Menyusuri Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) Peninggalan Syech Abdul Muhyi (edisi Wisata Ziarah Tasikmalaya)

Gapura di Mulut Goa Safarwadi (Goa Pamijahan)
Tanggal 28 Agustus 2012 adalah pengalaman pertama saya, suami dan tentunya my 3,5 years old boy, Mas Ali memasuki, mendaki dan menyusuri goa. Pengalaman  caving pertama ini adalah rangakaian perjalanan ziarah kami ke Syech Abdul Muhyi, Tasikmalaya, Jawa Barat. Setelah melaksanakan sholat Magrib berjamaah di Masjid sebelum memasuki Goa Safarwadi (Goa Pamijahan). Pak Totoy adalah pemandu kami yang menawarkan jasanya ketika kami selesai berziarah di Makam Syech Abdul Muhyi.  Ketika kami menyetujui untuk ditemani Pak Totoy, kami menaruh tas dirumah beliau dan beliau menyiapkan lampu petromaks untuk menerangi perjalanan kami masuk ke dalam goa.

My little Alimelihat Pak Totoy Menyalakan Petromak
sebelum masuk ke dalam Goa Safarwadi (Goa Pamijahan)

Tidak ada gambaran sama sekali bagaimana memasuki dan meyusuri goa apalagi persiapan khusus untuk caving. Niat untuk memasuki Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) adalah ingin merasakan bagaimana Syech Abdul Muhyi melakukan iktikaf dan bertafakur kepada Allah. Hal yang paling penting untuk memasuki goa adalah alas kaki. Pengalaman berharga ini kami pelajari karena suami saya, Mas Faisal mengunakan sandal beralas licin. Sehingga untuk dapat meneruskan perjalanan, ia harus bertukar sandal dengan Pak Totoy, pemandu kami. Sandal gunung adalah alas kaki yang paling pas dalam memasuki Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) karena jalan di Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) berbatu, licin dan berair. Gelap, pengap dan jalan yang berbatu membuat kita tidak boleh lengah dan kehilangan konsentrasi dalam memasuki Goa Safarwadi (Goa Pamijahan). Lantunan sholawat terus dikumandangkan oleh pemandu kami, Pak Totoy dan kamipun mengikuti di belakang. Cahaya lampu petromak hanya mampu menyinari dua orang dibelakang, sehingga apabila masuk rombongan harus membawa senter sendiri

Jalan di dalam Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) yang berbatu

Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) merupakan napak tilas perjalanan Syech Abdul Muhyi. Kita akan ditunjukkan dimana tempat beliau bertafakur, beliau rapat dengan para waliyuallah lain, dapur, mimbar dan jalan menuju berbagai tempat, menuju Cirebon, tempat Syech Maulana Mansyur, Surabaya dan menuju Mekah. Tak bisa dibayangkan bagaimana keadaan Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) pada jaman Syech Abdul Muhyi masih hidup ( 1690 - 1730), dimana dijadikan tempat pemukiman bagi keluarga dan pengikutnya, tempat beliau memberikan pengajian agama dan mendidik kader - kader dakwah Islam. Bagi saya, perjalanan menyusuri Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) mengingatkan akan perjuangan Sayyidah Khadijah, istri Rasulullah, Muhammad SAW. Dimana Sayyidah Khadijah harus naik turun Goa Hira untuk mengantarkan makanan bagi suaminya dengan penuh keikhlasan dan kebahagiaan.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment