Keajaiban di Balik Nama Habib Neon pada Habib Muhammad bin Husein Alydrus (Edisi Wisata Hati dan Jiwa Surabaya Ziarah Makam Wali Habib Neon)

Pesarean Habib Muhammad bin Husein Alydrus

Salah satu penyebab sering tertukarnya informasi dimana Habib Muhammad bin Husein Alydrus dimakamkan adalah kesamaan nama depan dengan salah satu wali Allah yang juga dimakamkan di area Ampel, Surabaya yaitu Habib Muhammad Al Muhdhor. 

Apabila bertanya dengan masyarakat sekitar Ampel dan menyebutkan nama Habib Muhammad bin Husein Alydrus maka akan ditunjukkan ke makam Habib Muhammad Al Muhdhor.  

Lain cerita bila bertanya dengan menyebutkan nama Habib Neon, masyarakat sekitar Ampel akan memberitahu lokasi TPU Pegirian. Terdapat kisah dibalik predikat nama Habib Neon bagi Habib Muhammad bin Husein Alydrus sehingga masyarakat sekitar mengenal Beliau dengan sebutan Habib Neon. 

Kisah tersebut berkembang dari sekitar kampung Arab di Surabaya, seperti Nyamplungan, Pegirian, Ampel, dan Panggung hingga nusantara dan mancanegara. Di mancanegara dikenal dengan The Habib Who Glow in The Dark.

Foto Habib Muhammad bin Husein Alydrus

Dikisahkan, Habib Muhammad bin Husein Alaydrus menghadiri majelis taklim di sebuah masjid di Surabaya. Sesaat sebelum kedatangan beliau, listrik di tempat pengajian tersebut padam. Ketika itulah dari kejauhan tampak seseorang berjalan menuju masjid. Ia mengenakan gamis dan sorban putih, berselempang kain rida warna hijau. 

Dia adalah Habib Muhammad bin Husein bin Zainal Abidin bin Ahmad Alaydrus. Begitu masuk ke dalam, masjid terang benderang seolah ada lampu neon yang menyala. Padahal, Habib Muhammad bin Husein Alaydrus tidak membawa obor atau lampu. Asal dari cahaya terang benderang tersebut adalah dari tubuh sang habib. Atas peristiwa tersebut maka, masyarakat mengenal Habib Muhammad bin Husein Alaydrus dengan identitas baru yaitu Habib Neon. 

Habib Muhammad bin Husein Alydrus adalah seorang ulama yang menjadi penerang umat di zamannya karena cahaya keilmuan dan ahlaqnya. Pada awalnya, beliau berdakwah dari kampung ke kampung kemudian mendirikan majelis burdah, majelis yang mengaji kitab-kitab burdah. 

Awalnya majelis itu hanya diikuti oleh 4-5 orang kemudian berkembang hingga ribuan orang. Setelah beliau wafat pada 30 Jumadil Awwal 1389 H / 22 Juni 1969 M dalam usia 71 tahun, aktivitas dakwahnya dilanjutkan oleh putranya yang ketiga, Habib Syekh bin Muhammad Alaydrus dengan membuka Majelis Burdah setiap Kamis malam di Ketapang Kecil 1 no. 6, Surabaya. 

TPU Jannatul Arab (Pegirian), Surabaya
Makam Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon)

Majelis yang dirintis oleh Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) mempertahankan ritual pembacaan Burdah setiap malam jumat, yang dipimpin lansung oleh Habib Syekh bin Muhammad Alaydrus. Qasidah Burdah sangat digemari masyarakat Jawa. 

Biasanya mereka membaca syair-syair indah karya Imam Busyiri itu pada malam Jumat. Maulid Burdah adalah karya Abu Abdillah Syarafuddin Abi Abdillah Muhammad bin Khammad Ad-Dalashi as-Syadzili al-Bushiri. Secara harfiah burdah memang bermakna kain yang hitam pekat untuk selendang. 

Menurut riwayat, pada zaman dahulu ada tokoh yang bernama Ka’ab bin Zuhair. Penyair ini semula non-muslim dan tergolong sebagai seorang yang paling radikal menentang dakwah Rasulullah. Setelah sadar, ia kemudian masuk Islam. Untuk itu, konon, Nabi memberinya cendera mata berupa selendang berwarna hitam (burdah). Dan kisah Ka’ab bib Zuhair inilah yang mengilhami Al-Bushiri untuk gubahan judul sajak-sajaknya.

Apabila hendak berziarah ke makam wali Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) Surabaya, maka pergilah ke kawasan Ampel, Surabaya. Lokasi makam Habib Muhammad Husein Alaydrus (Habib Neon) adalah di TPU Jannatul Arab (makam Pegirian) di Jalan Sidorame, Surabaya, Jawa Timur. Letak persisnya adalah di sebelah kiri jalan berseberangan dengan toko besi beton Karya bakti.

No comments:

Post a Comment