Sejarah, Asal Nama dan Titik Awal Perkembangan Kota Pekanbaru (Ziarah Waliyuallah Pekanbaru)


Suasana kota Pekanbaru yang tertata rapi, modern,
diwarnai budaya Melayu dan Islam
Suami saya, Faisal menebak bahwa arti kata Pekanbaru adalah minggu yang baru ketika kami menginjakkan kaki pertama kali di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Perjalanan ini dimulai dari pukul 4.30 pagi dari rumah menuju bandara Soekarno Hatta dengan pesawat Lion air pukul 6.15 pagi. Bagi suamiku, ini adalah kali kedua beliau mengunjungi tanah Sumatra sedangkan bagi anakku, Ali ini adalah kali pertama. Bagi keluarga kami, perjalanan mengunjungi Pekanbaru adalah anugrah yang kami percayai sebagai rangkaian perjalanan ziarah wali Nusantara. Karena saya dan suami diberikan amanat yaitu, anak kami Ali Putra Kaabah sepulang berziarah ke Pulau Penyengat, Kepulauan Riau dalam bulan madu kami 4 tahun yang lalu. Analisis suamiku mengenai arti kata Pekanbaru terus bergulir sambil kami menunggu bagasi.


Pintu Masuk Menuju Mesjid Raya Senapelan dan Komplek Makam Marhum Pekan

Pekanbaru adalah ibukota provinsi dari Riau daratan. Setelah bertemu dengan Pak Nafrizal, penduduk asli Riau yang menjadi supir selama perjalanan ziarah di Pekanbaru ini, terjawablah bahwa asal nama Pekanbaru bukanlah berasal dari minggu yang baru. Asal nama Pekanbaru adalah Pekan yang berarti pasar dalam bahasa Melayu, jelas Pak Nafrizal sambil membawa kami ke Pasar Bawah, sebagai titik nol awal perkembangan kota Pekanbaru. Bangunan Pasar Bawah seperti halnya pasar tradisional lainnya dan aktivitasnya sama seperti pasar tempat jual beli. Tetapi dilihat dari nilai sejarahnya, pasar bawah ini adalah pasar yang didirikan oleh waliyuallah, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah yang menjadi cikal bakal kota Pekanbaru.

Pasar Bawah, cikal bakal kota Pekanbaru Peninggalan wali Allah, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah 

Pasar Bawah terletak di daerah Senapelan (dekat sekali dengan jalan Jendral Sudirman, 15 Menit bila menggunakan kendaraan pribadi). Menurut Anas Aismana di Sejarah dan Budaya Asli Pekanbaru karya Anas (www.sungaikuantan.com), Dusun Senapelan dahulu hanyalah dusun kecil di Kuala Sungai Pelan. Berkat wali Allah, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah lah dusun Senapelan berkembang pesat. Jasa waliyuallah, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah yang merupakan raja Siak Sri Indrapura ke 4 ini adalah membangun istana di Kampung Bukit (lokasi di sekitar Mesjid Raja Pekanbaru), membangun mesjid dan membangun pasar (pekan).

Mimbar di dalam Mesjid Raya Senapelan

Istana dan mesjid sudah tidak tampak bekasnya tetapi pasar (pekan) masih berdiri tegak hingga sekarang dan dikenal dengan pasar bawah. Usaha pasar (pekan)  Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, waliyuallah dari Pekanbaru, dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali yang dibantu oleh keponakannya Said Ali, anak dari Said Usman. Atas usaha Raja Muda Muhammad Ali, pasar yang dibuka sekali sepekan dan dusun Senapelan berkembang pesat. Bahkan orang lebih mengenal Pekanbaru dibanding Senapelan. Pekan berarti pasar sekali sepekan dan baru karena baru dibangun saat itu. Selanjutnya pada 21 Rjab 1204H atau 23 Juni 1784 M atas musyawarah datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), nama negeri Senapelan diganti menjadi Pekan Baharu.

Komplek Makam Marhum Pekan tempat pendiri kota Pekanbaru dimakamkan

Ketika ingin mengetahui mengenai sejarah, asal nama dan titik awal perkembangan kota Pekanbaru, mulailah dari daerah Senapelan. Daerah di tepi Sungai Siak yang pada awal abad ke 18 ini merupakan pasar (pekan) yang penting artinya dalam distribusi hasil bumi dari pedalaman dan dataran tinggi Minangkabau (Padang) ke wilayah pesisir Selat Malaka. Sholat di Mesjid Raya Senapelan dan berziarah ke pendiri kota Pekan Baru, wali Allah Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah dan putranya Raja Muda Muhammad Ali beserta keluarganya di Komplek Makam Marhum Pekan.

Mesjid Raya Senapelan dilihat dari Komplek Makam Marhum Pekan

No comments:

Post a Comment