Wisata Madiun Ziarah Waliyuallah: Masjid Kyai Ageng Muhammad (Mohammad) Besari

Plang Masjid Kyai Ageng Muhammad Besari
The nameplate of  Kyai Ageng Muhammad Besari's Mosque

Masjid Kyai Ageng Muhammad Besari di Nglames, Madiun, Jawa Timur adalah peninggalan Kyai Ageng Muhammad Besari yang masih kokoh berdiri sampai saat ini. Masjid Kyai Ageng Muhammad Besari terletak di samping makam  Kyai Ageng Muhammad Besari.

Mosque of Kyai Ageng Muhammad Besari, Nglames, Madiun, East Java is a heritage from Kyai Ageng Muhammad Besari. The mosque still stand sturdy strong untill now. Mosque of Kyai Ageng Muhammad Besari is located beside  Kyai Ageng Muhammad Besari 's grave.

Mesjid Kyai Ageng Muhammad (Mohammad) Besari tampak depan
The front view of  Kyai Ageng Muhammad Besari's Mosque

Mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari terletak di Jalan Raya Nglames, Madiun, Jawa Timur. Di jalan raya yang menghubungkan antara Kota Caruban dan Kota Madiun, Mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari berdiri tegak dengan arsitektur yang tidak berubah sejak Kyai Ageng Muhammad Besari hidup.

Mosque of Kyai Ageng Muhammad Besari is located in Nglames highway, Madiun, East Java. This highway links between two cities, Caruban and Madiun. Mosque of Kyai Ageng Muhammad Besari stand strong and the architecture is not change from when Kyai Ageng Muhammad Besari still alive.

Mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari bagian dalam
Inside of   Kyai Ageng Muhammad Besari's Mosque

Bagian dalam mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari terdapat empat tiang. Mesjid inipun didirikan tidak dengan menggunakan paku melainkan dengan teknologi pasak. Di bagian dalam tembok mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari terdapat lukisan berisi ayat - ayat ajaran beliau. Isi dari ayat tersebut sebagian besar adalah ayat - ayat tasawuf (untuk mensucikan diri).

The mosque of Kyai Ageng Muhammad Besari has four pilars . This ancient mosque was founded not by the use of nails, but with the stakes’s technology. On the inside wall of the mosque of Kyai Ageng Muhammad Besari contained paintings contain of his teachings’s verses. The contents of the verse mostly verse or quote from Sufism (these quotes contain of peaceful way of life).

Mimbar di mesjid  Kyai Ageng Muhammad Besari

Mimbar mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari memiliki gaya yang mirip dengan mesjid - mesjid tua di Jawa. Mesjid Agung Demak salah satunya, yang memiliki mimbar dengan gaya yang sama dengan mimbar mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari.

The pulpit inside the Kyai Ageng Muhammad mosque Besari has a style similar to mostly ancient mosque in Java. the Great Mosque of Demak is one of ancient Java mosque which has a same style pulpit with pulpit at the Kyai Ageng Muhammad Besari mosque.

Mesjid Kyai Ageng Muhammad (Mohammad) Besari bagian luar
The outside part of  Kyai Ageng Muhammad (Mohammad) Besari mosque

Bagian luar mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari adalah bagian yang terbuka untuk umum. Kebanyakan dari para pengunjung yang sholat tidak dalam waktu sholat berjamaah, akan sholat di bagian luar karena bagian dalam mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari sebagian besar waktu dalam keadaan terkunci.

The outside of the mosque Kyai Ageng Muhammad Besari is the part that is open to the public. Most of the visitors who are not in a time of prayer pray, will pray on the outside because the inside of the mosque of Kyai Ageng Muhammad Besari most of the time is locked.

Salah satu ayat tasawuf yang terdapat di mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari
One of sufism quote at Kyai Ageng Muhammad Besari mosque

Banyak orang yang datang ke mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari untuk sholat disana. Ketika bulan Ramadhan tiba banyak yang datang ke mesjid untuk beriktikaf dan sholat tarawih. Aura kebesaran dan kebijakan Kyai Ageng Muhammad Besari masih dapat dirasakan hingga saat ini ketika kita berada di mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari.

Many people who come to the mosque of Kyai Ageng Muhammad Besari to pray there. When Ramadan’s time came many people come to the mosque for praying together and staying to read al Quran. The aura of greatness and policies Kyai Ageng Muhammad Besari can still be felt to this day when we were in the mosque of Kyai Ageng Muhammad Besari.

