Showing posts with label Cut Nyak Dien. Show all posts
Showing posts with label Cut Nyak Dien. Show all posts

Ziarah Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien : Edisi Wisata Wali Allah Indonesia di Sumedang

Mengunjungi pusara Cut Nyak Dhien di Sumedang, Jawa Barat untuk yang kedua kalinya tetap menimbulkan perasaan haru dan syahdu. Ketika menaiki tangga menuju puncak Gunung Puyuh, areal komplek makam Cut Nyak Dhien dan petinggi Sumedang kala itu, hawa dingin menyelimuti. Rimbunnya pepohonan, hijaunya pemandangan memanjakan mata sehingga perjalanan menuju puncak tidak terasa.

Cut Nyak Dhien dimakamkan di puncak Gunung Puyuh, Sumedang. Disekitar makam Beliau terdapat makam seseorang yang sangat berjasa dalam merawat Cut Nyak Dien selama di pengasingan, H. Sanusi beserta keluarganya. Kondisi makam Cut Nyak Dhien sangat nyaman untuk peziarah karena luas, bersih dan lengkap dengan meunasah untuk sholat.

Cut Nyak Dhien, 
Mata ini basah ketika mengingatmu
Lidah ini kelu ketika menceritakan bagaimana Engkau dalam membela agama Allah
Doa kami untukmu, Cut Nyak Dhien sayang
Semoga Allah memberikan surga dan mengumpulkanmu dengan keluargamu tercinta kelak.


Ziarah Religi Sumedang : Cut Nyak Dien dalam Film Tjut Nya Dien karya Eros Djarot

Cuplikan video Cut Nyak Dien dari Film Tjut Nya Dien di saat saat terakhir beliau. Dimulai dari keibaan panglima perangnya, Pang Laot akan Cut Nyak Dien sehingga Pang Laot melaporkn Cut Nyak Dien kepada Belanda. Dimainkan dengan penuh penghayatan tinggi dari Christine Hakim sebagai Cut Nyak Dien. Dari video ini dapat digambarkan betapa besar ketetapan hati Cut Nyak Dien untuk mati berjihad tanpa rasa takut.






Wisata Ziarah Waliyuallah Sumedang : Perjuangan Cut Nyak Dien bersama Tengku Umar

Perjuangan Cut Nyak Dien diabadikan dalam film Tjut Nja Dhien di tayangkan di festival Cannes, 1988

Wisata Ziarah Waliyuallah, Cut Nyak Dien di Sumedang tentulah tak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan Cut Nyak Dien bersama Tengku Umar, Suaminya. Penjuangan melawan Kaphe Ulanda (Kafir Belanda) dari tanah Aceh.

Setelah menikah dengan Tengku Umar, Cut Nyak Dien dan Tengku Umar terus menekan Belanda. Menyerang Banda Aceh (Kutaraja) dan Meulaboh (bekas basis Teuku Umar), sehingga Belanda terus-terusan mengganti jendral yang bertugas. Unit " Marechaussee" lalu dikirim ke Aceh. 

Mereka dianggap biadab dan sangat sulit ditaklukan oleh orang Aceh. Pasukan ini juga menyebabkan kesuksesan jendral selanjutnya karena banyak orang yang tidak ikut melakukan jihad kehilangan nyawa mereka, dan ketakutan pada penduduk Aceh.

Tengku Umar, pejuang Allah yang tak pernah gentar berjuang

Jendral Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan sehingga Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899.

Akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru. Ketika Cut Gambang, anak Cut Nyak Dhien, menangis karena kematian ayahnya, ia ditampar oleh ibunya yang lalu memeluknya dan berkata : Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid


Cut Nyak Dien lalu memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan selama 25 tahun. Perlawanan di jalan Allah menghapuskan penjajahan. Menelan banyak korban, termasuk para perwira Belanda. Perlawanan yang menimbulkan kekisruhan besar bagi kalangan Belanda. Tanpa persenjatan yang layak, dengan kekurangan makanan, tanpa tempat berteduh yang memadai dan dari dalam hutan.


Pada akhir perjuangan Cut Nyak Dien, Panglima Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda karena iba. Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu. 

