Showing posts with label Berau. Show all posts
Showing posts with label Berau. Show all posts

Sejarah Kesultanan Berau di Pulau Derawan (Edisi Wisata Alam dan Sejarah: Mencari Jejak Para Wali dan Leluhur Sholeh di Pulau Derawan)

Pulau Derawan dengan laut biru menggoda

Indahnya pantai, biru laut bergradasi dan biota laut baik ikan dan terumbu karangnya menarik wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Derawan, Berau, Kalimantan Timur. Jarak yang ditempuh dari Tanjung Batu ke Pulau derawan adalah 30 menit dengan menggunakan speed boat. Tak hanya keindahan alam, Pulau Derawan memiliki sejarah yang luar biasa karena terdapat makam salah satu keluarga kesultanan Berau. Hal ini menjadi bukti bahwa Pulau Derawan termasuk wilayah kesultanan Berau.

Masyarakat mengenal satu makam yang spesial di komplek tersebut, disebut dengan nama makam keramat tanpa tau siapa yang dimakamkan disitu. Menarik untuk dikaji adalah hubungan sejarah penyebaran Islam di Pulau Derawan dengan Kesultanan Berau dengan adanya situs makam keramat ini. Yang didatangi peziarah baik dari Pulau Kalimantan hingga Jawa.


Makam Keluarga Kesultanan Berau yang dikeramatkan

Dalam sejarahnya, Kabupaten Berau berasal dari Kesultanan Berau yang didirikan sekitar abad ke-14. Menurut sejarah Berau, Raja pertama yang memerintah bernama Baddit Dipattung dengan gelar Aji Raden Surya Nata Kesuma dan Isterinya bernama Baddit Kurindan dengan gelar Aji Permaisuri. Pusat pemerintahan kerajaan pada awalnya berkedudukan di Sungai Lati (sekarang menjadi lokasi pertambangan Batu Bara PT. Berau Coal). 

Aji Raden Suryanata Kesuma menjalankan masa pemerintahannya tahun 1400–1432 dengan adil dan bijaksana, sehingga kesejahteraan rakyatnya meningkat. Pada masa itu dia berhasil menyatukan wilayah pemukiman masyarakat Berau yang disebut Banua, yaitu Banua Merancang, Banua Pantai, Banua Kuran, Banua Rantau Buyut dan Banua Rantau Sewakung. Di samping kewibawaannya, kedudukan Aji Raden Suryanata Kesuma juga sangat berpengaruh, menjadikan dia disegani lawan maupun kawan. 

Pemerintahan Kesultanan Berau dilanjutkan oleh putranya dan selanjutnya secara turun temurun keturunannya memerintah sampai pada sekitar abad ke-17. Kemudian awal sekitar abad XVIII datanglah penjajah Belanda memasuki kerajaan Berau dengan berkedok sebagai pedagang (VOC). Namun kegiatan itu dilakukan dengan politik De Vide Et Impera (politik adu domba). Kelicikan Belanda berhasil memecah belah Kerajaan Berau, sehingga kerajaan terpecah menjadi 2 Kesultanan yaitu Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur. 


Makam Keluarga Kesultanan Berau 

Ulama yang terkenal menyebarkan ajaran agama Islam ke Berau adalah Imam Sambuayan dengan pusat penyebarannya di sekitar Sukan. Sultan pertama di Kesultanan Sambaliung adalah Raja Alam yang bergelar Alimuddin (1800–1852). Raja Alam terkenal pimpinan yang gigih menentang penjajah belanda. Raja Alam pernah ditawan dan diasingkan ke Makassar (dahulu Ujung Pandang). 

Sedangkan Kesultanan Gunung Tabur sebagai Sultan pertamanya adalah Sultan Muhammad Zainal Abidin (1800–1833), keturunannya meneruskan pemerintahan hingga kepada Sultan Achmad Maulana Chalifatullah Djalaluddin (wafat 15 April 1951) dan Sultan terakhir adalah Aji Raden Muhammad Ayub (1951–1960). Kemudian wilayah kesultanan tersebut menjadi bagian dari Kabupaten Berau. 

Penetapan Kota Tanjung Redeb sebagai pusat pemerintahan Dati II Kabupaten Berau adalah untuk mengenang pemerintahan Kerajaan (Kesultanan) di Berau. Di mana pada tahun 1810 Sultan Alimuddin (Raja Alam) memindahkan pusat pemerintahannya ke Kampung Gayam yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Bugis. Perpindahan ke Kampung Bugis pada tanggal 25 September tahun 1810 itu menjadi cikal bakal berdirinya kota Tanjung Redeb.