Kentongan dan Bedug di mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari
Ancient gong and drum (to call prayers) at Kyai Ageng Muhammad Besari mosque

Tidak hanya keasrian tetapi keaslian tetap terjaga di mesjid Kyai Ageng Muhammad Besari ini. Sehingga kita dapat merasakan pasti kedamaian yang di ajarkan Kyai Ageng Muhammad Besari dalam setiap dakwahnya melalu mesjid yang didirikannya.

Not only beauty but authenticity is maintained in the mosque of Kyai Ageng Muhammad Besari. So that we can definitely feel the peace that taught by Kyai Ageng Mohammed Besari in his preach through mosques which he built.


Photo's are courtesy of @andhiniedewi

Wisata Religi Madiun: Ziarah Waliyuallah, Kyai Ngalimuntoha Muhammad (Mohammad) Besari

Makam Kyai Muhammad (Mohammad) Besari, Nglames, Madiun


Bagiku yang setiap tahun mengunjungi Madiun karena Madiun adalah kota dimana ayahku berasal nama Kyai Besari tidak asing lagi. Karena ayahku berasal dari sebuah desa yang bernama Balerejo dan setiap kali perjalanan dari pusat kota Madiun menuju rumah kakek dan nenekku aku selalu bertemu Kyai Besari. Pertemuan itu bukanlah pertemuan fisik tetapi pertemuan dengan papan nama petunjuk yang tertulis makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari.   


Petunjuk makam Kyai Muhammad (Mohammad) Besari di pintu masuk makam

Berpuluh - puluh tahun itu, aku bertemu dan kemudian menikah dengan Muhammad Faisal yang merupakan keturunan dari Kyai Besari. Kemudian setelah perjalanan ini aku mengetahui sahabatku, Andini Kusuma Dewi, sahabatku sejak di bangku sekolah merupakan keturunan dari Kyai Besari. Inilah yang membawa kami menggali lebih dalam mengenai Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari, yang hanya berjarak 5 generasi dari generasi suamiku.

Penelusuran Kyai Ageng Mohammad (Muhammad) Besari membawa kami bertemu dengan ahli waris dari Kyai Besari yaitu Eyang Sri Koeswati, Jakarta yang dengan kehangatan kekeluargaan bersedia menerangkan kepada kami bagaimana rupa dari mbah canggah dan cerita mengenai Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari. Satu hal yang di wanti - wanti (diingatkan) oleh Eyang Sri Koeswati adalah mengenai perbedaan Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari dengan Kyai Anom Besari / Kyai Kasan Besari / Kyai Hasan Besari / Kyai Ageng Imam Besari.

Nisan Kyai Muhammad (Mohammad) Besari dan istri

Apabila kita mencari di dunia maya ini informasi terlihat serupa tetapi tidak sama karena adanya kesamaan nama Besari tetapi perbedaan tempat. Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari dimakamkan di Ngalames, Madiun, Jawa Timur dan Kyai Anom Besari / Kyai Kasan Besari / Kyai Hasan Besari / Kyai Ageng Imam Besari dari Tegal Sari, Ponorogo. Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari yang memiliki wajah seperti foto di bawah ini adalah Kyai Besari asal Nglames, Madiun yang memiliki ayah Kyai Burhan. Berikut gambar diri beliau, yang diambil oleh seorang administratur Pabrik Gula, dekat Nglames, Madiun :

Kyai Ageng Ngaimuntoha Muhammad (Mohammad) Besari


Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari asal Nglames, Madiun memiliki nama asli Kyai Ngalimuntoha. Nama Mohamad (Muhammad) Besari adalah pemberian guru beliau. Besari adalah versi jawa dari gelar Ba'syar berasal dari asal kata bahasa Persia (Iran). Kyai Besari adalah seseorang yang memiliki ilmu yang luar biasa, salah satunya yaitu hafal al-Quran dan ilmu Tasawuf. Salah satu cerita kehebatan Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari adalah beliau tidak memiliki sawah tetapi lumbung beliau selalu penuh karena pemberian masyarakat sekitar yang mendatangi beliau untuk meminta didoakan kepada Allah perihal kesembuhan dan kesuburan tanah pertanian mereka.


