Wisata Ziarah Waliyuallah : Air Karamah Wali dalam kaitan Ritual Ziarah Wali Allah di Indonesia

Botol Air Mineral di Makam Habib Husein Al Idrus (Habib Luar Batang), Jakarta


Mempelajari Islam dengan menyusuri jejak dan pengalaman hidup para waliyuAllah membawaku menjelajah ke berbagai tempat di Indonesia. Hampir di seluruh daerah di Indonesia terdapat makam wali Allah karena posisi Indonesia sebagai pusat rempah - rempah pada zaman dahulu yang merupakan komoditi termahal pada masa itu. 

Indonesia juga merupakan kumpulan kerajaan besar yang berpengaruh luar biasa terhadap dunia yang pada kala itu telah melakukan hubungan Internasional dengan kegiatan ekspor impor. Karena kegiatan itulah banyak kapal Banyak para wali Allah yang datang dari Hadralmaut, Yaman ke menyebar ke seluruh Indonesia, mengajarkan Islam kepada masyarakat Indonesia, menikah dan berketurunan kemudian wafat di Indonesia.

Makam para waliyuAllah di seluruh Indonesia, tidak berhenti dikunjungi peziarah siang dan malam, tua dan muda baik dari daerah sekitar makam wali Allah maupun dari luar daerah bahkan dari luar Indonesia. 

Ziarah dan wali di dunia Islam tidak dapat dipisahkan dan dua hal tersebut dibuktikan oleh penelitian yang dikumpulkan pada buku Ziarah dan Wali di Dunia Islam oleh Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot. Pada buku ini diceritakan bagaimana hubungan kegiatan ziarah, peziarah, wali Allah dan Islam dengan melihat praktek ziarah di seluruh dunia. Mereka juga melakukan observasi terhadap detail kegiatan ziarah wali di seluruh dunia.

Peziarah membawa air galon di Makam Habib Jakfar Siddiq, 
Garut, Jawa Barat

Terinspirasi melihat lebih dan melihat detail tidak hanya dari sejarah, jejak perjuangan serta hasil karya dan ajaran hidup dari para Wali yang saya ziarahi, sayapun memperhatikan ritual para peziarah. Satu hal yang tampak sama disetiap makam Wali Allah yang saya ziarahi adalah mengenai air. 

Hubungan air dan waliyuallah dalam ritual ziarah nampak sangat erat sekali. Air disini terbagi dua yaitu air karamah dan air yang dibawa oleh peziarah.Kedua kategori air tersebut adalah kategori air yang saya buat berdasarkan pengamatan saya selama berziarah. 

Air karamah adalah air yang tersedia di makam waliyuallah, seperti contohnya di komplek makam di Masjid Agung Demak, di makam para walisongo dan di makam Habib Ahmad bin Alwi Al-Hadad (Habib Kuncung).

Asal air karamahpun tidak terdapat sejarah yang jelas. Tetapi para peziarah dan sayapun sangat mempercayai bahwa air merupakan karamah dari para waliyuAllah dan memiliki khasiat sesuai dengan kebutuhan badan kita. Rasa dari air karamahpun bermacam-macam ada yang terasa asin dan terasa biasa saja seperti air mineral pada umumnya. 

Tetapi bagi orang tertentu bisa merasakan air karamah tersebut terasa seperti air zam zam. Rasa asin atau rasa tawar tidak ditentukan oleh lokasi. Karena ketika saya berziarah makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad (Mbah Priok) yang terletak di pinggir laut yaitu Tanjung Priok, Ancol, Jakarta Utara rasa air tersebut tawar sedangkan ketika saya berziarah ke makam Syeh Quro di Pulo Kelapa, Kerawang, Jawa Barat yang terletak di tengah sawah rasa air karamah sangat asin.

Tempat meminum air karamah di Makam Habib Hasan 
bin Muhammad Al Hadad (Mbah Priok, Jakarta)

Terhadap air karamah yang terdapat di makam wali dimanfaatkan dengan cara yang berbeda beda. Ada peziarah yang minum langsung di tempat, ada yang minum dan membawa pulang serta dengan dimasukkan ke dalam botol atau jerigen besar. Terdapat pula peziarah yang hanya sekedar wudhu atau membasuh muka dengan air karamah tersebut. 

Ketika saya berziarah ke makam wali Allah, Sunan Kudus (Sunan Djakfar Sodiq), Kudus, Jawa Tengah terdapat kamar mandi yang memungkinkan peziarah dapat mandi dengan air karamah yang terdapat disana. 

Apabila di makam wali Allah, Sunan Kudus (Sunan Djakfar Shodiq) peziarah mandi dengan menggunakan gayung, di Batu Quran, Pandegelang, Jawa Barat, peziarah dapat berendam karena air karomah telah sedemikian banyak membentuk kolam pemandian.


Meminum air karamah langsung dari tempat air karamah 
di Makam Sunan Drajad, Tuban, Jawa Timur

Kategori kedua adalah air yang dibawa sendiri oleh para peziarah. Biasanya mereka membawa sebotol atau beberapa botol air mineral lalu tutup air mineral tersebut dibuka dan ditaruh di depan mereka atau didekat makam sang Wali. Selama peziarah berdoa, tutup botol air mineral tersebut dibiarkan terbuka. 

Kemudian ketika mereka selesai berziarah kebanyakan dari mereka tidak langsung meminum atau menggunakan air tersebut. Air doa begitu biasanya peziarah menyebutkan air mineral yang sudah didoakan di makam wali Allah, dibawa pulang. Peziarah dan sayapun percaya air tersebut merupakan air yang berkhasiat yang berkaramah dan didoakan oleh wali yang telah kita ziarahi.

Botol air mineral diletakkan di atas makam Habib Abdullah 
bin Mukhsin (Habib Empang), Bogor, Jawa Barat

Ritual meminum air karamah atau membawa botol air mineral tidak terdapat di dalam tata cara ziarah kubur. Tetapi ritual peziarah ini ditemui di hampir setiap tempat yang saya ziarahi. Sayapun percaya akan khasiat air karamah tersebut. 

Entah siapa yang memulai atau siapa yang mengajari ritual mengambil berkah dari air karamah ini tetapi bagi saya pribadi, sering saya memberi oleh - oleh keluarga atau teman saya dengan air doa sepulang saya ziarah wali.

No comments:

Post a Comment