Jejak Kesultanan Berau di Pulau Derawan (Edisi Wisata Alam dan Sejarah: Mencari Jejak Para Wali dan Leluhur Sholeh di Pulau Derawan)

Pulau Maratua , salah satu dari Kepulauan Derawan yang menawan

Daripada jalan ke Maldives lebih hemat berkunjung ke Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pulau dengan keindahan surgawi wisata baharinya ini menyimpan eksotisme dan kelebihan tersendiri. Di Kepulauan Derawan terdapat empat pulau utama yang biasa disinggahi para wisatawan. Pulau-pulau itu adalah Pulau Derawan, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban, dan Pulau Maratua. Keempatnya memiliki karakteristik dan pesona yang berbeda. 

Bagaimana cara untuk pergi ke Pulau Derawan terdapat 2 rute yaitu :

1. Melalui Berau
dari Berau lebih mudah bagi yang sendiri karena ada banyak mobil travel umum menuju Tanjung Batu dan Speedboat umum menuju Pulau Derawan. Dari Bandar Udara Kalimarau menuju Pelabuhan Tanjung Batu. Perjalanan darat dari bandara menuju Tanjung Batu sekitar dua jam. Lalu dilanjutkan dengan menempuh jalur laut 20 - 30 menit untuk sampai di Pulau Derawan

2. Melalui Tarakan 
lewat Tarakan kelebihannya adalah lebih murah karena lebih banyak pilihan penerbangan dari pada melalui Berau. Namun yang dari Tarakan lebih jauh jalur lautnya untuk menuju Pulau Derawan dan tidak ada speedboat reguler atau untuk umum, sehingga harus menyewa sendiri. Lewat Tarakan lebih mudah bagi yang berangkat secara rombongan.


Sangat mudah dan jaraknya dekat untuk berkeliling Pulau Derawan

Selain menikmati wisata bahari, terdapat situs Islam bersejarah yang wajib dikunjungi, yaitu Makam Keramat Kesultanan Berau. Tak banyak yang mengetahui mengenai letak makam ini karena letaknya yang tidak berdekatan dengan makam keluarga Saba'ani / makam tiga pahlawan dan makam bernisan kuda.

Masyarakat mengenal makam tersebut dengan nama makam keramat kesultanan Berau tanpa tau siapa yang dimakamkan disitu. Menarik untuk dikaji adalah hubungan sejarah penyebaran Islam di Pulau Derawan dengan Kesultanan Berau dengan adanya situs makam keramat ini. Yang didatangi peziarah baik dari Pulau Kalimantan hingga Jawa.


Areal Makam Kesultanan Berau di Pulau Derawan

Kaitan Sejarah Islam di Filipina dengan makam keramat di Indonesia (Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur) yaitu makam Saba'ani dan makam nisan kuda (Edisi Wisata Alam dan Sejarah: Mencari Jejak Para Wali dan Leluhur Sholeh di Pulau Derawan)

Mencari sejarah makam keramat di Pulau Derawan, kepulauan yang berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yaitu makam Saba'ani atau makam tiga negara dan makam nisan kuda dengan hanya berbekal keterangan dari masyarakat sekitar membuat saya menemukan benang merah kaitan antara Pulau Derawan dan Filipina.

Dari kedua makam tersebut terdapat kesamaan penjelasan bahwa mereka adalah orang Filipina yang datang dan menetap Pulau Derawan. Hal inilah membawa saya pada sebuah penemuan mengenai kaitan Pulau Derawan dan Islam di Filipina.

Mereka yang dimakamkan di Pulau Derawan (makam Saba'ani) dan makam nisan kuda merupakan muslim Filipina ketika masa dinasti Amanilah.

Pulau Derawan, Kalimantan Timur di sore hari

Filipina merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri atas 7.107 pulau. Secara geografis negara Filipina berbatasan dengan Laut Sulawesi di sebelah Selatan disinilah titik yang berdekatan antara Pulau Derawan dan Filipina. Sebelum kedatangan bangsa Spanyol tahun 1565, Filipina adalah negeri muslim dengan populasi muslim mencapai 98 % dan masuk wilayah Kesultanan Brunei. 

Ibukota Filipina, Amanilah adalah sebuah kota yang diberi nama dari bahasa Arab yaitu Fi Amannillah ( dibawah perlindungan Allah Swt ). Saat itu kaum muslim Filipina bertekad menjadikan kota Amanillah ( Manila) menjadi kota Islam terbesar se Asia Tenggara. Mereka pun sudah menerapkan Syariat Islam selama berabad-abad di bawah pengaruh Negara Khilafah Islam di Timur Tengah. Pekerjaan kaum muslim Filipina saat itu kebanyakan adalah pedagang, petani, dan nelayan. 