Berziarah ke makam penuh karamah Kyai Muhammad (Mohammad) Besari

Photo's are courtesy of @andhienidewi and PetiteNia_

Wisata Ziarah Waliyuallah Madiun : Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari

Cungkup dimana  Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari dan istri dimakamkan


Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari lahir tahun 1754 dan wafat tahun 1904. Dimakamkan di pemakaman keluarga yang dikelola oleh ahli waris beliau di Jalan raya Nglames, Madiun, Jawa Timur. Jarak perjalan  dari pusat kota adalah 30 menit. Ambil arah menuju Magetan (apabila melewati Pabrik Gula, lurus saja), makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari berada di kanan jalan dengan plang makam sebagai petunjuk jalan makam.

Nisan dari Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari


Letak makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari berada di belakang makam umum dan terletak di samping Mesjid. Makam yang terjaga keasrian dan ketenangannya serta berada di cungkup yang nyaman, membuat kusyuk doa - doa yang kita panjatkan. Di areal makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari terdapat keturunan beliau. Menurut Eyang Sri Koeswati Soegiarso, ahli waris makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari makam tersebut dipindahkan dari makam beliau ke Nglames, Jawa Timur dikarenakan tanah makam yang lama dijadikan tanggul bengawan Madiun.


Penanda pemndahan makam  Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari


Makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari yang didirikan diatas tanah hak milik Ir, Soegiarso Padmopranoto oleh kantor Agraria Kabupaten Madiun untuk difungsikan sebagai makam pengganti dengan seijin Bupati Madiun. Makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari di Nglames, Madiun merupakan makam keluarga yang dijaga oleh seorang juru kunci yang rumahnya berada tidak jauh dari makam. Makam Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari selalu dalam keadaan terkunci, apabila peziarah hendak berziarah dapat menghubungi juru kunci yaitu Ibu Gunadi di nomor +62 3517822140.

Makam keturunan  Kyai Ageng Mohamad (Muhammad) Besari

All photo's is courtesy of @andhienidewi

Wisata Ziarah Waliyuallah di Garut : Dakwah Islam Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) Melalui Kesenian Sunda

Garut terkenal dengan sebutan Swiss van Java karena hawa yang dingin,keadaan kota yang tenang dan indah seperti keadaan kota Switzerland di Eropa. Hawa kota Garut yang dingin dan sejuk dikarenakan merupkan daratan yang berada di cekungan antar gunung, yaitu komplek Gunung Guntur, Gunung Haruman dan Gunung Kamojang di sebelah barat. Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray di sebelah selatan tenggara. Gunung Cikuray, Gunung Talagabodas dan Gunung Galunggung di sebelah timur. Tidak hanya keadaan alam yang membuat Garut menjadi terkenal masyarakat Garut terkenal merupakan pemeluk agama Islam yang kuat dan taat.

Gerbang pemakaman Cinunuk tempat peristirahatan terakhir Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak)

Kedatangan saya ke Garut adalah dalam rangka bekerja. Tinggal di Garut selama empat hari, mengunjungi pusat keramaian (seperti Alun-alun kota Garut, Pasar Ceplak, Mall Garut), bertemu dan berdiskusi dengan masyarakat Garut membuatku semakin yakin bahwa suasana kebersamaan, rendah hati dan kesederhanaan adalah prinsip hidup masyarakat Garut. Ketika menginap di daerah Cipanas, lantunan ayat al Quran, shalawat dan tauziah terdengar jelas dan bergema di antara pegunungan membuat saya tak berhenti bersyukur kepada Allah atas nikmat pemandangan alam yang luar biasa dan karunia tinggal di daerah yang kental aura ke Islamannya. Lantunan al Quran dan shalawat menggunakan bahasa Arab yang beraksen Sunda dan ceramah menggunakan Bahasa Sunda. Kejadian seperti ini di Jakarta saat malam minggu sudah tidak pernah kudengar lagi. Agama Islam kemudian terasa seperti budaya Islam, menyatu dengan darah masyarakat Garut ini membuatku penasaran siapakah wali yang menyebarkan agama Islam pertama kali di Kota Garut ini.

