Cirebon


*apabila pergi ke pesantren Besari di Tegalsari bisa menemukan papan sejarah Besari di dalam mesjid yang bercerita tentang perjalanan Besari dari Cirebon menuju Ponorogo

Lantunan musik warga Gegesik Pada Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Makam Sunan Gunung Jati



Pada 11 Maulid malam atau 12 Rabiulawal, Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan di seluruh dunia. Begitupula di Makam Wali Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat. Lampu gemerlap, pujian shalawat dan doa, celoteh pengunjung dan lantunan musik dari warga Gegesik memeriahkan Maulid Nabi di makam Sunan Gunung Jati. 

Makam yang identik dengan kesunyian berubah menjadi tempat pagelaran yang khusuk. Di salah satu sudut, terdapat sekelompok masyarakat warga Gegesik memanjatkan doa dan puji-pujian dengan bersenandung dan memukul rebana. Perempuan lelaki tua muda warga Gegesik, Kabupaten Cirebon, sebuah daerah ujung utara Kabupaten Cirebon yang berbatasan langsung dengan Indramayu dengan lantunannya seakan mengajak kita bergembira akan hari dimana Rasulullah lahir. Mereka berseru kepada sang penguasa hidup untuk mengampuni dan memperingatkan mereka yang lalai melaksanakan perintah.

Mengenai lantunan warga Gegesik ini sedikit sekali sumber yang didapat mengenai sejarah senandung sakral ini. Dengan ketukan, nada, lirik dan cara berdendang sepertinya hanya kelompok warga Gegesik inilah yang dapat melakukannya, tradisi yang dipegang teguh dari leluhur-leluhur mereka terdahulu.

Lantunan Gamelan Sekaten dan Gong Sekati di Keraton Kanoman Cirebon dalam Pelestarian Dakwah Sunan Gunung Jati



Kegiatan Ritual Kesultanan Kanoman Cirebon merupakan wujud pelestarian dakwah, budaya dan adat dari leluhur Kesultanan Kanoman Cirebon yaitu Sunan Gunung Jati atau Syech Syarif Hidayatullah. Pada Bulan Mulud atau Rabiul Awal kesibukan Kesultanan Kanoman mencapai puncaknya. Karena pada Bulan Mulud atau Rabiul Awal terdapat perayaan hari kelahiran Nabi yang mulia, Muhammad SAW pada acara Pelal Ageng atau Panjang Jimat. Setiap setahun sekali di Bulan Mulud atau Rabiul Awal dikeluarkan pula barang - barang peninggalan Sunan Gunung Jati atau Syech Syarif Hidayatullah dalam menyebarkan agama Islam. Gamelan sekaten dan Gong Sekati adalah salah satu dari barang peninggalan Sunan Gunung Jati atau Syech Syarif Hidayatullah dalam menyebarkan agama Islam. Seperti yang terlihat pada video diatas, Gamelan sekaten dan Gong Sekatipun dimainkan dengan khidmad.

Pada 7 Mulud pukul 9 pagi, sekali dalam setahun, gamelan sekaten dan gong sekati yang tersimpan di Gedong Pejimatan Keraton Kanoman, Cirebon, dicuci dan dimainkan. Pencucian gamelan yang dilanjutkan dengan memainkannya selama lima hari ke depan itu merupakan salah satu rangkaian ritual Mauludan di Cirebon. Gamelan sekaten dan gong sekati dicuci di Langgar Keraton. Sebelum dicuci, perangkat gamelan itu lebih dulu diarak dari Gedong Pejimatan menuju Langgar Keraton, kemudian doa bersama dipanjatkan. Doa diikuti Pangeran Kumisi, Pangeran Patih, imam langgar, dan abdi dalem keraton.

Kegiatan Kesultanan Kanoman Cirebon Setelah Acara Pelal Ageng atau Panjang Jimat, Tradisi Agung dari Sunan Gunung Jati

Mande Pustaka atau Singgasana
Merupakan tempat pemimpin yang menyatu dengan bangunan Perbayaksa

Kegiatan ritual Kesultanan Kanoman pada Bulan Mulud atau Bulan Rabiul Awal mencapai puncaknya pada tanggal 12 Rabiul awal atau 12 Mulud pada acara Panjang Jimat. Panjang Jimat atau Pelal Ageng Acara Panjang Jimat bukanlah ritual mistis tetapi merupakan wujud prosesi yang mengingatkan kita akan Allah SWT melalui perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Panjang Djimat berarti; Panjang berarti dawa (panjang) tak berujung, Djimat berarti Si (ji) kang diru (mat). Artinya tulisan Syahadat yang tertulis di piring yang diarak selama prosesi supaya selalu kita pegang selamanya sebagai umat muslim hingga akhir hayat.