Pada saat Belanda datang untuk menangkap Cut Nyak Dien, Kapten Belanda Veltman dan para serdadunya berdiri terpaku di hadapan Cut Nyak Dien, yang tengah duduk sambil berdzikir. Agak lama mereka berdiri terpana, tanpa suara, hanya memandang pejuang wanita itu. 

Kapten Belanda Veltman dan serdadunya tetegun akan keagungan dan kesahajaan pejuang Allah, Cut Nyak Dien. Dengan santun Veltman berkata kepada waliyuallah: “Cut Nyak, maafkan saya. Saya kapten Veltman. Saya melaksanakan tugas sebagai serdadu. Saya ditugaskan untuk membawamu..”

Beberapa serdadu Belanda menyiapkan tandu untuk membawa nenek yang tampak sudah begitu lemah itu. Valtmen terus membujuk, sementara Cut Nyak Dien tak henti-hentinya menggumamkan dzikir.
Cut Nyak Dien tertunduk menangis ketika tertangkap tidak karena takut tetapi karena terbuka hijabnya

Veltman merasa bujukannya tak didengar, ia lantas memberi isyarat kepada Pang Laot Ali untuk membantu. Pang Laot Ali menghampiri, ikut membujuk: “Cut Nyak, ini demi kesehatanmu. Aku lakukan ini demi kesehatanmu. Mereka berjanji akan merawatmu dengan baik. Jangan salah mengerti…”

Belum selesai kalimat Pang Laot, Cut Nyak Dien menarik rencong dari balik kainnya dan menebaskan ke tubuh Pang Laot. “Pengkhianat!” teriak Cut Nyak Dien. Keributan terjadi. Para serdadu Belanda segera melerai. Pang Laot Ali terluka. 

Cut Nyak Dien masih mencoba menyabetkan rencongnya ke arah Valtmen dan serdadu-serdadu di sekitarnya, namun badannya terlalu lemah. Para serdadu berhasil meredam amukannya. “Pang Laot! Kau aib buat kami!” teriak Cut Nyak Dien lagi. “Ya Allah ya Tuhan. Inikah nasib perjuanganku? Di dalam bulan puasa aku diserahkan kepada kafir.”

Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan ibunya. Cut Nyak Dien kemudian di asingkan di Banda Aceh, kemudian di pindahkan ke Sumedang hingga akhir hayatnya.

Wisata Ziarah Waliyuallah Sumedang : Puisi untuk Pahlawan Tercinta, Cut Nyak Dien

Sajak persembahan di sisi depan makam Cut Nyak Dien
Tribute's poem for Cut Nyak Dien in front of Cut Nyak Dien's grave

Wisata Ziarah Waliyuallah (wali Allah) dan ziarah religi Sumedang tidak bisa lepas dari tokoh pahlawan wanita, Cut Nyak Dien. Mengapa Cut Nyak Dien merupakan waliyuallah karena jihadnya membebaskan tanah Aceh dari penjajah. Bukti tersebut tertulis pada makam Cut Nyak Dien di Sumedang ini. Ornamen di sisi depan makam Cut Nyak Dien berbentuk syair dapat kita lihat. Tergelitik hati ini untuk mencari apa makna dari bait - bait syair yang dipahat di makam beliau.

Setelah saya mencari mengenai apakah makna dari syair ini, saya mendapatkan di website dari Center for Community Development and Education yang berjudul Menziarahi Cut Nyak Dien. Ternyata rangkaian syair ini adalah sajak pujian untuk Cut Nyak Dien. Sajak tersebut tertulis :

Karena djihadmu perdjuangan,
Atjeh beroleh kemenangan,
Dari Belanda kembali ke tangan,
Rakjat sendiri kegirangan.
Itulah sebab sebagai kenangan,
Kami teringat terangan-angan,
Akan budiman pahlawan djundjungan,
Pahlawan wanita berdjiwa kajangan.