Gerbang masuk menuju komplek makam Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) dan keluarga

Untuk menjawab pertanyaan ini kemudian Aji dan Zien, teman kami dari Garut mengajak kami berziarah ke seorang yang merupakan wali Allah di kota Garut menurut sejarah Islam Sunda yaitu Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak). Beliau dimakamkan di pemakaman Cinunuk, Wanaraja, Garut. Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) wafat a Senin malam tanggal 17 Safar tahun 1317 H, atau tahun 1819 M. Makam beliau tidak pernah sepi dikunjungi peziarah baik dari dalam kota maupun luar kota. Kebanyakan peziarah yang datang di makam Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) datang dalam rombongan kecil berbeda dengan peziarah yang datang ke makam walisongo di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang sering datang dalam rombongan besar. Menurut Aji teman saya yang asli Garut, kebanyakan peziarah Garut datang ke makam wali dalam rombongan kecil (4 sampai 8 orang) karena masing – masing mereka memiliki intepretasi akan ziarah wali yang berbeda di setiap kampung.

Apabila Sunan Ampel menyebarkan agama Islam dengan menciptakan lagu lir ilir, Sunan Bonang dengan gending, Sunan Kalijaga dengan mempopulerkan lagu tombo ati dan gending jawa maka wali Allah dari Garut yang saya ziarah ini yaitu Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) pun menggunakan pendekatan kesenian dalam menyebarkan dakwah Islam kepada masyarakat Garut. Ketertarikan Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) dalam menghaluskan rasa melalui kesenian tradisi melahirkan karya seni monumental, yaitu kesenian tradisional Boyongan. Terdapat beberapa jenis kesenian tradisi yang selalu dipagelarkan waktu itu, diantaranya: wayang golek, reog, pantun, wawacan (beluk), tembang, karinding, terbang, tari dan boboyongan.

Makam wali Allah di Garut, Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak)

Dalam pementasan semua kesenian itu senantiasa diselipkan ajaran Islam berupa petuah, suri tauladan, gambaran bagi orang-orang yang mau berbuat kebenaran, dan larangan-larangan bagi orang yang berbuat kezaliman. Kecintaannya dalam bidang ilmu pengetahuan melahirkan sebuah karya naskah sastra Sunda kuno berjudul Wawacan Jakah dan Wawacan Aki Ismun. Melalui dua media ini, Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) menyebarkan syiar Islam kepada masyarakat luas. Putra dari Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) bernama Raden Djajadiwangsa pada 1910 melanjutkan dakwah ayahnya dengan menciptakan kesenian Surak Ibra. Surak Ibra menjadi salah satu kesenian yang berasal dari jawa barat. Ketika menciptakan Surak Ibra, putra Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) yaitu, Raden Djajadiwangsa merupakan orang kuwu (kepala desa) di Kampung Sindangsari Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja Garut.

Kesenian tradisional Surak Ibra ciptaan putra dari Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) bernama Raden Djajadiwangsa ini dikenal juga dengan nama Boboyongan Eson. Pesan Surak Ibra pada awalnya adalah kesenian yang menyiratkan sindiran atau pernyataan ketidaksetujuan pada pemerintah Belanda kala itu. Dalam Surak Ibra ini juga terkandung suatu niat masyarakat Garut untuk memiliki pemerintah dan pemimpin sendiri dengan semangat bersatu antara pemerintah dan masyarakat. Digawangi oleh 40-100 pemain, Surak Ibra menampilkan pertunjukan dengan alat kesenian berupa kendang penca, angklung, dog-dog, kentungan, dan lain-lain.

Wisata Ziarah Waliyuallah Garut : Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak)

Gerbang menuju komplek pemakaman Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) dan keluarga

Wisata spiritual ziarah ke makam wali di kota Garut tidak akan lengkap tanpa mengunjungi makam Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak). Berada 2,5km dari alun - alun kecamatan Wanaraja, bersebelahan dengan kantor kepala Desa Cinunuk. Makam Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) dekat dengan pusat kota Garut sekitar 30 menit. 

Apabila dari Bandung jaraknya adalah 63 km. Ketika sampai ke Garut, untuk menuju makam Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) ambil jalan yang ke kiri terus menyusuri jalan Ahmad Yani lalu ambil jalan Karangpawitan lalu belok ke kiri menuju Wanaraja (apabila belok ke kanan menuju Makam Sunan Rahmat Suci, Kian Santang, Godog).

Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) adalah pembawa Islam di tanah Garut. Makamnya selalu ramai diziarahi, tercatat Megawati dan Gus Dur, keduanya adalah mantan Presiden Indonesia menziarahi Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak). 

Nama Pangeran Papak adalah sebutan untuk Raden Wangsa Muhammad yang dikenal oleh masyarakat Garut dan para peziarah lainnya. Sebelum masuk ke areal makam Cinunuk dimana makam Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) berada terdapat sumur tujuh Cinunuk. 