Persiapan prosesi Panjang Jimat atau Pelal Ageng telah dilakukan sebelum Bulan Mulud atau Bulan Rabiul Awal. Persiapan dilakukan pada 1 Shafar atau 1 Sapar dengan acara Ngalus. Tidak hanya sekedar prosesi dalam memahami acara Panjang Jimat di Kesultanan Kanoman ini, tetapi wajib dilihat bagaimana keluarga keraton Kanoman, Abdi Dalem dan orang yang terkait melakukan tirakat spiritual. 

Acara Pelal Ageng atau Panjang Jimat pada 11 Mulud berakhir pada pukul 24.00 dengan berakhirnya pembacaan doa, Sholawat Rasulan dan pembacaan barjanji di Mesjid Kanoman. Berakhirnya acara Pelal Ageng atau Panjang Jimat di Keraton Kanoman tidak berarti berakhir pula ritual Kesultanan Kanoman dalam memperingati hari lahir Rasulullah di Bulan Mulud atau Bulan Rabiul Awal. Masih terdapat tiga acara yaitu Slametan Buang Takir, Gong Sekati Mlebet dan Tumpengan.

Prosesi Bulan Sapar atau Shafar di Keraton Kanoman Cirebon Sebelum Peringatan Puncak Panjang Jimat Maulud Nabi Muhammad SAW

Manguntur Kesultanan Kanoman Cirebon
Kesultanan Kanoman adalah pusat kebudayaan masyarakat khususnya wilayah Cirebon. Kesultanan yang tegak berdiri mengembang misi untuk tetap melestarikan dakwah, ritual dan budaya dari Sunan Gunung Jati atau Syech Syarif Hidayatullah menggelar kegiatan ritual pada Bulan Maulud atau Bulan Rabiul Awal. Lebih dari 12 hari prosesi dilakukan di Keraton Kanoman sebagai wujud syukur telah lahir ke dunia, penutup para Nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Ritual demi ritual di bulan Maulud dilaksanakan sakral, khusyuk dan penuh makna ini walau perubahan jaman terjadi.e

Besar jasa Kesultanan Kanoman yang saat ini dipimpin oleh Sultan Raja Mochammad Emirudin sebagai Sultan Kanoman XII dalam pelestarian dakwah, ritual dan budaya dari Sunan Gunung Jati atau Syech Syarif Hidayatullah. Ritual Bulan Maulud atau Bulan Rabiul Awal dimulai bahkan sebelum bulan Maulud sebagai bentuk persiapan. Adapun persiapan sebelumnya adalah pada 30 Sura acara Ngalis pada pukul 16.00. Tanggal 1 Safar acara Damel Bekaseman Ulam pukul 09.00 dan Damel Bekaseman Ulam pukul 14.00 di Pawon Kaputren. Pada 15 Safar pukul 09.00 di Bangsal Ukiran dilaksanakan acara Ngerik + Lilin + Ukup. Acara Memayu, Tawurji dan Ngapem dilaksanakan pada 25 Safar. Pada 27 Safar di Pawon Lebet dilaksanakan acara Damel Pawon.

Penjelasan mengenai ritual Kesultanan Kanoman di Bulan Sapar atau Shafar di Keraton Kanoman Cirebon Sebelum Peringatan Puncak Panjang Jimat Maulud Nabi Muhammad SAW adalah :

1. Ngalus (1 Sapar s/d 11 Mulud)
Tradisi Tirakat Ngaslus Sapar, selama 40 hari, menghindari makan nasi, daging, ikan, umbi-umbian, dan tanaman lain yang merambat di tanah, kecuali tepung beras dan terigu

Jejak Peninggalan Sunan Gunung Jati atau Syech Syarif Hidayatullah pada Prosesi Panjang Jimat Keraton Kanoman Cirebon

Acara Lamaran atau Panjang Mios dalam rangkaian acara Panjang Jimat
Terlihat pintu lawang abang terbuka
Peninggalan Sunan Gunung Jati atau Syech Syarif Hidayatullah masih tegak berdiri dan dilestarikan oleh keturunan Beliau di Cirebon. 

Masih kokoh berdirinya Kesultanan Kanoman dengan rangkaian ritual sebagai peringatan hari besar Islam adalah keberkahan tersendiri bagi umat Islam Indonesia yang ingin menapaki jejak Sunan Gunung Jati atau Syech Syarif Hidayatullah.
Saat ini yang memegang tahta Kesultanan Kanoman adalah Sultan Raja Muhammad Emirudin sebagai Sultan Kanoman XII. Beliau adalah pelestari adat, budaya dan barang - barang peninggalan Sunan Gunung Jati atau Syech Syarif Hidayatullah dalam menyebarkan agama Islam.

Di Keraton Kanoman, pelestarian adat dan budaya Sunan Gunung Jati atau Syech Syarif Hidayatullah diadakan acara Panjang Jimat atau Pelal Ageng. Pada acara tersebut masyarakat dapat melihat secara langsung adat, budaya dan barang - barang peninggalan Sunan Gunung Jati atau Syech Syarif Hidayatullah dalam menyebarkan agama Islam sehingga Islam diterima dengan baik dan lestari hingga kini.