Disisi lain dari makam Cut Nyak Dien juga tertulis sajak yang berjudul Hikajat Prang Sabi. Hikayat ini ditulis oleh Tengku Chik Pante Kulu, seorang pujangga Aceh di masa lalu. Isinya sajak ini membangkitkan semangat rakyat Aceh untuk berperang melawan penjajah. Adapun isi sajaknya sebagai berikut:


Djanji Tuhan Rabbula’la
Neubloehamba ba’ prang sabil
Njankeu keujum neubri keugata,
Patna tjidra peneudjeut rabbi.
Wahe teungke uleebalang,
Njan buloeeng prang Tuhan neubri,
Dijup langet diateuih boimoe,
Lam lam njoe tanna sabe


Dikutip dari website dari Center for Community Development and Education yang di terjemahkan oleh Firdaus, maka arti dari syair yang tertulis di Makam Cut Nyak Dien adalah :

Janji tuhan terbukalah,
Dibeli hamba untung Perang Sabi,
Itulah harga diri yang kuberikan,
Dimana janji Allah tidak ada yang cacat.
Wahai tengku uleebalang,
Dalam perang yang Tuhan berikan,
Di atas langit di bawah bumi,
Di alam ini tidak selamanya ada.


-----------------------------------------------------------------------------------------

English version :


Pilgrimage Tour Waliyuallah (wali Allah = saint) and Sumedang religious pilgrimage can not be separated from the female hero, Cut Nyak Dien. Cut Nyak Dien is waliyuallah because his jihad to free the land of Aceh from invaders . The evidence is written on the grave of Cut Nyak Dien in Sumedang. We can see poetical ornament on the front of the grave of Cut Nyak Dien. This heart tingle to find what the meaning of the poem carved on her resting place.


After I look to the meaning of this poem, I got from the website of the Center for Community Development and Education, entitled Cut Nyak Dien religious visit (Menziarahi Cut Nyak Dien). It turned out that this poem is a series of poems of praise to Cut Nyak Dien. The poem reads:

Because the struggle in the hold of religion,

Atjeh get the victory,

From the Netherlands back in the hands,

People's own joy.

That's because as memories,

We remembered the dreams openly,

Will dear sovereign hero,

The great spirit of the heroine.

On the other side of the grave of Cut Nyak Dien also written a poem titled Hikajat Prang Sabi. This saga was written by Tengku Chik Pante Kulu, a poet of Aceh in the past. The contents of this poem evoke the spirit of the people of Aceh to fight against the invaders. As for the content of his poem as follows:

Excerpted from the website of the Center for Community Development and Education is translated by Firdaus, then the meaning of the poem is written in the Cut Nyak Dien's resting place are:


 

Promise of Allah was opened,

Purchased servant profit Sabi War,

That's self-esteem that I gave,

Where is the promise of Allah nothing is disabled.


O tengku uleebalangs,

In a war that Allah gives,

Above the sky beneath the earth,

In this world which does not always last forever.


Wisata Ziarah Waliyuallah Sumedang : Biografi Cut Nyak Dien di Masa Awal perjuangan


Gerbang Makam Cut Nyak Dien di Sumedang, Jawa Barat
The Gate in front of Cut Nyak Dien's resting place in Sumedang

Wisata Ziarah Waliyuallah Cut Nyak Dien di Sumedang tidaklah lengkap tanpa mengetahui sejarah kehidupan sang wali Allah, Cut Nyak Dien. Bagaimana sejarah kehidupan sang wali Allah sehingga beliau menjadi inspirasi baik ketika beliau masih hidup hingga kini beliau telah tiada.


Cut Nyak Dien pada mata uang Indonesia
Cut Nyak Dien in Indonesian currency

Cut Nyak Dien lahir dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar pada tahun 1848. Saat berusia 12 tahun, ayahnya Teuku Nanta Setia, menikahkannya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari Uleebalang Lamnga XIII. Dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dien dikaruniai seorang putera. Tahun 1873, Belanda menyatakan perang, ditandai tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal Citadel van Antwerpen, Acehpun bergelora dan perang Aceh meletus. Pada perang pertama (1873-1874), Aceh yang dipimpin Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah takluk dari pasukan Belanda yang dipimpin Johan Harmen Rudolf Kohler (yang merupakan kakek dari penyanyi Ahmad Dhani) dengan kekuatan Belanda mencapai 3198 tentara. 