Mata air yang sangat segar ini dipercaya memiliki khasiat tertentu. Saat ini mata air tersebut telah dialirkan di keran sehingga peziarah muda untuk mandi atau sekedar wudhu sebelum masuk ke makam Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak). Peziarah meyakini bahwa mata air sumur tujuh Cinunuk sebagai air karamah.


Makam Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak), Cinunuk, Garut

Bagi masyarakat sekitar sebutan Pangeran Papak lebih popular dibandingkan nama asli beliau yaitu Raden Wangsa Muhammad. Sebutan Papak untuk Raden Wangsa Muhammad dikarenakan karena tangannya papak atau rata dijari tengah dan telunjuk. Sebutan ini dijelaskan oleh teman saya, Aji yang asgar atau asli garut. 

Dari share di kaskus dari seseorang dengan ID alidokat, Pangeran atau Kyai Papak selalu mengunakan kelebihannya, yaitu sama ratanya kedua jarinya untuk berdakwah. "Tiada perbedaan antara manusia di mata Allah melainkan hanya amal ibadahnya. Barang siapa diantara kalian menjalankan apa yang saya ajarkan tentang ilmu kesucian, ilmu kenabian, ilmu kerasulan dan ilmu kesucian maka kalian kelak akan disejajarkan dengan para kekasih Allah / aulia Allah / wali Allah." sambil Pangeran Papak menunjukkan kedua jarinya yang tidak pendek sebelah.

Dari www.dadiahmad.blogspot.com saya mendapatkan cerita yang berbeda mengenai nama Papak. Sebutan Papak bagi Raden Wangsa Muhammad karena sikap dan prinsip beliau. Raden Wangsa Muhammad memiliki prinsip tidak pernah membeda-bedakan derajat manusia berdasarkan ajaran agama Islam. Tidak ada perbedaan antara golongan ningrat dengan golongan cacah. 

Hal terpenting adalah berakhlakul karimah dan mempunyai niat suci. Atas inilah mendapat julukan Pangeran Papak. Sehingga Pangeran Papak diartikan seorang yang berbudi luhur dan tidak pernah membedakan harkat derajat manusia (papak= rata, sama). Anjuran Raden Wangsa Muhammad atau Pangeran Papak kepada masyarakat adalah agar hati selalu tentram : ulah ngingu kabingung, miara kasusah, sangkan aya dina kagumbiraan manah (agar hati selalu tetap gembira).

Wisata Ziarah Waliyuallah : Air Karamah Wali dalam kaitan Ritual Ziarah Wali Allah di Indonesia

Botol Air Mineral di Makam Habib Husein Al Idrus (Habib Luar Batang), Jakarta


Mempelajari Islam dengan menyusuri jejak dan pengalaman hidup para waliyuAllah membawaku menjelajah ke berbagai tempat di Indonesia. Hampir di seluruh daerah di Indonesia terdapat makam wali Allah karena posisi Indonesia sebagai pusat rempah - rempah pada zaman dahulu yang merupakan komoditi termahal pada masa itu. 

Indonesia juga merupakan kumpulan kerajaan besar yang berpengaruh luar biasa terhadap dunia yang pada kala itu telah melakukan hubungan Internasional dengan kegiatan ekspor impor. Karena kegiatan itulah banyak kapal Banyak para wali Allah yang datang dari Hadralmaut, Yaman ke menyebar ke seluruh Indonesia, mengajarkan Islam kepada masyarakat Indonesia, menikah dan berketurunan kemudian wafat di Indonesia.

Makam para waliyuAllah di seluruh Indonesia, tidak berhenti dikunjungi peziarah siang dan malam, tua dan muda baik dari daerah sekitar makam wali Allah maupun dari luar daerah bahkan dari luar Indonesia. 

Ziarah dan wali di dunia Islam tidak dapat dipisahkan dan dua hal tersebut dibuktikan oleh penelitian yang dikumpulkan pada buku Ziarah dan Wali di Dunia Islam oleh Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot. Pada buku ini diceritakan bagaimana hubungan kegiatan ziarah, peziarah, wali Allah dan Islam dengan melihat praktek ziarah di seluruh dunia. Mereka juga melakukan observasi terhadap detail kegiatan ziarah wali di seluruh dunia.