Makam Keramat di Pulau Derawan, Makam Saba'ani, Muslim Filipina

Ferdinand Magellan, navigator Portugis dalam pelayanan Spanyol, mengeksplorasi Filipina pada tahun 1521. Sepanjang masa 265 tahun, Filipina merupakan koloni Kerajaan Spanyol (1565-1821) dan selama 77 tahun berikutnya diangkat menjadi provinsi Spanyol (1821-1898). Negara ini mendapat nama Filipina setelah diperintah oleh penguasa Spanyol, Raja Felipe II dan setelah dikuasai Spanyol Amanilah diganti nama menjadi Manila. 

Tahun 1569 kota Amanillah direbut oleh Spanyol dan membantai penduduknya, kemudian dengan berbagai macam ancaman kekerasan dan pemaksaan Spanyol berhasil melakukan Kristenisasi wilayah Filipina Utara dan Tengah. Sebagian Kaum Muslim yang tidak sudi  dengan kristenisasi itu, melarikan diri ke wilayah selatan Filipina untuk menyelamatkan akidahnya. Mereka berhasil membuat pertahanan yang kuat dan terus melawan Spanyol lewat perang Gerilya. 

Kemudian Spanyol memberi nama kaum muslim Filipina dengan nama orang Moro. Nama ini diambil dari sebutan kepada keturunan Arab Spanyol yang beragama Islam yang dahulu menguasai Andalusia ( Spanyol ) yaitu orang Moor. Setelah Perang Spanyol-Amerika pada tahun 1898, Filipina diperintah Amerika Serikat. Perjuangan umat Islam Filipina tidak berhenti dan salah satu keluarga yaitu keluarga Saba'ani memilih untuk berhijrah ke Pulau Derawan, Indonesia untuk mempertahankan akidah mereka.


Batas Filipina dan Pulau Derawan terhubung dengan Laut Sulawesi

Filipina dalam sejarahnya kemudian menjadi sebuah persemakmuran di bawah Amerika Serikat sejak tahun 1935. Periode Persemakmuran dipotong Perang Dunia II saat Filipina berada di bawah pendudukan Jepang. Filipina akhirnya memperoleh kemerdekaannya (de facto) pada 4 Juli 1946.

Hingga kini makam keluarga Saba'ani diziarahi dan dikunjungi oleh peziarah begitu pula makam nisan kuda. Pada kedua situs bersejarah Islam di Pulau Derawan ini mengingatkan kita bahwa atas izin Allah SWT mereka dapat menyeberangi Lautan Sulawesi dari Filipina ke Pulau Derawan yang lama perjalannya tak terhingga dan jauhnyapun tak terukur pada masa itu. 

Makam Keramat Keluarga Saba'ani dan Makam Nisan Kuda di Pulau Derawan (Edisi Wisata Alam dan Sejarah: Mencari Jejak Para Wali dan Leluhur Sholeh di Pulau Derawan)

Keindahan Pulau Derawan, Kalimantan Timur, Indonesia

Bercerita tentang Pulau Derawan pasti mendengar kisah serunya snorkeling dan diving karena di Pulau Derawan terdapat setidaknya 460 jenis karang dan ini terbanyak kedua setelah Raja Ampat di Papua Barat. Di Derawan setidaknya ditemukan lebih dari 870 jenis ikan mulai dari kuda laut kerdil hingga pari manta raksasa. 

Di Pulau Kakaban, dengan jarak tempuh 45 menit dari Pulau Derawan, terdapat danau ubur-ubur terbesar dan paling beragam di dunia, termasuk empat spesies unik ubur-ubur stingless yang dapat berenang terbalik. Inilah alasanya mengapa Kakaban dipertimbangkan menjadi nominasi Situs Warisan Dunia UNESCO. 


Berenang di Danau Ubur - Ubur di Pulau Kakaban

Lalu bagaimana dengan wisata sejarah di Pulau Derawan? 

Salah satu situs sejarah yang wajib dikunjungi adalah komplek makam keramat yang terletak di ujung Pulau Derawan. Terdapat dua situs bersejarah yaitu makam Saba'ani atau makam pahlawan tiga negara dan makam nisan kuda. Letak kedua makam tersebut berdekatan.

Dari penuturan salah satu warga Pulau Derawan, makam Saba'ani adalah kuburan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak - anak. Mereka turut berjuang melawan penjajah kolonial Belanda. 