Pemimpin pembakaran Mesjid Raya Aceh, Baiturrahman
 Johan Harmen Rudolf Kohler
The leader of Aceh's Grand Mosque Baiturrahman
 combustion, Johan Harmen Rudolf Kohler

8 April 1873, Belanda mengambil alih kota Aceh dan membakar masjid raya Baiturrahman. Kejadian ini sontak membuat Cut Nyak Dien geram. Ia pun mengajak mengajak rakyat Aceh untuk berjihad melawan Belanda.“Lihatlah wahai orang-orang Aceh! Tempat ibadat kita dirusak. Mereka telah mencoreng nama Allah, sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?” Semangat rakyat Aceh kembali membara. Perang pun dilanjutkan, Cut Nyak Dien memerangi Belanda tanpa rasa takut bahkan di ketika berperang Cut Nyak Dien menggendong putra lelakinya. Perjuangan Cut Nyak Dien beserta rakyat Aceh yang tak kenal menyerah  berhasil memenangkan Kesultanan Aceh di perang pertama. Suami Cut Nyak Dien, Tengku Cek Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan bersorak gembira setelah Kohler dinyatakan tewas.

Periode 1874-1880 Belanda membalas kekalahannya dengan menduduki wilayah Mukim Aceh. Cut Nyak Dien dan bayinya akhirnya mengungsi pada 24 Desember 1875.Ketika Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, ia tewas pada tanggal 29 Juni 1878.

Setelah dua tahun meninggalnya sang suami, Ibrahim Lamnga, tokoh pejuang Aceh Teuku Umar, melamar Cut Nyak Dhien. Kemudian Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Umar pada tahun 1880. Mereka berduapun bersama - sama memimpin perjuangan rakyat  Aceh melawan  Kaphe Ulanda (Belanda Kafir) dengan bergerilya.

-----------------------------------------------------------------------------------------------

English Version :

Pilgrimage (Ziarah) Tour Waliyuallah Cut Nyak Dien in Sumedang not be complete without knowing the history of the life of the saint of Allah (waliyuallah), Cut Nyak Dien. How does the history of the wali Allah's life was the inspiration when she was still alive until now she has gone.

Cut Nyak Dien was born of noble families who are religious in Aceh Besar in 1848. At the age of 12 years, his father Teuku Nanta Setia, married with Teuku Cek Ibrahim Lamnga , son of uleebalang Lamnga XIII. With Teuku Cek Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dien blessed with a son. 1873, the Dutch declared war, marked cannon fire from the ships, Citadel van Antwerpen to the mainland Aceh. War explode in Aceh. In the first war (1873-1874), Aceh which led by Commander Polim  and Shah Sultan Machmud defeated of Dutch troops led by Johan Harmen Rudolf Kohler (who was the grandfather of singer Ahmad Dhani) with absolut force reach the 3198 Dutch forces soldiers.

8 April 1873, the Dutch took over the city of Aceh and burn mosques Baiturrahman . This incident instantly make  Cut Nyak Dien growled. Sh invited the people of Aceh for jihad against the Dutch. "Behold, O people of Aceh! Places of worship (Mesjid) destroyed. They have tarnished the name of Allah, until when are we here? Until when are we going to be a slave to the Netherlands? "The spirit of the Acehnese back burning. The war was resumed, Cut Nyak Dien fought the Dutch without fear even she holding her son  when fighting . Cut Nyak Dien struggle with the people of Aceh, which give winning Sultanate of Aceh in the first war. Cut Nyak Dien's husband, Ibrahim Lamnga who fought on the front line cheered after Kohler was pronounced dead.

Period 1874-1880 the Dutch reply to their defeat by occupying territory of Mukim Aceh (resindential). Cut Nyak Dien and her baby finally evacuated on December 24, 1875. When Cut Nyak Dien's husband, Tengku Cek Ibrahim Lamnga fought in Gle Tarum, he died on June 29, 1878.

After two years the death of her husband, Tengku Cek Ibrahim Lamnga, Aceh hero Teuku Umar, proposed Cut Nyak Dien. Then Cut Nyak Dien and Teuku Umar married in 1880. Together - as leader to the struggle of the Acehnese against Kaphe Ulanda (Dutch is Infidel) with the guerillas war.