Peziarah membawa air galon di Makam Habib Jakfar Siddiq, 
Garut, Jawa Barat

Terinspirasi melihat lebih dan melihat detail tidak hanya dari sejarah, jejak perjuangan serta hasil karya dan ajaran hidup dari para Wali yang saya ziarahi, sayapun memperhatikan ritual para peziarah. Satu hal yang tampak sama disetiap makam Wali Allah yang saya ziarahi adalah mengenai air. 

Hubungan air dan waliyuallah dalam ritual ziarah nampak sangat erat sekali. Air disini terbagi dua yaitu air karamah dan air yang dibawa oleh peziarah.Kedua kategori air tersebut adalah kategori air yang saya buat berdasarkan pengamatan saya selama berziarah. 

Air karamah adalah air yang tersedia di makam waliyuallah, seperti contohnya di komplek makam di Masjid Agung Demak, di makam para walisongo dan di makam Habib Ahmad bin Alwi Al-Hadad (Habib Kuncung).

Asal air karamahpun tidak terdapat sejarah yang jelas. Tetapi para peziarah dan sayapun sangat mempercayai bahwa air merupakan karamah dari para waliyuAllah dan memiliki khasiat sesuai dengan kebutuhan badan kita. Rasa dari air karamahpun bermacam-macam ada yang terasa asin dan terasa biasa saja seperti air mineral pada umumnya. 

Tetapi bagi orang tertentu bisa merasakan air karamah tersebut terasa seperti air zam zam. Rasa asin atau rasa tawar tidak ditentukan oleh lokasi. Karena ketika saya berziarah makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad (Mbah Priok) yang terletak di pinggir laut yaitu Tanjung Priok, Ancol, Jakarta Utara rasa air tersebut tawar sedangkan ketika saya berziarah ke makam Syeh Quro di Pulo Kelapa, Kerawang, Jawa Barat yang terletak di tengah sawah rasa air karamah sangat asin.

Tempat meminum air karamah di Makam Habib Hasan 
bin Muhammad Al Hadad (Mbah Priok, Jakarta)

Terhadap air karamah yang terdapat di makam wali dimanfaatkan dengan cara yang berbeda beda. Ada peziarah yang minum langsung di tempat, ada yang minum dan membawa pulang serta dengan dimasukkan ke dalam botol atau jerigen besar. Terdapat pula peziarah yang hanya sekedar wudhu atau membasuh muka dengan air karamah tersebut. 

Ketika saya berziarah ke makam wali Allah, Sunan Kudus (Sunan Djakfar Sodiq), Kudus, Jawa Tengah terdapat kamar mandi yang memungkinkan peziarah dapat mandi dengan air karamah yang terdapat disana. 

Apabila di makam wali Allah, Sunan Kudus (Sunan Djakfar Shodiq) peziarah mandi dengan menggunakan gayung, di Batu Quran, Pandegelang, Jawa Barat, peziarah dapat berendam karena air karomah telah sedemikian banyak membentuk kolam pemandian.


Meminum air karamah langsung dari tempat air karamah 
di Makam Sunan Drajad, Tuban, Jawa Timur

Kategori kedua adalah air yang dibawa sendiri oleh para peziarah. Biasanya mereka membawa sebotol atau beberapa botol air mineral lalu tutup air mineral tersebut dibuka dan ditaruh di depan mereka atau didekat makam sang Wali. Selama peziarah berdoa, tutup botol air mineral tersebut dibiarkan terbuka. 

Kemudian ketika mereka selesai berziarah kebanyakan dari mereka tidak langsung meminum atau menggunakan air tersebut. Air doa begitu biasanya peziarah menyebutkan air mineral yang sudah didoakan di makam wali Allah, dibawa pulang. Peziarah dan sayapun percaya air tersebut merupakan air yang berkhasiat yang berkaramah dan didoakan oleh wali yang telah kita ziarahi.

Botol air mineral diletakkan di atas makam Habib Abdullah 
bin Mukhsin (Habib Empang), Bogor, Jawa Barat

Ritual meminum air karamah atau membawa botol air mineral tidak terdapat di dalam tata cara ziarah kubur. Tetapi ritual peziarah ini ditemui di hampir setiap tempat yang saya ziarahi. Sayapun percaya akan khasiat air karamah tersebut. 

Entah siapa yang memulai atau siapa yang mengajari ritual mengambil berkah dari air karamah ini tetapi bagi saya pribadi, sering saya memberi oleh - oleh keluarga atau teman saya dengan air doa sepulang saya ziarah wali.