Makam Saba'ani rapi terjaga. Tidak terlihat jelas tulisan di nisan kayu hanya tertera tahun 1900. Salah satu warga Derawan ada yang mengatakan bahwa Keluarga Saba'ani adalah keluarga dari Filipina Selatan. 



Informasi yang juga didapat bahwa makam Saba'ani disebut juga makam pahlawan tiga negara karena merupakan pejuang yang melawan penjajah Belanda. Dikisahkan Saba'ani berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya (Indonesia, Filipina dan Malaysia) untuk mengobarkan api perjuangan. Dan karena perjuangannya melawan penjajah, Kolonial Belanda mengirim banyak pasukan untuk memburu Beliau.

Berjalan 3 menit terdapat komplek makam yang salah satu makamnya bernisan kuda. Ada yang mengatakan bahwa makam tersebut adalah makam kuda milik prajurit yang ke Derawan dengan menaiki dua kuda secara bergantian. Ketika kuda tersebut meninggal maka dikuburkan dengan pertanda nisan batu berbentuk kuda.

Makam Bersejarah, Makam Nisan Kuda di Pulau Derawan

Ada pula yang mengatakan bahwa makam bernisan kuda memiliki nama khusus yaitu Makam Keramat Berkuda. Makam ini adalah makam dari seorang pejuang yang pertama kali bermukim di Pulau Derawan bernama Legadung Mawali.

Legadung Mawali berasal dari Filipina dan meninggal pada tahun 1926. Konon Legadung Mawali mencari ayahnya di Berau yang merupakan raja kesultanan Banua. Nisan berbentuk kuda merupakan simbol bahwa Legadung Mawali adalah keturunan raja karena jaman dahulu yang bisa menaiki kuda adalah bangsawan. 


Hingga kini kedua makam tersebut (makam Saba'ani dan makam bernisan kuda) menjadi situs bersejarah yang banyak dikunjungi wisatawan yang berwisata ke Pulau Derawan. Mengenai kebenaran sejarah yang terdapat banyak versi ceritapun sulit ditelusuri. Karena setiap penduduk memiliki versi cerita yang berbeda.

Yang menarik disini adalah ditemukannya kaitan mengenai Pulau Derawan dan Filipina dilihat dari kedua makam keramat tersebut. Apa ada kaitan Islam di Filipina dengan makam bersejarah di Pulau Derawan ini ? Pertanyaan ini yang kemudian ingin saya temukan jawabannya.

Tiga Lokasi Wisata Sejarah dan Ziarah di Pulau Derawan, Kabupaten Berau Kalimantan Timur (Edisi Wisata Alam dan Sejarah: Mencari Jejak Para Wali dan Leluhur Sholeh di Pulau Derawan)

Berkunjung ke Pulau Derawan di kepulauan yang berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur sangatlah berkesan karena keindahan alam laut, pasir putih dan hewan - hewan laut seperti penyu hijau dan aneka ikan karang yang berwarna warni indah. Ketika kita berkunjung ke Pulau Derawan, wajib kiranya kita juga mengunjungi Pulau lainnya di sekitar Pulau Derawan, yakni Pulau Maratua, Kakaban , dan  Sangalaki yang ditinggali satwa langka penyu hijau dan penyu sisik.


Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur merupakan surga 
tropis yang sempurna

Pulau Derawan yang terletak di Kepulauan Derawan, Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur menyuguhkan wisata laut karena perairan sekitarnya terdapat taman laut sehingga kita bisa menyelam snorkeling atau wisata selam (diving) dengan kedalaman sekitar lima meter. Wisata lainnya yang wajib dijelajahi adalah wisata religi mengunjungi leluhur sholeh di Pulau Derawan ini.

Berwisata sejarah Pulau Derawan ini sangatlah mudah dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan sepeda yang dapat disewa perjam Rp. 20.000. Jalan yang ditempuhpun sangatlah mudah karena hanya ada satu jalur saja. Ketika mencari informasi lokasi tempat ziarah sebelum keberangkatan ke Pulau Derawan kata kunci yang kami gunakan adalah wisata ziarah Derawan.


Bersepeda menjelajah Derawan

Sejarah mengenai makam di Derawan ini hanya berdasarkan penuturan masyarakat setempat tidak ada sebuah babad yang menjelaskan tentang siapa yang dimakamkan. Terdapat tiga lokasi makam bersejarah yang wajib untuk dikunjungi ketika berkunjung ke Derawan ini :

1. Makam Saba'ani atau Makam Pahlawan Tiga Negara




2. Makam Nisan Kuda



3. Makam Keramat keluarga Kesultanan Berau